DILEMA

 Ada yang beda saat memasuki bulan Ramadhan tahun ini. Kesedihan dalam keluarga besar kami masih merwarnai Ramadhan kali ini. Tepat s...




 Ada yang beda saat memasuki bulan Ramadhan tahun ini. Kesedihan dalam keluarga besar kami masih merwarnai Ramadhan kali ini. Tepat sebulan sebelum Ramadhan tahun ini tiba, kami kehilangan seorang bapak. Bapak yang menurut kami bisa menjadi panutan. Sifat pendiamnya yang membuat kami segan dengan beliau. Kepergiannya sangat membekas dihati kami khususnya aku. Di saat detik terakhir kepergiannya aku tidak ada disisnya, sangat disayangkan. Ramadhan tahun ini sepi, aku merasakan itu. Apalagi mamaku, beliau sangat merasakan kesepian itu. Selama lebih dari 45 tahun mereka bersama, kini terpisahkan. Aku tahu mama pasti sangat merasa kehilangan, tapi mama tidak pernah mengungkapkan pada kami, anak-anaknya. Mama kini benar-benar sendiri sejak bapak tidak ada. Dari keenam anaknya tidak ada yang tinggal dengannya satu pun. Aku sebagai salah satu anak perempuannya sangat ingin menemani beliau. Dari guratan di wajahnya aku tahu mama sangat merasakan kesedihan yang mendalam. Di awal bulan Ramadhan, aku menemani mama hingga hari keempat bulan Ramadhan. Bukannya aku tidak ingin terus menemaninya, tapi aku pun memilki tugas dan kewajiban atas suamiku. Akhirnya di bulan keempat Ramadhan aku pamit ke Bandung, meninggalkan mama sendiri. Mama tak keberatan, tapi aku tahu mama sangat ingin menahanku untuk tetap tinggal bersamanya. Aku dilema. Dengan berat hati aku kembali ke Bandung dan berharap mama tidak merasakan kesepian.
Setiba di Bandung, pikiranku tak menentu. Aku memikirkan mama. Baru sebulan mama ditinggalkan bapak, pastinya mama masih merasakan kejanggalan atas kesendiriannya. Mama pasti masih butuh keramaian agar tidak terus larut dalam kesedihan. Benar saja, ketika waktu berbuka puasa tiba, mama mengirimkan pesan kepadaku, “Mamah buka sendirian aja, nih. Mama jadi sedih, baru ngerasain sekarang sendiri aja.” Air mataku langsung tumpah saat membaca pesan singkat dari mama. Aku langsung membalas sms-nya mencoba menenangkannya. Aku gak sanggup meneleponnya karena aku tidak mau mama mendengar isak tangisku. Dan bersamaan dengan itu, aku menghubungi kakak laki-lakiku yang jarak rumahnya dekat dengan mama untuk menemani mama di rumah selama bulan puasa.
Mama yang selama ini tidak pernah memperlihatkan kesedihannya akhirnya tak kuasa juga. Dan aku sebagai anaknya merasakan dilema yang sangat luar biasa. Di satu sisi aku sangat ingin menemani mama, dan di sisi lain aku pun memiliki tanggung jawab dan kewajiban terhadap suamiku. Semoga mama mengerti.  *19 juli 2013

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images