BIARKAN AKU MENIKAH

Isak tangis Mama masih terdengar jelas di telingaku. Aku merasa bersalah dibuatnya, namun kenyataan sebenarnya tidak ada yang salah de...

Isak tangis Mama masih terdengar jelas di telingaku. Aku merasa bersalah dibuatnya, namun kenyataan sebenarnya tidak ada yang salah dengan permintaanku ini. Di usiaku yang ke dua puluh tahun, ada seorang lelaki yang berniat akan meminangku untuk menjadi seorang istri. Dan tak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Sosok lelaki yang kuidamkan, bukan dari segi fisik yang aku lihat dari lelaki itu tapi kepribadian dan ketaatannya dalam beribadah yang membuat aku pun menyukai lelaki itu. Aku mengatakan kepada Mama tentang keinginanku untuk menikah dengan lelaki itu. Ternyata tanggapan Mama tidak seperti yang aku harapkan. ”Apa kata orang nanti kalau kamu menikah di usia yang sangat muda, mungkin mereka akan mengira kamu MBA (Married By Accident).”

”Astaghfirullah...”Aku terkejut dengan ucapan Mama. Hatiku miris mendengarnya. Mama lebih peduli dengan tanggapan orang lain dibanding dengan keinginan aku. Mama seperti tidak mengenal siapa aku, anaknya sendiri. Mama mengusap matanya, sisa-sisa air mata masih melekat dipelupuk matanya. ”Kamu adalah satu-satunya anak perempuan Mama dan juga contoh untuk kedua adikmu. Mama menginginkan pernikahanmu adalah sebuah pesta yang membuat Mama sangat bahagia, dengan gelar sarjana yang sudah kamu sandang, pekerjaan yang sudah kamu punya, kemapanan dari calon suami kamu, dan juga tempat tinggal yang akan kamu tempati bersama suami kamu kelak. Cobalah untuk bersabar, kamu kenali dulu siapa sosok lelaki yang akan menjadi suamimu itu.”kata Mama. Kalimat-kalimat yang baru saja keluar dari mulut mama seakan menohok hatiku, sedih. Mama selalu melihat segala sesuatunya dari segi materi. Ah, mama seandainya engkau mengerti permintaan anakmu ini pasti engkau akan setuju dengan keputusanku untuk menikah di usia muda. Seandainya Mama tahu apa yang terjadi dengan anak-anak muda saat ini yang dengan mudahnya mereka berhubungan seperti layaknya suami istri tanpa ikatan yang sah dan mereka bangga dengan semua itu. Bahkan mereka merasa lebih baik dengan gaya hidup seperti itu dibanding dengan menikah muda untuk menghindari perbuatan-perbuatan maksiat. Aku terdiam, sulit rasanya berbicara dengan Mama jika beliau sudah memiliki pendirian yang kuat. Sulit untuk dibantah walaupun itu salah. Aku mengerti, semenjak papa tiada lima tahun yang lalu, Mama lah tumpuan hidup buat ketiga anaknya. Mama bekerja menggantikan posisi papa. Semua urusan rumah tangga pun Mama yang meng handle. Aku kasihan melihat Mama yang sangat berambisius untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tapi bukan berarti keinginanku ini merupakan suatu ketidak setujuanku dengan ambisi Mama. Aku akan tetap meneruskan pendidikanku walaupun sudah menikah. Mama menatapku dengan sinar kesedihan yang mendalam, dari matanya tersirat bahwa Mama masih belum menerima keinginanku untuk menikah diusiaku yang cukup muda. ” Maafkan, aku Ma.”aku berujar dalam hati. Hari itu belum ada keputusan yang pasti.

****************

Sore itu sepulang kuliah, aku tiba di rumah. Tak seperti biasanya pintu rumah yang selalu terlihat tertutup kini terlihat terbuka. Aku mengintip ke dalam, ternyata ada tamu. Tante Meidi, temannya Mama. Aku masuk, ”Assalamualaikum...”ucapku, Mama menjawab pelan. Kulihat Tante Meidi hanya tersenyum, matanya terlihat sembab. Aku segera masuk meninggalkan Mama dan Tante Meidi. Entah apa yang terjadi sepertinya ada sesuatu yang tidak beres. Aku segera masuk ke kamar dan tak ingin tahu apa yang terjadi.

Mama masuk ke kamarku, aku yang sedang mengerjakan tugas segera menghentikan ketikanku. Mama duduk di sisi tempat tidurku, mukanya terlihat serba salah dan seperti ada yang ingin disampaikan kepadaku. Aku mengernyitkan dahiku, bingung. Ada apa sebenarnya dengan Mama? Akhirnya Mama mengeluarkan suara,”Kamu sedang tidak sibuk kan, Nit?”tanya Mama. Aku menggeleng. Yah, tidak terlalu sibuk. Cuma tugas biasa yang bisa dikerjakan besok-besok. ”Kamu tahu kan tadi tante Meidi kesini?”tanya Mama lagi. Aku hanya mengangguk. ”Tante Meidi sedang mengalami musibah. Anaknya, si Putri dihamili pacarnya.” aku tercengang, ”Innalillahi......”hanya itu yang mampu aku ucapkan. Mama melanjutkan ceritanya,”Pacarnya sekarang entah kemana, dia tak mau bertanggung jawab. Putri jadi depresi. Mama kasihan melihat tante Meidi. Bahkan suami Tante Meidi menyalahkan Tante Meidi karena dianggap tidak becus mengasuh anak.”Mama menarik nafas panjang. Aku terus berucap nama Allah dalam hati. Begitu kejamnya pergaulan saat ini. Sesuatu yang tabu dianggap biasa dan lumrah di jaman sekarang. Hasilnya, orangtua sendiri yang merasakan malu yang luar biasa. Haruskah ini jadi kesalahan orang tua seutuhnya? Mama memegang tanganku,”Nit, maafin Mama, yah!”ucap Mama. Aku tak mengerti. ”Maksud Mama?”tanyaku. ”Seharusnya Mama tidak menghalangi keinginan kamu untuk menikah di usia muda. Mama yakin keputusan yang kamu buat adalah bentuk dari kedewasaanmu yang selama ini Mama tanamkan kepadamu. Dan Mama juga tahu bahwa jika seorang anak meminta untuk dinikahkan, maka orang tua harus segera menikahkan kalau memang anak itu sudah benar-benar siap. Mama juga tidak mau kejadian seperti Putri menimpa kepadamu walaupun Mama tahu kamu bisa menjaga diri.”Mama tersenyum menatapku. Tangannya masih menggenggam tanganku, erat. Di wajahnya ada semburat kebahagiaan dan ketulusan atas keinginanku untuk menikah. Yah, mama menyetujuinya.

****************

Kebaya panjang berwarna putih melekat di tubuhku. ”Kamu cantik.”puji mama. Aku tersenyum dan menjawab, ”Siapa dulu dong, mamanya!”selorohku. Kami berdua tersenyum. Hari ini, hari pernikahanku. Seandainya papa masih ada pasti beliaulah yang akan menikahkanku. Om Yoyo, adik mama tertua yang dinobatkan mama untuk menggantikan posisi papa untuk menjadi waliku. Aku duduk disebelah Gilang, lelaki yang akan menemani separuh hidupku. Yap, dialah calon suamiku. Dengan mengenakan jas berwarna hitam, Gilang terlihat lebih tampan. Kulitnya yang putih bersih begitu kontras dengan jas yang dia kenakan. Saatnya tiba, ijab kabul pun diucapkan. Gilang mengucapkan dengan lancar. Akhirnya aku dan Gilang sah menjadi suami istri. Di usiaku yang kedua puluh tahun dan usia Gilang yang kedua puluh dua, kami pun mantap menjajaki kehidupan rumah tangga menuju rumah tangga yang sakinah mawaddah warrohmah. Mama memelukku erat, tangis kebahagiaan mencuat dari pelupuk mata. ”Mama bangga sama kamu. Semoga ini merupakan awal kehidupan kamu yang lebih indah.”bisik Mama di telingaku. Aku mengangguk. Air mata tak mampu aku bendung lagi,”Terima kasih, Ma.” ucapku. Aku berjanji pada Mama bahwa aku akan segera menyelesaikan pendidikanku walaupun gelar istri sudah aku sandang. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan oleh Mama. Gilang sosok lelaki soleh mampu menjagaku dari kedupan duniawi maupun akhirat. Ah, seandainya para orang tua dan remaja mengerti apa tujuan dari menikah muda, pasti tidak akan ada putri-putri lain yang senasib seperti anak Tante Meidi.

You Might Also Like

2 komentar

Flickr Images