IKHLAS

Bukan inginku juga bukan niatku. Aku menatap lelaki dihadapanku, kami duduk berhadapan. Tanpa kata dan isyarat diantara kami. Aku terdiam ...

Bukan inginku juga bukan niatku. Aku menatap lelaki dihadapanku, kami duduk berhadapan. Tanpa kata dan isyarat diantara kami. Aku terdiam setelah lelaki itu menyatakan sesuatu yang membuat aku bungkam. Lelaki itu seperti menunggu jawaban yang tak kunjung keluar dari mulutku yang tertutup rapat, membisu. Entah, aku tak tahu apa yang harus aku utarakan untuk memberikan jawaban yang membuat lelaki dihadapanku ini tersenyum puas. "Wahai, lelaki dihadapanku...Bukan aku tak cinta padamu jika aku sulit memberikan jawaban secepatnya untukmu tapi ada beribu alasan mengapa aku harus berpikir berjuta kali untuk memberikan jawaban yang membuat hatimu tersenyum. Seandainya kau tahu, akupun mencintaimu dan ingin menjadi milikmu...." Kata-kata itu hanya mampu aku rangkai dalam hati. Sulit, sulit rasanya. Perasaan dilema menghantuiku. Maafkan aku lelakiku.

Lelaki itu datang kembali. Dia datang dengan tujuan yang sama, menanti jawabanku. Aku masih tetap dengan kebisuanku. Bukannya aku tak memiliki jawaban tapi aku takut ada seseorang yang tersakiti jika aku bersedia dengan pernyataan yang dia ajukan namun jika aku menolaknya maka aku dan dia yang merasa tersakiti. Lelaki itu pergi dengan tangan kosong. Dia berharap kali ini akan mendapatkan jawaban dariku tapi kenyataannya jawaban itu tak juga ia peroleh.

Lelaki itu bersimpuh dihadapanku. Dia merasa cara itu bisa lebih meyakinkanku untuk bisa menerimanya. Tapi tidak, aku semakin merasa bersalah. Ada seseorang yang sangat menanti cinta lelaki ini, bukan aku. "Aku tahu, kamu sudah memiliki jawaban untukku tapi sulit kamu ungkapakan. Sesungguhnya cinta diantara kita bukan suatu perbuatan yang dosa jika kita menjalaninya dijalan yang benar. Menikahlah denganku, perempuanku." Oh, lelaki itu mempermainkan perasaanku lagi yang membuatku ingin mengatakan ya. Aku bersikukuh dengan kebisuanku. Biarkan cintaku ini aku simpan untukmu, biarkan aku bermain dengan cinta yang kau miliki untukku dalam bayang semu. Itu cukup membuat hatiku terhibur, agar tak ada seseorang bahkan beberapa orang yang merasa dikhianati.

Seseorang datang menemuiku, bukan lelaki itu. Aku terhenyak, kaget dan makin membisu. Seseorang itu adalah seorang wanita. Entah apa tujuan wanita itu menemuiku. "Aku adalah istri lelaki yang sering datang menemuimu." Wanita itu memperkenalkan dirinya. Oh, inilah babak yang aku takuti, dilabrak istri lelaki itu. Aku siap dengan caci maki dan hujatan-hujatan yang akan dia lontarkan untukku. Karena aku tahu ini pasti akan terjadi. Wanita itu tersenyum, tak ada kebencian yang dia perlihatkan untukku. Aku heran, apakah ini cara dia menjatuhkanku? Wanita itu menggenggam jemari tanganku dan berkata, "Demi aku yang akan menjadi sahabatmu, maukah kamu menerima pinangan ini untuk suamiku. Menikahlah dengannya. Aku ikhlas." Deg.....Jantung ini terasa berhenti sejenak. Siapakah wanita dihadapanku ini, begitu mulia hati yang dia miliki........Dia meminangku untuk suaminya, lelaki itu. Seandainya aku bisa seikhlas wanita ini.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images