Awan Mengabu

Tak ada awan kelabu yang biasa menandakan sebuah kesedihan. Awan putih cerah berarak menghiasi langit siang itu. Tiba-tiba ponselku berbunyi...

Tak ada awan kelabu yang biasa menandakan sebuah kesedihan. Awan putih cerah berarak menghiasi langit siang itu. Tiba-tiba ponselku berbunyi tanda pesan Whatsapp masuk. Salah satu keponakanku menyampaikan pesan yang membuat kecerahan di siang itu mengabu.
"Tante, Bapak kritis. Kritis banget." tulisnya di message Whatsapp. Bapak yang dia sebut adalah kakeknya, bapak kandungku. Semua anak dan cucu memanggil kedua orang tua ku dengan sebutan Mama dan Bapak. Aku memencet tombol huruf-huruf untuk membalas pesannya. Tapi belum sempat aku balas, pesan dari keponakanku kembali masuk ke ponselku.
""Innalillahi..." Aku bergetar membacanya. Apa maksud dari innalillahi itu? Apakah bapak...? Aku segera memencet tombol huruf-huruf untuk memastikan apa yang terjadi.
"Maksudnya innalillahi apa?" tanyaku di pesan itu.
"Bapak udah gak ada." balas keponakanku. Badanku langsung lemas. Aku yang sedang berada di luar rumah merasakan gelap mengelilingi sekitarku. Kakiku seperti tak menapak pada bumi. Aku segera kembali pulang untuk memberitahu suamiku. Siang itu juga aku, suami, dan anak-anakku berangkat menuju Tangerang, kampung halamanku, tempat bapak bersemayam. Perjalanan yang membutuhkan waktu sekitar empat jam terasa lama dan panjang bagiku. Apalagi bapak akan segera dimakamkan hari itu juga ba'da shalat maghrib. Detik demi detik, menit dan jam berlalu, aku berharap tiba diwaktu yang tepat untuk melihat jenazah bapak sebelum dimakamkan. Ah, seandainya Tuhan memberi aku sayap saat itu, aku akan segera terbang untuk mengantarkan bapak ke pembaringannya yang terakhir. Aku mengusap mataku, air mata terus mengalir. Teringat olehku dua hari yang lalu saat aku pamit pada bapak untuk kembali ke Bandung, aku pikir kesehatan bapak sudah membaik. Tapi ada keanehan yang terlukis diwajah bapak sebelum aku berpamitan di Rumah Sakit tempat bapak dirawat. Bapak menangis tertahan kala ia mengingat kembali siapa diriku. Entah apa maksud tangisan itu. Sejak bapak sakit beliau memang sering kehilangan memorinya bahkan pada mama, dan kakak-kakakku. Keadaan bapak memang sungguh mengenaskan. Selang infus menempel dipunggung tangannya, selang oksigen terkait di lubang hidungnya, dan selang di dadanya yang dihubungkan pada paru-parunya untuk menyedot cairan yang ada di paru-parunya itu.
"Bapak udah gak kuat." keluh bapak pelan. Air mata merebak di pelupuk mataku saat mendengar keluhan bapak tapi aku berusaha menahannya agar tidak menetes membasahi pipi. Aku tidak ingin terlihat menangis di depan beliau. Tidak, aku harus kuat agar bisa menguatkan beliau. Begitupun dengan mama, tak ada setetes pun air mata yang aku lihat di mata tuanya mama. Mama memang perempuan yang kuat, begitulah yang aku tangkap selama ini. Sakit ginjal yang diderita bapak dan rutinitas cuci darah seminggu dua kali selama setahun ke belakang, membuat bapak lelah dengan keadaannya.
Tepat pukul setengah enam sore, kendaraan yang kami tumpangi tiba di rumah orang tuaku. Teras rumah sudah banyak dipenuhi orang-orang yang melayat dan akan mengantar jenazah bapak ke pemakaman. Aku segera masuk ke dalama rumah dan menemui mama. Lagi-lagi aku tidak melihat air mata menetes di pipinya yang sudah menua. Aku mengecup punggung tangannya dan kedua pipinya. Tak ada kata-kata hanya diam. Jenazah bapak didepan mama sudah tertutup kain putih seluruhnya. Aku membuka kain putih yang menutup kepala bapak. Untuk terakhir kalinya, aku ingin melihat dan mencium wajah beliau. Dengan tubuh yang gemetar ku condongkan wajahku ke wajah bapak. Dingin terasa dipipiku saat aku menempelkan wajahku di pipi beliau. "Kami ikhlas, Pak." kataku dalam hati. 
Petang itu, saat senja sudah mulai bersembunyi, iringan doa dan tahlil mengiringi pemakaman bapak. Kami semua ikhlas demi kebaikan bapak. Dan kami tahu inilah yang terbaik yang diberikan Allah untuk bapak. Tak ada lagi derita yang dirasakan beliau. Semoga beliau mendapatkan ketenangan yang abadi di alam sana. "Selamat jalan, Pak. Allahummagfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu anhu. Aamiin."


You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images