AKU

Lagi-lagi cuma cerita fiksi. Tapi bukan berarti cerita dibawah ini tidak terjadi di sekitar kita. Cuma mengingatkan, say no to free sex!!! ...


Lagi-lagi cuma cerita fiksi. Tapi bukan berarti cerita dibawah ini tidak terjadi di sekitar kita. Cuma mengingatkan, say no to free sex!!! Supaya kita dan orang-orang terdekat kita tidak mengalami hal seperti cerita di bawah ini. Yuk, monggooo.....:)




AKU
Oleh: Andari Yuan

“Awww…” Aku terkejut ketika ada sesuatu yang menekan perutmu. Ingin rasanya aku marah. Apakah mereka tidak merasa kasihan denganmu dan juga aku yang merasa kesakitan? Tapi aku tidak mendengar teriakan kesakitanmu, kamu hanya mendesah menahan sakit. Perlahan sesuatu yang menekan itu melepaskannya dari perutmu.
“Masih bisa dikeluarkan, Neng.” kata seorang perempuan setengah baya terdengar olehku. Sepertinya ia sedang berbicara denganmu. Kamu tidak menjawab, hanya diam. Seperti sedang mempertimbangkan sesuatu.
“Baiklah, Bu. Mungkin besok saya akan datang lagi.” katamu setelah beberapa saat terdiam.
“Jangan terlalu lama, Neng. Nanti keburu besar, susah untuk dikeluarkan.” saran perempuan itu. Lagi-lagi kamu cuma diam, kemudian pamit pulang.
***
            Segelas cairan masuk kedalam tenggorokanmu. Aku mulai gusar. Selalu setiap kamu meminum cairan itu, aku merasakan gerakan yang kurang nyaman. Minuman itu sepertinya tidak enak, pahit. Tapi kamu tetap dan rutin meminumnya. Yang aku tahu, minuman itu kamu dapatkan dari seorang teman. Temanmu bilang bahwa minuman yang berupa serbuk itu bisa membuat permasalahanmu hilang. Dan kamu tidak perlu lagi menanggung malu atas keberadaanku. Sungguh aku tidak mengerti, mengapa keberadaanku menjadi masalah bagimu? 
Kamu mengelus perutmu perlahan. Aku senang jika kamu sudah mengelus perutmu, aku merasa nyaman. Tapi aku tidak suka jika kamu tiba-tiba menangis saat mengelus perutmu dan menyadari keberadaanku. Apalagi jika orang-orang yang ada di rumahmu menyarankan untuk mencelakakanku. Bisa-bisa kamu seharian menangis sambil menelungkupkan tubuhmu. Saat itu aku merasa sesak. Ingin rasanya aku menendang-nendang perutmu, tapi aku kasihan padamu. Kadang kamu juga berteriak sambil mengumpat dan memukul perutmu sendiri, menyebutkan nama seorang laki-laki. Entah siapa dia. Sepertinya laki-laki itu yang membuat kamu benci dengan keberadaanku.
***
            “Bagaimana, Neng? Sudah siap?” tanya seorang ibu yang pernah kamu datangi tiga hari yang lalu. Tiga hari kamu mangkir dari hari yang kamu janjikan sebelumnya. Sekarang kamu pun masih bingung dan belum menjawab pertanyaan ibu itu. Aku merasa kamu tertekan dengan keadaanmu. Kamu mengelus perutmu pelan, lagi-lagi aku senang kamu melakukan itu. Selama hampir satu bulan aku bersamamu, belum pernah kamu memberikan aura bahagia kepadaku. Sungguh, aku pun ikut merasakan kesedihanmu. Sebenarnya aku ingin keberadaanku bisa membuatmu bahagia. Tapi ternyata sia-sia, aku justru menjadi biang dari rasa sedihmu.
“Iya, Bu. Saya siap.” jawabmu terbata. Aku terkejut mendengar jawabanmu. Aku berteriak dan memohon padamu agar kamu tidak melakukannya. Tapi kamu tidak mendengar. Kupikir kamu menyayangi aku dan akan terus mempertahanku. Tapi ternyata tidak.
Kamu membaringkan tubuhmu di sebuah kasur tipis. Kain panjang sudah membungkus setengah bagian tubuhmu ke bawah. Aku merasakan getaranmu. Kamu gemetar. Perlahan ibu itu membuka kain yang menutupi bagian bawah tubuhmu. Tiba-tiba ada suatu benda keras mengenai tubuhku. Aku terkejut dan merasa ngilu. Belum lagi perutmu yang terus ditekan oleh ibu itu. Kamu merintih kesakitan, aku pun merasakan hal yang sama. Ah, tiba-tiba aku seperti keluar dari sebuah lorong, berbarengan dengan itu pula kamu menjerit kesakitan. Aku tidak lagi berada di ruang yang gelap dan hangat. Kini semua terang dan aku merasa kedinginan. Sekarang aku tidak bisa merasakan detak jantungmu lagi. Kamu sepertinya sudah merasa lega dan lepas dari semua beban. Hanya butiran air mata terselip di sudut matamu, sisa-sisa rasa sakit yang kamu rasakan tadi. Kini aku hanyalah segumpal darah tak berarti yang keluar dari perutmu, janin yang tidak kamu harapkan kehadirannya di rahimmu. Dan aku baru tahu, jika aku tetap bertahan di rahimmu, suatu saat aku bisa memanggilmu dengan sebutan ibu. ***  

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images