Mom....Yuk, mendongengkan anak sebelum tidur!

Pernah di publish di Note Facebook, tapi gak salah kaaan kalau di publish lagi di blogku :) . Yang belum nyimak...silakan disimak, yah. ...

Pernah dipublish di Note Facebook, tapi gak salah kaaan kalau dipublish lagi di blogku :) . Yang belum nyimak...silakan disimak, yah. Monggoooo....:)

 

Mom....Yuk, mendongengkan anak sebelum tidur!

Membaca pernyataan seorang teman beberapa waktu lalu, yang berprofesi sebagai pendongeng, di jejaring sosial. Bahwa anak yang didongengkan oleh ibunya saat hendak tidur di malam hari, bisa memberikan keceriaan pada anak saat bangun keesokan paginya. Jujur, saya sedikit tertantang dengan pernyataan tersebut. Dongeng sebelum tidur memang sudah umum kita dengar. Bahkan di salah satu majalah anak-anak, pernah ada rubrik "Dongeng Sebelum Bobo". Jadi memang seharusnya tidak aneh lagi jika orang tua mendongeng untuk anaknya sebelum mereka tidur.
Dulu, ketika saya baru memiliki seorang anak, sepuluh tahun yang lalu, saya suka membacakan dia cerita sebelum ia tertidur. Saya berharap bisa meninabobokannya dengan dongeng saya. Saya koleksi buku anak setiap mampir ke sebuah toko buku. Anak saya suka dibacakan cerita, sampai2 matanya terus terjaga karena ingin tahu cerita yang saya bacakan hingga selesai. Lucunya, justru saya yang kadang ketiduran saat membacakan cerita, dan alhasil cerita pun jadi ngelantur. Tentu saja anak saya protes karena ceritanya berubah alurnya. "Bunda ngantuk, yah?" pertanyaan anak saya hanya saya jawab dengan cengengesan sambil mata tetap terkantuk2. "Yang bener dong, Bun bacanya." Saya pun kembali membacakannya masih sesekali ceritanya melenceng dari buku. Hehe...
Untuk anak yang kedua, sekarang usianya 3,5 tahun, saya mungkin terlambat mengenalkan dongeng kepadanya. Jaman yang makin tinggi tekhnologi membuat orang tua "menjauhkan" ritual mendongeng kepada anak balitanya. Sekarang, jarang sekali rasanya orang tua yang memegang buku untuk diceritakan kepada anaknya sebelum tidur, justru yang mereka pegang adalah gadget yang tak pernah lepas dari tangan dan mata orang tua (ayooo....bener apa bener?). Jangan takut mengaku, karena saya pun sama demikian :D.
Saya pernah merasa tersentil dengan anak kedua saya. Waktu itu usianya 3 tahun. Saya merasa bersalah karena selama ini saya merasa tidak memberi hak pada dia untuk memebacakan dongeng untuknya. Satu hari itu pun saya tebus kesalahan saya. Saat mau berangkat tidur malam, saya ambil satu buku untuk membacakan cerita pada anak saya itu. Saya pun mulai bercerita dengan intonasi yang berbeda-beda sesuai karakter yang saya bacakan di buku itu. Anak saya menanggapinya dengan tertawa geli malah terkesan aneh melihat kelakuan saya itu. Tahu-tahu dia bilang, "Ih, Bunda...udah, ah. Mending Bunda maen hape aja." Jlebbh!!! Oalah...ternyata selama ini dia lebih nyaman lihat bundanya asik dengan gadget dibandingkan membacakan cerita untuknya. Duh, makin merasa bersalah, deh. Tapi saya gak mau putus asa. Mendongeng tetap harus saya jalani pelan-pelan sampai dia merasa butuh untuk dibacakan cerita.
Satu buku Upin Ipin yang berjudul Sepeda Baru menjadi pilihan anak saya ketika saya menawarkan lagi beberapa buku untuk saya bacakan. Pertama bercerita dia tertarik untuk mendengarnya, karena saya menyisipkan gaya bicara seperti layaknya Upin Ipin berbicara dalam serialnya di televisi. Dia pun tertawa dan sepertinya mulai tertarik untuk dibacakan cerita, tidak menyuruh bundanya untuk bermain gadget lagi. Apalagi ketika ada dialog dari teman Upin Ipin, Mail, yang menunjukkan lukanya saat ia jatuh. Ketika dibacakan ulang (tentunya dia yang memintanya lagi), dia pun hapal dengan kata-kata yang ada di buku itu. Wah, berarti apa yang saya bacakan masuk ke memorinya. Pernah juga suatu kali kami pergi ke sebuah pusat perbelanjaan. Disana ada yang menjual sepeda. Dengan antusias anak saya berteriak, "Bunda, sepeda kayak Upin Ipin, "Saya juga jual sepeda"." katanya sambil menirukan kalimat yang diucapkan temannya Upin Ipin, Mail, dalam buku yang pernah saya bacakan. Saya pun tersenyum. Ternyata dia selalu mengingatnya. Itu hanya satu buku, loh. Bagaimana jika banyak buku yang saya bacakan? Mungkin perbendaharaan katanya akan semakin banyak. Melihat itu saya pun jadi semakin semangat untuk membacakan cerita untuknya.
Dan sekarang, saat hendak tidur, dia sendiri yang meminta dibacakan buku cerita. Bahkan pernah suatu malam, ketika ia sudah tertidur, ia terbangun tengah malam meminta minum. Setelah minum ia tidur kembali tapi sebelumnya ia minta dibacakan buku. Walah, saya yang dalam kondisi mengantuk kurang semangat untuk membacakannya. Tapi tetap saja saya bacakan meskipun dengan intonasi yang datar. Syukurlah tak lama kemudian ia tertidur.
Satu lagi keuntungan yang saya dapat dari membacakan cerita sebelum ia tidur adalah, anak saya tidak lagi meminta digendong atau merengek-rengek saat hendak tidur. Cukup mendengarkan cerita yang saya bacakan, saat sudah lelah dia sendiri yang meminta. "Udah, ah, bun....ngantuk. Mau bobo." Dan dengan sendirinya ia pun tertidur. Dan saya bisa kembali bermain gadget. :D
Dan keesokan paginya, saat bangun dari tidur ia mencari-cari buku cerita Upin Ipin yang saya bacakan itu. Tanpa tangisan dan rengekan tentunya. Dia tersenyum karena mengingat kalimat yang diucapkan teman Upin Ipin dalam buku cerita itu.
Hmm, jadi tidak salah juga dengan pernyataan teman saya itu, bahwa anak yang didongengkan oleh ibunya saat hendak tidur di malam hari, bisa memberikan keceriaan pada anak saat bangun keesokan paginya.
Tuh, ibu, bunda, mama, umi, ayo mendongengkan anak sebelum tidur! :)
Berikut adalah link tentang manfaat mendongengkan anak sebelum tidur:
http://m.detik.com/health/read/2010/09/02/143011/1433674/764/6-manfaat-mendongengkan-anak-sebelum-tidur

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images