CINTA INI UNTUKMU

Ini bukan pertemuan pertama namun desir-desir hati tetap menguat. Cintakah? Atau rasa takut yang membuat hati ini berdesir hebat? Aku ...


Ini bukan pertemuan pertama namun desir-desir hati tetap menguat. Cintakah? Atau rasa takut yang membuat hati ini berdesir hebat? Aku mencintainya, itu hal yang lumrah. Tapi, lumrahkah bila cinta yang kurasakan ditujukan untuk orang yang tak seharusnya kucintai? Mata sayu itu masih menatapku. Mata yang selalu kurindukan. Lagi-lagi, ini bukan rindu yang seharusnya kumiliki. 
”Marsha sudah mengetahuinya.”sebuah kalimat singkat dari Riki, lelaki yang berada dihadapanku, membuat aku semakin bergetar. 
”Bagaimana bisa?”tanyaku bodoh. 
”Entahlah, sepertinya dia tahu gelagat yang mencurigakan antara aku dan kamu.” tuturnya menerka-nerka. Aku menarik nafas dalam. Ingin rasanya aku menangis. Menangis karena kebodohanku yang memiliki rasa cinta untuk Riki. Kenapa harus dia? Dia yang sudah memiliki kekasih, Marsha, yang juga mencintainya tanpa harus merasa bersalah. Dan aku, aku pun telah memiliki Aldi. Yang membuatku bebas untuk mencintai tanpa harus merasa bersalah. Tapi kenapa hati ini mencoba untuk bermain-main dengan cinta yang lain? Mungkin benar apa yang sering orang lain katakan bahwa hati tak bisa berbohong dan cinta tak bisa dipaksakan. ”Lalu apa yang seharusnya kita lakukan?”tanyaku enteng. Riki menghela napas panjang dan mengangkat bahu serta kedua tangannya. Memang tak ada solusi yang terbaik selain menghentikan permainan gila ini. Tapi aku tak sanggup untuk menghentikan semua ini. Cinta yang kumiliki untuk Riki lebih besar dibanding dengan cinta yang kumiliki untuk Aldi, kekasihku. Gila, memang gila. Ini tak seharusnya terjadi. Aku sudah membohongi Aldi yang telah memberikan kepercayaan kepadaku. Aku dan Riki saling menatap. Pikiran kami menyatu. 
”Tinggalkan saja mereka, kita lanjutkan hubungan kita tanpa harus sembunyi-sembunyi dan merasa bersalah.” Kami tersenyum. Pemecahan yang indah dari sebuah pikiran yang sedang berbunga-bunga dimabuk asmara yang terlarang. Sejak saat itu, aku dan Riki masih tetap menjalani hubungan gelap kami tanpa memutuskan hubungan dengan pasangan kami masing-masing. Entah apa yang membuat aku dan Riki tetap bertahan untuk menjalani hubungan gelap ini. Cinta? Kurasa bukan, mungkin napsu walaupun aku dan Riki sering mengumbar kata cinta yang selalu membuat hatiku berdesir saat kata cinta itu keluar dari mulutnya. Seakan-akan kata cinta itu tulus dia ucapkan untukku. Tapi apa arti semua kata cintanya itu jika setengah hatinya masih terganjal pada Marsha, kekasihnya? Hmm, bodohnya diriku. Aku pun seperti bermain dengan hatiku yang terbagi untuk dia dan untuk Aldi. Sungguh sulit rasanya untuk meninggalkan Riki yang jelas-jelas cintanya tak hanya untukku. Aku merasa lebih nyaman dekat dengannya. Rasa humor dan kelembutannya membuatku terbuai dalam dekapan cintanya yang terombang ambing. Aku terlena, sungguh aku sangat terlena. Segala sesuatu yang ada pada diri Riki tak aku temukan di diri Aldi. Bahkan aku sempat mencatat segala perbedaan yang dimiliki Riki dengan Aldi untuk membandingkan. Dan anehnya, semua yang baik-baik ada pada diri Riki bukan pada Aldi. Aku semakin labil. Riki kah yang harus kupilih untuk kujadikan sebagai kekasihku yang sesungguhnya bukan sebagai kekasih gelapku? Sulit rasanya untuk menentukan dua pilihan yang sama-sama berat aku tinggalkan. Apalagi Marsha, kekasihnya, sangat menanti pembuktian ucapan cintanya untuk diwujudkan dalam suatu ikatan suci. Rencana pernikahan telah mereka wujudkan. Aku semakin teriris walau seharusnya tak perlu karena memang itulah yang seharusnya terjadi. Riki tidak bisa mengelak pernikahan yang telah direncanakan. Dorongan keluarga kedua belah pihak yang sulit baginya untuk menolak pernikahan ini. Aku hanya bisa pasrah, perasaan cinta yang aku miliki untuk Riki semakin jauh aku dapati. Kurasa cukup sudah semuanya berakhir saat ini. Aku menangis. Pernikahan itu telah berlangsung. Aku marah. Marah kepada Riki yang telah memberikan pengharapan kepadaku dengan janji-janji untuk memilihku.Tapi apa kenyataannya? Justru dia telah memilih Marsha dan meninggalkan aku. Aku juga marah kepada diriku sendiri yang tak bisa memutuskan untuk siapa cinta yang aku punya ini.
Sebulan sudah pernikahan Riki dengan Marsha. Tak disangka-sangka, Riki datang menemuiku. Tentu saja tanpa didampingi Marsha yang telah menjadi istrinya. Tatapannya masih sama. Segudang cinta dipelupuk matanya seakan memberikan kembali pengharapan kepadaku. Aku menundukkan kepala. Tidak, Riki sudah milik orang lain secara resmi. Jahat sekiranya aku tetap bersikukuh untuk merebut cinta yang ia punya untuk aku miliki. 
”Maafkan, aku.”suara tertahan itu keluar dari mulut Riki. Aku memberanikan diri untuk menatapnya. Butiran bening menggenang di pelupuk matanya. Aku terkesima, baru kali ini aku melihat Riki seperti ini. Aku menggigit bibirku. Perih. Segala emosi yang aku tanam sejak pernikahannya dengan kekasihnya, Marsha, luluh dengan wajahnya yang memelas dan perasaan bersalahnya. Aku tahu masih ada cinta yang tersisa untukku yang dia punya. Namun semua itu tak mungkin dia berikan untukku. Marsha sangat berharap seluruh cinta yang dimiliki suaminya diberikan utuh untuk diriya bukan untuk diberikan kepada perempuan lain bahkan untuk membaginya aku yakin Marsha tak akan rela. 
”Aku ingin bisa mencintai Marsha dengan tulus, Yan.” kata-katanya kembali terdengar. Aku masih diam. Yah, memang itulah seharusnya yang kamu lakukan, kataku dalam hati.  
”Sulit bagiku untuk terus menerus sembunyi mencintaimu. Apalagi Aldi adalah sahabatku. Aku merasa berkhianat dengannya.” ucapnya lirih. Aku tertegun dengan kalimat terakhirnya. Aldi adalah sahabatnya. Justru aku yang telah mengkhianati Aldi. Aku rusak kepercayaan yang Aldi berikan kepadaku. Aku coreng cinta yang telah kami miliki bertahun-tahun. Aku memang bodoh. Perasaan menyesal menggelayuti diriku. Tapi aku yakin aku belum terlambat. Semua masih bisa aku tata kembali cinta yang hampir berkeping-keping. Akan aku susun bagian kepingan cinta yang telah terbagi hanya untuk kekasihku, Aldi. Apa jadinya jika Aldi mengetahui bahwa cintanya telah aku bagi dengan Riki, sahabatnya sendiri. Mungkin tak satupun cinta yang akan aku dapatkan. Keduanya akan pergi meninggalkan aku. 
”Yan, aku harap ini pertemuan kita yang terakhir untuk menghargai perasaan pasangan kita masing-masing. Semoga kamu bisa menerimanya. Selamat tinggal, Yan.” ucapan terakhir yang dilontarkan Riki untukku seakan menguras seluruh air mataku. Derai air mata membasahi pipiku. Tamat sudah cinta terlarang yang telah aku dan Riki jalani. Semua pasti akan berakhir. Riki benar-benar pergi. Langkahnya semakin jauh dari pandanganku namun cintanya yang tersisa masih tertinggal di hatiku. Semoga aku bisa perlahan-lahan menghapus cinta yang tersisa untuknya ini.
Beberapa hari kemudian, aku terkejut dengan kemarahan yang diluapkan oleh Aldi dihadapanku. Air mineral dalam kemasan diremasnya sampai tak berbentuk. Wajahnya terlihat geram dan bibirnya terkatup rapat. ”Aku tidak menyangka sahabatku sendiri telah berbuat semena-mena di belakangku.” gumam Aldi. Aku makin terpojok dan menahan gejolak emosiku agar tak keluar butiran hangat dari pelupuk mataku. 
”Apa sebenarnya yang dia inginkan?”tanyanya pada dirinya sendiri. 
”Dia sudah memiliki kekasih dan dulu dia sendiri yang mendukungku untuk memilihmu menjadi kekasihku.” Kali ini perkataannya ditujukan untukku. Aku tetap diam. Aku seperti maling yang tertangkap basah. Ucapan-ucapannya tak sedikitpun terdengar menyalahkan aku. Justru dia sangat menyalahkan sahabatnya sendiri. Aku semakin merasa serba salah. Jelas-jelas aku telah mengkhianati cintanya dengan sahabatnya namun justru seakan-akan dia ingin melindungiku. Aku malu. Aku pasrah seandainya Aldi meninggalkanku karena aku telah membohonginya dan menduakan cintanya. Karena memang itulah yang seharusnya pantas aku dapatkan atas kesalahanku. Awalnya aku merasa tekejut darimana dia mengetahui hubungan antara aku dan Riki. Tapi ternyata dia telah mengetahui semua skandal ini dari Riki. Entah apa maksud Riki memberitahu semua perbuatan nista ini kepada Aldi. Untuk mengurangi rasa bersalahnyakah? Atau agar aku tidak menganggu rumah tangganya? Hm, entahlah.
 ”Kamu tidak apa-apa kan, Yan?”tanya Aldi tulus. Aku makin trenyuh. Selama ini aku salah menilai Aldi. Ternyata aku hanya menilai dia dengan sebelah mata dan dibutakan oleh napsu sehingga kebaikan yang dimilikinya tertutup rapat oleh cinta palsuku kepada Riki. 
”Maafkan aku, Al.”ucapku dengan perasaan bersalah yang menggunung. ”Tidak, kamu tidak bersalah. Dia lah yang bersalah.” ujarnya dengan nada yang meninggi dan semakin geram. Hatiku berdetak kencang. Aku tahu dia sangat marah dengan kejadian ini. Dan aku mengerti bagaimana perasaannya saat mengetahui perselingkuhan yang telah aku perbuat dengan Riki. Sebagai lelaki, Aldi merasa dirinya dilecehkan dan dipermainkan olehku. Tapi entah kenapa dia tak sedikitpun menyalahkan diriku. Dia hanya menganggap aku adalah korban. Padahal jelas-jelas aku memang mencintai sahabatnya itu. 
”Aku siap menerima semua apapun keputusanmu.” kataku pasrah. Aku seperti pesakitan yang siap menerima hukuman apapun yang akan kuterima. 
”Aku akan menikahimu.” tuturnya dengan nada yang tegas. Aku terkejut. Mataku mendelik kepadanya. Wajahnya masih terlihat menegangkan. Aku tidak mengerti apa maksud keputusannya untuk menikahiku. Ini bukan keputusan yang main-main. Tapi aku cukup mengenalnya, Aldi adalah sosok lelaki yang memiliki planning yang baik dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dia buat. Dan aku percaya itu. Namun keputusan untuk menikahiku dengan pikiran yang galau seperti saat ini, aku jadi ragu. 
”Ya, aku akan menikahimu secepatnya.” tuturnya lagi seperti meyakinkan kegundahanku atas keputusannya itu. 
”Aku tak ingin kamu dipermainkan oleh laki-laki lain.” ucapnya lirih. Aku masih sulit untuk mengerti, dia tetap menganggapku tak bersalah dalam hal ini. Bahkan dia berniat ingin menikahiku untuk melindungi diriku agar aku tak terperosok oleh rayuan laki-laki yang ingin mempermainkan perasaanku. Aku malu, padahal sebenarnya aku pun bersalah telah mencintai sahabatnya dan menduakan cintanya yang tulus. Aku semakin terpuruk dengan kesalahanku sendiri. Laki-laki dihadapanku ini memang pantas untuk kujadikan sebagai pendamping hidupku. Aku lah yang telah bodoh dan digelapkan hatiku oleh sosok lelaki yang telah menggoyah perasaanku sampai aku jatuh cinta padanya, pada sahabat kekasihku sendiri. Ini kesalahan terbesar dalam hidupku. 
”Terima kasih, Al. Aku tidak tahu harus membalas dengan cara apa atas ketulusan cintamu ini. Aku malu.” kataku dengan berderai air mata membasahi pipiku. 
”Kamu tak perlu merasa bersalah dan malu atas kejadian ini. Beruntung kamu tidak melakukan perbuatan yang lebih jauh lebih buruk lagi dengannya.” ucapnya pelan sambil menghela napas panjang. 
”Yang terpenting lupakan semua kejadian ini dan kita akan memulai hidup baru kita dengan niat ibadah. Insya Allah secepatnya aku akan mendatangi orang tuamu untuk melamarmu.” lanjutnya tulus. Air mataku makin berderai. Haru. 
”Ampuni aku, Ya Allah. Semoga lelaki ini adalah pilihan yang terbaik untukku.” pintaku dalam hati. Malam itu di sebuah tempat makan cepat saji,nampak di langit  bintang bertaburan dan bulan yang setengah muncul seperti menyaksikan peristiwa antara aku dan Aldi. Ketulusan cinta Aldi seperti memberikan warna pada malam itu. 
"Aku mencintaimu, Al." bisikku lirih, mataku menatap Aldi. Aldi tidak menyadarinya, ia sibuk memandangi langit yang seakan-akan berpihak padanya.
Pernikahanku dengan Aldi akhirnya terwujud. Dia benar-benar menepati janjinya untuk menikahiku. Dia juga suami bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Sampai saat ini, hubungan rumah tangga aku dan Aldi berjalan dengan baik; meskipun ada sedikit masalah kecil yang menerpa kehidupan rumah tangga aku dan Aldi, aku anggap itu hanya kerikil kecil yang masih bisa kami lewati. Dan yang pasti permasalahan itu bukan menyangkut sahabatnya, Riki, yang pernah menjadi kekasih gelapku. Aku dan Aldi berkomitmen untuk tidak menyinggung tentang masalah itu dan melupakan semua kejadian itu. Dan sampai saat ini tak sedikitpun terdengar kabar tentang Riki, dan akupun tak mau tahu dan mencari tahu informasi tentang dia. Kini hidupku sudah tenang menikmati cinta yang tulus dan memberikan cintaku sepenuhnya kepada seorang lelaki tanpa harus merasa bersalah. Aku pun berjanji pada diriku sendiri untuk tidak bermain api dengan lelaki manapun. Cinta itu indah tanpa harus sembunyi-sembunyi. Cinta yang tulus akan kuberikan untuk lelaki yang mencintaiku dengan tulus pula.
**********

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images