Maaf, Aku Tak Sanggup

Sembilan tahun yang lalu, masih teringat olehku, saat kau ucapkan ijab kabul dihadapan penghulu, orang tuaku, dan beberapa tamu yang had...

Sembilan tahun yang lalu, masih teringat olehku, saat kau ucapkan ijab kabul dihadapan penghulu, orang tuaku, dan beberapa tamu yang hadir. Rasanya saat itu sulit bagiku untuk tidak meneteskan air mata. Bahagia dan haru berbaur menjadi satu karena hari itu aku sah menjadi istrimu. Binar-binar kebahagiaan memantul dari matamu dan juga aku. Ya, satu hari menjadi hari kita dan hari-hari lainnya akan kita jalani bersama mengarungi sebuah bahtera yang dinamakan rumah tangga. Mudah-mudahan kita bisa menjalaninya dan melalui liku-liku kehidupan rumah tangga tanpa terjerembab jatuh kedalam lubang yang dalam dan sulit untuk berdiri kembali.

Hari ini saat usia pernikahan kita sudah mencapai angka sembilan tahun. Kau membuat suatu kejutan yang selama ini tak pernah aku duga walaupun sebelumnya masalah ini sempat kita perbincangkan dalam suasana yang santai. Tapi kini sepertinya kau benar-benar serius. Setelah kau memulainya dengan kata pembuka yang penuh basa basi, akhirnya kau ungkapkan kata inti yang ingin kau sampaikan kepadaku, ”Dek, aku ingin menikah lagi.” Katamu yang membuat hatiku berdesir hebat. Bom waktu yang selama ini kau simpan akhirnya meledak juga. Aku yang selama ini selalu mengatakan bersedia jika kau melakukan poligami ternyata tak mampu berkata apa-apa. Ini sebuah keputusan dan aku sadar hal ini memang wajar jika terjadi dan sah-sah saja apabila seorang suami ingin melakukan pernikahan untuk kedua kalinya bahkan ketiga kalinya sekalipun. Aku hanya mampu menatapmu, mataku mulai berkaca-kaca. Ya, inilah perjuangan seorang istri untuk mendapatkan salah satu janji dariNya, yaitu sebuah surga. Berat, sungguh berat. Aku mengangguk perlahan,”Silakan, Bang. Aku izinkan.” kataku dengan mengorbankan segenap perasaan yang hancur lebur, aku mencoba untuk tetap tegar dihadapanmu. Dan aku harus siap untuk berbagi cintamu dengan perempuan lain yang akan menjadi istri keduamu.

Satu bulan sudah sejak pernikahan keduamu. Dulu, yang aku kira akan kuat untuk berbagi cintamu dengan perempuan lain ternyata sulit aku jalani. Hatiku teriris, rasa cemburu selalu menggelayuti hari-hariku saat kau berada di istrimu yang kedua. Pedih rasanya hati ini. Dan aku tak sanggup menjalani hidup seperti ini. Aku berhak untuk menikmati hidup ini dengan tenang bersama anak-anak dan aku juga berhak untuk mendapatkan satu cinta tanpa harus berbagi dengan perempuan lain. Silakan kau teruskan hidupmu dengan istri barumu dan izinkan aku untuk melanjutkan hidup ini tanpa cintamu. Biarkan aku mencari surgaku dengan cara yang lain. Dengan berat hati aku katakan padamu, ”Maaf aku tak sanggup untuk berbagi.”

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images