ASOKA, SUMI, DAN BU TINI

Tepat di tanggal 22 Desember, postingan saya cerita fiksi tentang ibu. Hujan deras terus mengguyur tanah-tanah yang lembab sejak ma...



Tepat di tanggal 22 Desember, postingan saya cerita fiksi tentang ibu.

Hujan deras terus mengguyur tanah-tanah yang lembab sejak malam hingga sahur tiba, membuat udara lebih dingin dari biasanya. Suara petir yang bersahut-sahutan menambah semarak hujan yang turun. Angin menyusup diam-diam melewati celah jendela dan pintu yang tertutup rapat, mendesir, bikin bergidik. Sumi mendekapkan tubuhnya sendiri mencari kehangatan. Dia belum berani untuk makan sahur, padahal ia ingin segera menyudahi sahurnya dan kembali tidur di balik selimutnya. Sumi mengintip kamar Bu Tini dari celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat. Nampak Bu Tini masih dalam balutan mukena dan duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Hmm, masih lama sepertinya, Sumi bergumam dalam hati. Sumi pun melangkah ke meja makan dan hanya menatapi hidangan yang sudah tersedia disana. Meskipun hanya telur mata sapi, oseng sawi dan tahu, tapi hidangan itu membuat Sumi ingin segera melahapnya.
“Kamu makan duluan saja, Sum.” suara lembut Bu Tini tiba-tiba terdengar dari arah kamarnya. Sumi yang sedang menatap hidangan di meja agak terkejut. Ia merasa mendapatkan tambahan angin segar saat Bu Tini menawarkannya makan duluan. Namun Sumi mengurungkan niatnya untuk makan lebih dulu. Sumi akan tetap menunggu Bu Tini hingga selesai shalat. Lagipula masih ada waktu satu jam lagi hingga imsak tiba.
“Nanti saja, Bu.” jawab Sumi dari luar kamar Bu Tini. Sumi tidak tega jika ia harus makan lebih dulu, sementara nanti Bu Tini makan seorang diri. Sumi tidak mau menambah kesedihan dan kesepian Bu Tini. Sejak suami Bu Tini meninggal sebulan sebelum Ramadhan tiba, Sumi sering melihat gurat kesedihan di wajah Bu Tini. Meskipun Bu Tini tidak pernah mengatakan secara langsung pada Sumi tapi Sumi melihat gelagat itu. Kadang Bu Tini duduk sendiri di teras samping sambil memandangi tanaman Bunga Asoka yang sangat disukainya. Setiap hari tanaman Bunga Asoka itu disiram dan diurus dengan baik. Bu Tini sangat telaten dalam mengurus soal tanaman. Masih banyak lagi beberapa tanaman selain Bunga Asoka yang ditanamnya, meskipun cuma dalam pot kecil.
“Ayo, Sum…kita makan.” ajak Bu Tini yang baru saja keluar dari kamarnya. . Beliau sudah selesai melaksanakan shalat malamnya. Sumi yang sedang menonton acara sahur di televisi segera beranjak dari ruang tengah dan memenuhi ajakan Bu Tini. Sumi siap menemani bu Tini makan sahur. Tak ada percakapan saat menikmati makan sahur kali ini. Bu Tini lebih banyak diam tidak seperti hari-hari biasanya. Sumi tidak berani untuk memulai perbincangan dengan Bu Tini. Mungkin ada sesuatu yang dipikirkan oleh beliau, begitu pikir Sumi. Jadilah sahur kali ini menjadi sahur tersunyi dari sahur-sahur sebelumnya bagi Sumi dan Bu Tini.
***
Bu Tini duduk di teras samping, masih dengan kebiasaannya memandangi tanaman Bunga Asoka kesukaannya. Bunga Asoka yang dalam bahasa sansekerta  memiliki arti bebas dari rasa sedih, berharap bisa membebaskan perasaan sedih yang dirasakan Bu Tini. Dari sebelah Timur, matahari pagi  menyinari sebagian tubuhnya yang ringkih. Kemudian pandangannya jatuh pada satu kupu-kupu yang hinggap di atas Bunga Asoka, menghisap sari dari Bunga Asoka itu. Dan satu kupu-kupu yang lain hanya terbang mengitari Bunga Asoka tanpa hinggap diatasnya. Mungkin kupu-kupu itu sudah kenyang, pikirnya.  Sesekali pandangan Bu Tini mengarah ke samping kirinya, melihat pemandangan luar jalan yang terlihat dari teras. Suara deru kendaraan bermotor dan lalu lalang orang berjalan, tidak mengurangi rasa sepi yang dirasakannya pagi ini.
“Sum, ini sudah hari keberapa?” tanya Bu Tini tiba-tiba. Suaranya pelan mendayu. Sumi yang sedang menyapu halaman depan menoleh ke Bu Tini.
“Kelima belas, Bu.” jawab Sumi singkat. Sumi kembali melanjutkan tugasnya menyapu. Sudah beberapa kali ini selama Ramadhan, Bu Tini selalu menyakan hal yang sama. Seperti ada yang ditunggunya. Sumi berkesimpulan, Bu Tini menanti kedatangan anak-anak dan cucu-cucunya. Selama bulan Ramadhan hanya Sumi yang menemani Bu Tini dirumahnya. Perubahan yang drastis setelah kepergian suaminya membuat Bu Tini merasakan kesepian dan kesedihan yang luar biasa. Keenam anaknya tak ada satupun yang bisa menemaninya di rumah ini. Mereka semua sudah berkeluarga dan memiliki kehidupan masing-masing. Bu Tini memaklumi itu, ia tidak bisa menuntut anak-anaknya untuk menemaninya kapan saja. Bahkan empat dari keenam anaknya tinggal dikota yang berbeda dengannya.
Sumi sesekali menoleh Bu Tini. Masih dengan posisi yang sama, Bu Tini duduk di teras samping sambil memandangi Bunga Asoka kesayangannya. Sekilas Sumi melihat tangan kiri Bu Tini menyeka sudut mata kirinya. Bu Tini menangis dalam kesendiriannya. Sumi merasa kasihan melihat bu Tini. Kehilangan seseorang yang selalu menemaninya hampir lima puluh tahun itu tidaklah mudah. Apalagi kini beliau hanya sendiri melewati hari tuanya, tanpa satupun anak-anak dan cucu-cucunya yang mau menemaninya di rumah ini. Apalah arti rumah yang mewah sekalipun jika tak ada kehangatan dari orang-orang yang dikasihinya. Bu Tini merindukan mereka. Ingin rasanya Bu Tini meminta mereka untuk menemaninya. Tapi lagi-lagi perasaan tidak enak selalu merasukinya. Bu Tini merasa tidak berhak untuk meminta anak-anaknya menemaninya disini. Mereka punya kehidupan sendiri. Kalaupun jika mereka ingin menemaninya itu karena keinginan mereka sendiri bukan karena permintaannya.
Suara azan terdengar. Waktu shalat zuhur tiba. Bu Tini mulai beranjak dari lamunannya. Begitulah kebiasannya selama Ramadhan ini, duduk di teras samping sambil melihat tanaman Bunga Asoka kesayangannya dan merenungi kesendiriannya. Dan ketika tiba azan zuhur berkumandang, baru ia beranjak untuk segera menunaikan shalat zuhur. Sumi memperhatikan langkah tertatih Bu Tini. Badannya mulai membungkuk. Bu Tini sudah terlihat semakin renta. Dulu, awal Sumi bekerja disini dua tahun yang lalu, ia melihat Bu Tini masih terlihat segar. Beliau masih cekatan mengurus bapak yang memang sudah sering sakit-sakitan setahun belakangan. Mengantarkan bapak ke Rumah Sakit untuk cuci darah seminggu dua kali. Diam-diam Sumi salut dengan kesetiaan Bu Tini yang selalu mendampingi bapak. Tak ada keluhan dari mulut Bu Tini saat merawat bapak. Meskipun bapak selalu ingin ada Bu Tini disampingnya, tapi Bu Tini tidak merasa terkekang oleh keadaan itu. Beliau menikmatinya. Oleh karena itu, sekarang Bu Tini merasa kehilangan. Tak ada lagi rutinitasnya menjaga bapak, mengantarkan bapak ke Rumah Sakit, dan menyiapkan apa-apa yang diinginkan bapak. Bu Tini merasa kehilangan, sangat kehilangan.
***
Matahari pagi kali ini tidak terlalu cerah memancarkan sinarnya. Kemungkinan hujan akan turun. Tapi Bu Tini tetap pada kebiasaannya, duduk di teras samping sambil memandangi tanaman kesayangannya, Bunga Asoka. Kali ini Bu Tini tidak hanya duduk, sesekali ia membersihkan dan menata tanaman yang menurutnya kurang menarik dilihat. Beberapa diantara Bunga Asoka berwarna putih yang kemarin mekar indah, kini ada yang terlihat layu dan menghitam. Bu Tini mencabuti bunga yang layu. Beliau juga memindahkan pot-pot tanaman kecil  keluar, agar jika hujan tiba tanaman itu akan ikut tersiram. Sumi yang sedang menyetrika pakaian sesekali mencuri pandangannya pada Bu Tini.  Lelah dengan pekerjaannya memindahkan pot-pot itu, Bu Tini kembali duduk di kursi teras di depan tanaman Bunga Asoka. Pikirannya kembali menerawang.
“Sum, ini sudah hari keberapa?” Pertanyaan yang sama kembali dilontarkan  Bu Tini pada Sumi.
“Kedua puluh lima, Bu.” sahut Sumi yang selalu setia menjawab pertanyaan yang sama dari bu Tini. Sumi menyahut agak kencang, ia takut bu Tini yang sedang berada di teras samping tidak mendengar ucapannya. Ruang tempat setrika tidak jauh dari teras samping, hanya di sekat oleh kisi-kisi jendela yang terbuka. Jaraknya kira-kira tiga meter. Dan dari ruang setrika Sumi masih bisa melihat wajah Bu Tini. Pandangan Bu Tini kembali pada Bunga Asoka dihadapannya. Bunga Asoka yang berwarna orange nampak berbunga semua tiap kuncupnya, bergerombol indah. Sedikit senyuman terukir dari sudut bibir Bu Tini. Ya, ternyata Bunga Asoka mampu membebaskan sedikit rasa sedih yang dirasakan Bu Tini, sesuai dengan arti yang dimilikinya. Tiba-tiba senyum Bu Tini menghilang. Ia teringat akan kesendiriannya, anak,  cucu, dan suaminya. Lebaran akan tiba beberapa hari lagi, tapi Bu Tini masih sendiri. Kemana anak-anak dan cucu-cucunya berada? Guratan kesedihan muncul lagi di wajahnya. Bu Tini menangis lagi. Sumi yang melihat itu segera menghampirinya.
“Bu, sebaiknya Ibu telepon salah satu anak ibu. Minta mereka temani Ibu disini.” saran Sumi yang sudah bersimpuh di samping kursi Bu Tini. Bu Tini menggeleng sambil terisak. Sumi tidak tega melihatnya. Diusapnya bahu Bu Tini. Beliau makin terisak dengan perlakuan Sumi. Siapalah Sumi yang begitu perhatian dan rela menemaninya disini, sedangkan anak kandungnya tak ada satupun yang mau menemaninya.
“Antarkan aku ke kamar, Sum.” pinta Bu Tini di sisa isak tangisnya, berbarengan dengan itu suara azan zuhur berkumandang. Tanpa membantah, Sumi menuntun Bu Tini menuju kamarnya. Hingga maghrib tiba, Bu Tini baru keluar dari kamarnya.
***
“Bu, ini hari terakhir  Ramadhan.” seru Sumi tanpa ditanya ini hari keberapa. Bu Tini tersenyum. Nanti malam anak-anak dan cucu-cucunya akan datang. Begitulah kabar yang mereka berikan melalui telepon tadi siang. Bu Tini mulai sibuk menyiapkan segalanya untuk menyambut anak-anak dan cucu-cucunya.
Tiba lah saat yang dinanti. Suasana malam takbiran sedikit ramai di kediaman rumah Bu Tini. Tiga dari keenam anak Bu Tini sudah berada disini,  begitupun cucu dan menantunya. Ketiga anak Bu Tini yang lain akan datang setelah mereka selesai shalat Ied besok. Wajah Bu Tini sumringah, keceriaan terpancar dari wajah rentanya. Sumi ikut senang melihatnya. Berbeda dengan sebulan terakhir, yang Sumi lihat hanya kesedihan di wajah Bu Tini. Beliau nampak sibuk menyiapkan makanan untuk disajikan malam itu, Sumi ikut membantu. Esok pagi usai shalat Ied, Sumi akan pulang ke kampungnya. Sumi juga kangen emaknya. Sumi kembali memperhatikan Bu Tini. Beliau masih terlihat sibuk, ada saja yang kurang buat Bu Tini untuk memenuhi hidangan untuk anak-anak tercintanya.
Satu malam, dua malam, hingga tiga malam, Bu Tini masih terlihat ceria. Tapi begitu memasuki malam keempat usai lebaran, wajah Bu Tini kembali meredup. Kesepian dan perasaan sedih akan kembali menghampirinya. Malam keempat setelah Lebaran, Bu Tini hanya duduk diam di depan televisi. Matanya mengarah pada acara yang sedang berlangsung, tapi pandangannya kosong. Suara celoteh cucu-cucunya yang akan meninggalkannya esok, tak dihiraukannya. Bu Tini diam-diam menyeka sudut matanya. Beliau tidak ingin terlihat sedih di depan anak dan cucunya. Esok pagi Bu Tini benar-benar sendiri. Anak-anak dan cucu-cucunya akan kembali pada kehidupan mereka masing-masing. Sumi yang setia menemaninya pun tidak ada.     
“Ibu tidak apa-apa kan sendiri?” tanya salah satu anaknya. Bu Tini menggeleng, mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa. Manalah mungkin Bu Tini akan mengatakan keberatan ditinggalkan pada anak-anaknya. Selama ini yang anak-anaknya tahu, Bu Tini adalah seorang ibu yang kuat, tegar menghadapi persoalan apapun. Jadi tidak ada sedikit kekhawatiran dari mereka meninggalkan Bu Tini seorang diri. Tapi mereka lupa, semakin hari usia Bu Tini tidak lagi muda. Usia beliau semakin senja dan butuh orang-orang yang dikasihinya berada didekatnya. Satu persatu anak-anak dan cucu-cucu Bu Tini berpamitan. Mereka menciumi punggung tangannya bergantian.
Kini Bu Tini benar-benar merasa sendiri. Tak ada anak-anak dan juga Sumi. Beliau merasa kesepian, sangat kesepian. Bu Tini duduk di teras samping, memandangi Bunga Asoka kesayangannya. Hanya Bunga-bunga Asoka yang menemaninya saat ini. Dia ingin bebas dari rasa sedih, seperti arti yang dimiliki Bunga Asoka kesayangannya. Tapi ternyata, kesepiannya tak mampu menahan kesedihannya. Kali ini Bunga Asoka tak mampu memberikan pengaruh besar pada Bu Tini. Arti yang dimilikinya tak mampu membebaskan rasa sedih pada Bu Tini.  Beliau tak sanggup lagi dengan kesendiriannya. Akhirnya Bu Tini beranjak dari teras dan  mengambil telepon selulernya. Beliau  menghubungi seseorang.
“Halo…Sumi…kamu harus cepat kembali kesini.” suara Bu Tini bergetar memohon. Ya, hanya Sumi yang bisa dihubunginya. Dan hanya Sumi yang mengerti kesepian dan kesedihan yang dirasakan Bu Tini. *** 

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images