KEPULANGANKU

"Akhirnya tiba juga aku di Indonesia." Aku berujar lirih. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, di depan pintu banyak sekali orang-o...

"Akhirnya tiba juga aku di Indonesia." Aku berujar lirih. Aku melihat ke kiri dan ke kanan, di depan pintu banyak sekali orang-orang yang menunggu kedatangan kerabatnya. Lambaian tangan, senyuman dan pelukan para kerabat menyambut mereka yang baru berdatangan tapi tak ada satupun yang menyambutku dan yang aku kenal. Aku tak peduli, memang aku sengaja tak memberitahu pada suami, anak dan keluargaku tentang kedatanganku ini. Aku berjalan menyusuri jalan bandara, tas besar yang kupegang di tangan kanan dan kiriku memberatkan langkahku. Aku terus melanjutkan langkahku sampai kutemui taksi untuk membawaku ke terminal bis yang akan menuju kampungku. Hmm, udara cukup panas. Keringat terus bercucuran di pelipisku, kerudung yang menempel seadanya di kepalaku sudah tak beraturan, kepalaku terasa berat, rasa mual pun menambah penderitaanku saat itu. Seandainya aku beritakan tentang kepulanganku, pasti aku tidak akan payah ssendirian seperti ini. Tapi tidak, aku tidak akan memberitahukan kepulanganku ini, karena memang tidak seharusnya aku pulang. Sebenarnya masih ada kontrak dua tahun lagi bagiku untuk bekerja di negeri orang,namun karena sesuatu hal terpaksa aku dipulangkan.
Aku terkejut, suara klakson bis dibelakangku menyadarkanku. Pikiranku yang entah kemana tiba-tiba kembali berada dalam sebuah kenyataan. Di terminal bis antar kota,masih dengan kesendirianku. Aku langsung menaiki bis yang akan menuju ke kampungku. Bis itu masih terlihat kosong, aku memilih kursi dimanapun aku suka. Sepanjang perjalanan dalam bis, aku terus merenung. Aku sedang menata berbagai macam alasan murahan yang akan aku sampaikan untuk suamiku, Kang Supri. Entah bagaimana reaksi Kang Supri jika dia tahu sebab kepulanganku dan keadaanku saat ini. Aku meraba perutku. Uhh, rasanya ingin kutinju keras perut ini agar semua permasalahan selesai dan aku pulang tanpa menanggung beban yang berat.
Tiga tahun yang lalu saat seorang teman menawarkanku untuk bekerja di negeri orang. Semula aku sempat ragu dengan tawaran itu tapi Kang Supri meyakinkanku kalau memang itu yang aku mau dia akan mengizinkannya. Berat rasanya untuk mengambil keputusan untuk bekerja di negeri yang sama sekali belum aku ketahui. Jauh dari suami, anak dan keluarga besar. Dengan harapan bisa memperbaiki taraf hidup keluarga, akhirnya aku berangkat juga untuk bekerja di luar negeri dan gelar TKW pun melekat pada diriku.
Tiga tahun bekerja di negeri orang tidak merasakan kesulitan bagiku karena aku beruntung majikan perempuanku sama-sama berasal dari Indonesia sedangkan suaminya warga negara asing. Akupun tidak pernah diperlakukan kasar oleh majikanku, semua baik-baik saja. Tidak seperti yang diceritakan diluar sana tentang kekejaman majikan kepada pembantunya. Kebanyakan dari mereka pulang ke tanah air dengan wajah babak belur bahkan hanya tinggal nama. Tapi tidak denganku, wajahku masih mulus dan aku pun masih bernyawa. Tapi karena kebodohanku lah aku dipulangkan. Majikanku menyuruhku untuk segera pulang ke Indonesia. Karena dia tahu dengan kondisiku jika aku tidak segera pulang lambat laun aparat negara akan mengetahuinya dan kemungkinan besar aku akan kena hukuman rajam. "Bodoh...."rutukku dalam hati. "Kenapa pula aku teramakan oleh rayuan lelaki berhidung besar itu sampai-sampai aku melupakan Kang Supri yang setia menungguku di kampung." Aku menyesal. Tapi apalah gunanya jika semua sudah terjadi. Sekarang saatnya aku bersikap satria untuk mengakui segala kesalahan dan perbuatanku kepada Kang Supri. Aku siap apapun keputusan yang akan diambil oleh Kan Supri. Oh, lagi-lagi wajah Kang Supri yang polos mengganggu pikiranku, perasaan bersalah semakin menjadi. Perjalananku masih jauh, aku pun tertidur dengan setumpuk penyesalan dan alasan yang akan aku sampaikan untuk Kang Supri.
Aku berdiri di pintu rumahku, saat itu sudah pukul 8 malam. Keadaan kampung sudah sepi. Orang-orang memilih untuk tidur karena besok pagi-pagi sekali mereka harus kembali ke sawah. Aku ragu untuk mengetuk pintu, tak ada suara dari dalam rumah. Anak kami satu-satunya tinggal bersama neneknya di kampung sebelah. Mungkin Kang Supri sudah tidur, begitu pikirku. Tapi apa boleh buat, aku harus tetap mengetuk pintu dan membangunkan Kang Supri untuk dapat masuk ke rumah ini. "Tok...Tok.....Assalamualaikum." Aku mengintip ke jendela, ada sedikit celah untuk aku bisa melihat keadaan didalam. Suara seret kaki berjalan ke arah pintu. "Waalaikum salam...."sambut suara dari dalam. Tak lama pintu pun terbuka, "Di-jah?" Suara Kang Supri tersendat menyebut namaku. Aku tahu Kang Supri pasti akan terkejut dengan kedatanganku. "Kang...." Aku hendak mengambil tangannya untuk kusalami, tapi "Siapa, Kang?" Suara dibelakang Kang Supri mengejutkanku, aku menoleh ke arah suara itu. Seorang perempuan dengan busana siap untuk tidur berdiri tak jauh di belakang Kang Supri. Pandanganku beralih kepada Kang Supri dengan mimik penuh tanda tanya. Siapa wanita ini? Wajah polos Kang Supri berubah menjadi gugup. Aku bisa menebak apa yang sedang terjadi. Dan apa yang diperbuat Kang Supri saat aku tak ada. Hmm, berserakan dan sia-sia sudah alasan yang sudah aku persiapkan untuk menjelaskan tentang kepulanganku kepada Kang Supri. Rasa penyesalan yang aku miliki semakin menyusut. Kuraba perutku, gerakan kecil mulai terasa di dalam perutku. Aku bergumam dalam hati, "Kita impas, Kang!"

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images