PERMASALAHAN SELESAI

Angin malam berhembus dengan anggunnya, seakan memelukku hingga tak ingin lepas. Aku menggigil, tapi bukan karena kedinginan. Suara si...



Angin malam berhembus dengan anggunnya, seakan memelukku hingga tak ingin lepas. Aku menggigil, tapi
bukan karena kedinginan. Suara sirine ambulance yang semakin mendekat, mengalahkan suara hembusan angin. Tatapan mataku menggerayangi tubuh kaku yang tertutup kain putih. Wajah beberapa orang yang menyaksikannya,  memperlihatkan rasa iba. Nampak rembesan darah menodai kain putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Aku terus memandangi tubuh itu tanpa ekspresi. Baru saja beberapa menit yang lalu, tubuh itu masih bersamaku. Makan bersama dalam sebuah restoran yang cukup elite. Sengaja aku mengundangnya. Dan tentu saja ia sangat senang dengan undanganku. Tiga bulan sudah kami tidak bertemu. Aku yang memintanya untuk tidak menemuiku.
***
“Kenapa, sih, Mas, aku tidak boleh menemuimu? Aku kan kangen.”  rajukknya kala itu melaui telepon seluler. Ah, rajukannya membuatku ingin membatalkan niat untuk tidak bertemu dahulu dengannya untuk beberapa bulan.
“Kamu tahu kan, sayang, keadaannya sedang genting. Kamu harus mengerti itu.” kataku memberi alasan.
 “Kalau kamu nekat, bisa berantakan semuanya.” kataku kembali menegaskan. Kali ini aku benar-benar serius dengan ucapanku. Ia terkekeh.
“Oke…oke.” katanya mantap. Aku pun lega dengan jawabannya.
Tapi ternyata, dua bulan kemudian,
 “Mas, tadi aku kerumahmu. Tapi kamu tidak ada. Aku kangen, Mas.”
Sebaris pesan singkat tertulis di layar telepon selulerku. Nama Intan tertulis sebagai pengirimnya. Isi pesannya tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Padahal ia telah mengobrak-abrik perasaan orang-orang di rumahku dengan kedatangannya yang tak terduga. Aku mengerti apa yang dirasakannya. Tidak saling bertemu untuk waktu yang cukup lama, aku pun merindukannya. Tapi beberapa menit sebelumnya, pesan singkat masuk dari nomor yang lain ke nomor telepon selulerku.
“Aku gak ngerti maksud perkataan perempuan itu. Dia bilang, dia adalah kekasihmu. Kalau memang benar dia kekasihmu, karirmu akan hancur. Kamu tinggal pilih, aku atau kamu yang akan membereskan perempuan itu.”       
Aku menarik napas panjang setelah membaca sederetan kalimat yang setengah mengancam itu. Dari istriku. Ya, aku harus membereskan masalah ini sebelum karirku hancur dan jabatanku dicabut. Aku harus berbicara dengannya untuk menghentikan hubungan kami.
***
Malam itu, tepatnya di malam sabtu. Aku mengundang dia untuk makan malam di sebuah rumah makan yang cukup mewah dan sepi. Sengaja aku  mengajaknya ke tempat seperti ini, agar tidak banyak yang tahu dengan kebersamaan kami berdua.
“Akhirnya kita bertemu lagi.” sapanya, saat ia baru tiba. Tanpa sungkan, ia mengecup pipiku. Mataku menjelajah sekitar restoran, takut jika ada yang melihat kemesraan kami. Tapi dia terlihat santai tanpa beban. Dia menganggap hubungan yang kami jalani wajar-wajar saja.
“Jadi bagaimana, apakah kamu sudah membuat keputusan?” tanyanya di sela-sela santapannya, Steak Tenderloin.  Aku yang juga sedang mengunyah potongan tenderloin, sedikit tersedak dengan pertanyaannya barusan. Kuseruput sedikit orange juice.
“Ya.” jawabku singkat.
“Apa?” tanyanya ingin tahu. Dari wajahnya, ia merasa yakin jika keputusanku bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Aku melepaskan genggaman garpu dan pisau dari kedua tanganku,  menarik napas dan melepaskannya perlahan.
“Kita hentikan hubungan ini.” kataku dengan cepat.
“Apa?” Ia membelalak kaget.
“Aku akan transfer ke rekeningmu tiap bulan. Bagaimana?” ujarku, memberikan solusi. “Berapa kamu akan membayar aku tiap bulannya?” tanyanya sinis.
“Berapapun yang kamu mau.” kataku sesumbar. Ia menyeringai lagi.
“Tapi ingat, jangan temui aku dan ganggu keluargaku lagi.” kataku memberi syarat. Ia mengangguk-angguk angkuh.
“Oke.” jawabnya mantap. Aku lega mendengar jawabannya tapi aku tidak yakin apa ia akan memegang janjinya.
Potongan tenderloin di piringnya sudah habis, ketika aku baru saja kembali dari toilet. Keputusan yang aku buat tidak mengurangi rasa napsu makannya. Ia pun menyeruput orang juice-nya hingga habis.
“Oke, aku duluan. Aku tunggu tiap lembar rupiahmu masuk ke rekeningku.” pamitnya sambil mengerlingkan matanya dan beranjak dari kursinya. Langkahnya mengayun lincah ke area parkiran. Swift merah sudah menantinya untuk dikendarai. Beberapa menit kemudian, aku pun beranjak dari kursiku menuju meja kasir.
“Buum!” suara dentuman keras mengagetkanku. Suara itu dari luar restoran. Dan suara beberapa saksi memberikan asumsi tentang suara dentuman itu.
“Pengendara swift merah,  korban tabrak lari.” kata salah satu saksi yang melihatnya. Aku berusaha keras melangkahkan kakiku untuk ikut melihatnya. Malam ini, inilah awal kejadian itu.
***
 Aku masih berdiri di tempat kejadian. Tubuhnya masih terbaring kaku di lantai aspal. Pandanganku kosong. Tiba-tiba ponselku  berbunyi, tanda pesan singkat masuk. Aku membuka dan membacanya segera.
“Tugas selesai, Bos. Target swift merah sudah dibereskan.”
Aku tersenyum puas membacanya. Intan Kirana sudah mati, aku mendesis perlahan. Mataku beralih pada swift merah, tak jauh dari tubuhnya yang terbaring kaku. Tapi tiba-tiba tenggorokanku tersedak, mulutku membusa, dan kepalaku pening. Aku terjatuh tak jauh dari tubuh Intan yang tergeletak.
“Telah tewas seorang wanita bernama Intan Kirana, korban tabrak lari. Dan tak lama kemudian,  seorang pejabat laki-laki tewas akibat racun yang dibubuhkan pada minumannya.” Demikian laporan seorang reporter dari tempat kejadian.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images