IBU, CINTA TANPA AKHIR

Saya seorang perempuan, dan saya menganggap diri saya hanyalah perempuan biasa-biasa saja. Tapi disini, saya akan menceritakan perempuan ya...

Saya seorang perempuan, dan saya menganggap diri saya hanyalah perempuan biasa-biasa saja. Tapi disini, saya akan menceritakan perempuan yang luar biasa dan hampir sempurna menurut saya. Beliau perempuan, yang secara fisik, sama dengan perempuan-perempuan lainnya. Beliau tak berotot layaknya seorang gatot kaca, tapi beliau kuat, lebih kuat malah dari gatot kaca. Beliau tidak sekolah hingga sarjana, tapi bagiku beliau pintar, bahkan lebih pintar dari perempuan yang lulusan S3 sekalipun.
Setiap hari, sepanjang hidupnya, beliau bangun pagi, menyiapkan segala kebutuhan untuk suami dan keenam anaknya. Semua itu beliau kerjakan dengan baik walau sesekali rasa lelah itu ada. Beliau juga bekerja di luar rumah, mengabdi untuk kecerdasan murid-muridnya. Setiap hari ia lakukan rutinitas itu, mengurus keluarga, mengajar hingga siang hari, dan kembali kerumah melakukan pekerjaan rumah tangganya. Perlakuan anak-anak dan suaminya, yang kadang ada yang membuatnya jengkel dan kesal, hanya ia telan dan pendam dalam hati. Karena ia tak ingin ada perkataan yang buruk keluar dari mulutnya. Pengabdiannya pada seorang suami pun patut diacungi jempol. Dari awal menikah hingga suaminya menemui ajalnya, beliau dampingi tanpa lelah. Tak ada air mata deras mengalir di pipinya. Aku tahu beliau sedih, tapi beliau ikhlas. Semua itu sudah takdir, sudah jalanNya. Hanya matanya yang berkaca-kaca yang menghantarkan kepergian suami tercintanya.
Saat ini beliau sendiri, tak ada lagi belahan jiwanya yang selalu menemaninya dalam menanggapi setiap obrolan dan kegiatannya sehari-hari. Keenam anaknya hanya bisa menemaninya seperlunya. Beliau memakluminya, karena mereka, anak-anaknya, sudah berkeluarga. Tak ada yang beliau harapkan di hari tuanya selain melihat anak-anaknya bahagia dan rukun selalu. Tanpa terucap, anak-anaknya pun bangga dengan apa yang dimiliki perempuan itu. Meskipun beliau tak bersayap tapi layaknya seorang malaikat, yang menjadi pelindung anak-anaknya dalam doanya.
Syukur Alhamdulillah, saya mengenal perempuan itu. Dan saya pun berkesempatan dalam seumur hidup saya untuk memanggil perempuan itu dengan sebutan MAMA. 


You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images