PENANTIAN yang PANJANG

Aku melangkah menyusuri jalan Braga, entah sudah berapa kali aku menyusuri pertokoan di jalan ini. Aku menghentikan langkahku di depan sebua...

Aku melangkah menyusuri jalan Braga, entah sudah berapa kali aku menyusuri pertokoan di jalan ini. Aku menghentikan langkahku di depan sebuah toko kue dan melihat arloji di pergelangan tangan kiriku. “Gila, hampir satu jam belum datang juga.” Aku menggerutu dalam hati. Ini memang bukan yang pertama kalinya ia terlambat datang jika janji bertemu denganku. Mungkin ini resiko bila menjadi yang kedua, selalu di nomor duakan. Ah, ini salahku memilih menjadi yang kedua. Tapi satu jam? Sudah keterlaluan rasanya. Aku mencoba menghubungi nomor ponselnya. Beberapa menit nada tersambung berbunyi, tak ada jawaban dari seberang sana. Ah! Aku menghempaskan tanganku ke udara. Aku duduk di pelataran depan toko mencoba untuk bersabar beberapa menit atau mungkin beberapa jam lagi untuk menunggu kedatangannya. Hmm, entah apa yang membuat aku begitu bisa bertahan menunggu sosok itu. Aku menoleh kearah kiriku. Suara seret langkah tertatih membuatku ingin menoleh kesana. Seorang perempuan tua dengan tongkat kayu ditangannya berjalan ke arahku. Tepat di depanku ia menghentikan langkahnya dan duduk di sebelahku, matanya menoleh kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. “Sedang mencari siapa, Nek?” tanyaku yang bermaksud ingin membantunya. Nenek itu menoleh ke arahku dan tersenyum. Sepertinya ia tidak mendengar apa yang aku tanyakan. Aku pun agak mendekat ke telinganya. “Nenek sedang mencari sesuatu?” tanyaku lagi. Nenek itu mengangguk. Kemudian nenek itu memberikan secarik foto post card hitam putih kepadaku. Terihat sosok laki-laki muda dengan rambut yang klimis. Lumayan tampan, pikirku. “Ini cucu Nenek?” aku bertanya lagi. Nenek itu menggeleng. “Kekasih nenek.” Jawab nenek itu. Hah? Aku terkejut mendengar jawaban nenek itu. Kekasih nenek itu berondong? Hebat nenek ini, begitu pikirku. Tak lama terdengarlah rentetan cerita dari mulut nenek itu bahwa ia sudah hampir tiga puluh tahun menanti kekasihnya. Aku tertegun dan menelan ludah. Tiga puluh tahun? Cintanya pada lelaki itulah yang membuatnya ia bertahan untuk menunggu. Terakhir kekasihnya itu berjanji bertemu di jalan braga ini tepat di depan toko kue. Hari pertama menunggu, kekasihnya tak kunjung tiba. Esoknya nenek itu datang kembali, namun kekasih yang dinantinya tak kunjung tiba juga. Hingga hari-hari seterusnya dia selalu menanti kekasihnya itu. Walaupun banyak yang mengatakan jika kekasihnya itu sudah menikahi perempuan lain dan pindah ke luar kota tapi nenek itu tetap bersikeras dengan keputusannya untuk menunggu. Ketika nenek itu sedang bercerita, seorang tukang parkir datang menghampiriku dan mengatakan sesuatu kepadaku. “Teu waras eta mah, Neng.” Aku kaget mendengar ucapan tukang parkir itu. Masa iya nenek itu tidak waras? Tapi bagaimana bisa dari orang yang tak waras keluar cerita yang begitu indah dan menyedihkan? Tiba-tiba dari sosok nenek itu aku seperti melihat diriku dimasa yang akan datang. Penantianku pada sosok laki-laki yang aku tunggu beberapa jam yang lalu, yang tak kunjung tiba. Aku pun mulai takut dan beranjak dari samping nenek itu dan segera pergi menyusuri jalan Braga tanpa harus menanti laki-laki yang entah akan datang atau tidak hari ini untuk menemuiku. Jalan yang kususuri masih panjang dan masih ada laki-laki lain yang bisa berjanji tepat waktu untuk menemuiku hari ini, esok, dan selamanya. *** 7-10-2012

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images