Cabok Daun Sirih. Mitos atau Benar?

Tahu daun sirih kan? Pasti banyak yang tahu juga kegunaan daun sirih. Khusus untuk perempuan, katanya sih bagus untuk daerah kewanitaannya. ...

Tahu daun sirih kan? Pasti banyak yang tahu juga kegunaan daun sirih. Khusus untuk perempuan, katanya sih bagus untuk daerah kewanitaannya. Kan banyak juga tuh produk-produk sejenis(produk untuk daerah kewanitaan) yang menggunakan bahan dasar daun sirih. Ngerti, kan yah? :)
Dan ada juga yang menggunakan bahan daun sirih untuk meredakan batuk, yang diolah dengan madu. Mungkin masih banyak lagi kegunaan daun sirih untuk kesehatan atau yang lainnya.
Tapi disini saya bakalan beda ngebahas tentang daun sirih. Bukan ngebahas tentang kegunaan seperti diatas. Tapi, ternyata oh terynata...Daun sirih itu bisa digunakan untuk memperlancar anak-anak(usia 2-3 tahun) yang sulit atau belum lancar  berbicara. Eh, gimana ceritanya tuh, daun sirih bisa nyambung untuk lancar bicara? Hehe...gini loh ceritanya:
Entah ini mitos atau sugesti, saya sendiri masih bingung. Orang tua saya, yaitu ibu saya, punya mitos yang entah (juga) awalnya dari mana. Mungkin dari neneknya nenek saya, atau ibunya ibu saya, atau...ah...entahlah awalnya dari mana. Yang pasti saya tahu bahwa daun sirih bisa melancarkan bicara anak yang lambat bicara, setelah saya memiliki keponakan pertama kali. Waktu itu keponakan saya berusia 2 tahun kurang. Dan bicaranya belum lancar dan jelas (eh, memang wajar kayaknya yah umur segitu belum lancar bicara? :)). Tapi dasar ibu saya yang memang sudah menjadi ritual atau kebiasaan. Gak afdol rasanya kalau tidak menggunakan daun sirih untuk membuat lancar bicara cucunya. Cara penggunaannya begini; selembar atau beberapa lembar daun sirih dicabok (pukul-pukul) ke mulut si anak tiga kali sambil mengucapkan bismillah. Eittsss... tapi jangan sembarangan cabok. Mencaboknya harus hari Jumat, pas waktunya Shalat Jumat. Hihi...aneh yah. Ada-ada saja. Tapi itulah, kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang tua jaman dahulu. Entah kalau di daerah lain. Kebetulan orang tua saya asli dari Tangerang yang berdekatan dengan budaya Betawi. Dan cara itu sudah dilakukannya sejak dulu. Saya tidak sempat menanyakan dari mana awal kebiasaan itu.
Kembali lagi ke keponakan saya, yang sudah menjadi "korban" pencabokan daun sirih. Entah kebetulan atau tidak, keponakan saya itu setelah usianya 2 tahun menajdi lancar bicara bahkan terkesan cerewet. Apapun yang dia lihat pasti ditanyakan dan ketika dijelaskan selalu menjawab, "Kenapa?" (eh, bukannya kebanyakan anak kecil memang seperti itu, yah? Menanyakan segala sesuatu yang dilihatnya. Haha...Entahlah). Kami pun jadi menyimpulkan kecerewetan keponakan saya itu gara-gara dicabok dengan daun sirih.
Kemudian dari kakak yang lain, saya memiliki keponakan. Kali ini kakak saya yang satu ini tidak mau kalau anaknya di cabok dengan daun sirih. Dia memiliki pemikiran bahwa itu adalah sebuah kemusyrikan (hihi...bener gak sih? Kalau saya sih menyimpulkannya cuma lucu-lucuan aja). Akhirnya ibu saya mengalah dan tidak melakukan pencabokan ke keponakan saya yang satu itu. Lagi-lagi entah kebetulan atau tidak, keponakan saya yang tidak dicabok daun sirih itu memiliki pribadi yang pendiam. Melihat kenyataan itu, ibu saya berkomentar, "Gara-gara gak dicabok, tuh. jadi pendiam (bicaranya kurang)." Hahaha....kok jadi nyambung kesitu yah? Emang pribadinya aja kali yang pendiam.
Nah setelah saya menikah dan memiliki anak, sekarang saatnya anak saya yang menjadi "korban" pencabokan. Saya sih ikutin aja kemauan ibu saya, toh saya pikir ini untuk sebuah kebiasaan dan lucu-lucuan saja. Saat itu anak saya berusia dua tahun kurang. Jalannya sudah lancar, tapi bicaranya...yah, gitu deh. Namanya usia segitu pastikan masih belepotan dan kosakatanya masih sedikit. Tapi tetep ibu saya keukeuh kalau tidak dicabok, tidak afdol. Hehe....
Akhirnya, pas di hari Jumat dan tepat ketika shalat Jumat berlangsung, pencabokan itu pun dilakukan. Denagn mengucapkan bismillah dan mencabokkan daun sirih tiga kali ke mulut anak saya, ritual itu pun selesai. Tapi dasar anak-anak, anak saya malah mengambil sehelai daun sirih itu dan terus menerus memukul-pukul mulutnya berkali-kali, bukan tiga kali. Walaaah....gimana ini? kalau overdosis, bisa-bisa anak saya ngomongnya tidak terkontrol alias cerewet banget. Kenyataannya? Ya, entah kebetulan atau tidak, anak saya meskipun laki-laki, cerewetnya minta ampun. Ada saja yang ditanyakan. Saya bertanya A, dia menjawabnya bisa sampai Z. Apakah ini karena dicabok daun sirih? Entahlah.
Belajar dari sebuah pengalaman, ketika saya memiliki anak kedua, saya bertekad tidak akan mencabok mulut anak saya dengan daun sirih. Cukup buat saya, mendengar kecerewetan si sulung. Saya ingin biarkan anak saya tumbuh alami. Eh....Ternyata oh ternyata. Sepertinya itu tidak berpengaruh untuk anak kedua saya. Mau dicabok atau tidak dicabok daun sirih, cerewetnya melebihi kakaknya. Sekarang usianya tiga tahun. Bicaranya sudah seperti orang dewasa. Setiap orang yang terlihat akan pergi, ditanyanya sama dia.
"Mau kemana?" "Ngapain kesana?" Naik apa kesananya?" DDan yang lebih mengejutkan lagi, anak kedua saya itu mencoba menasehati siapapun yang akan pergi, "Hati-hati, yah." Begitu katanya. Dan jika yang akan pergi itu naik sepeda motor, pasti ia akan bilang, "Jangan lupa pake helm, yah." Walaaahhh, dek...dek...Saya yang mendengarnya cuma tersenyum simpul. Kemudian saya jadi teringat dengan pencabokan daun sirih. Ternyata cabok ataupun tidak dicabok daun sirih, tidak pengaruh untuk anak kedua saya. Jadi, kesimpulannya? Mitos atau benar? :)

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images