POTRET ANAK JALANAN YANG TAK ADA HABISNYA

Perjalanan siang itu, saya menumpang angkot jurusan Sederhana-Cijerah. Tujuan perjalanan saya adalah untuk berkunjung ke rumah seorang teman...

Perjalanan siang itu, saya menumpang angkot jurusan Sederhana-Cijerah. Tujuan perjalanan saya adalah untuk berkunjung ke rumah seorang teman di Jalan Pajajaran. Penumpang yang sedikit di dalam angkot yang saya tumpangi, membuat si supir angkot lebih memperlambat laju angkotnya. Sepertinya si supir berharap akan mendapat muatan lagi sehingga angkotnya penuh oleh penumpang dan setoranpun lancar. Siang itu, Alhamdulillah cuaca cukup cerah, jadi perjalanan ini tidak terlalu direpotkan dengan jalanan yang becek, macet, dan gak ada ojeg. Hehe...Saya sesekali melepas pandangan ke jalan, tak ada yang menarik. Hanya terlihat lebih lengang tidak macet seperti biasanya. Padahal hari itu hari jumat dan ini Bandung gitu loh, yang tiap weekend-bahkan tiap hari-selalu diwarnai dengan kemacetan. Makanya saya biasanya lebih suka di rumah saja, kalaupun ingin keluar yang harus menggunakan kendaraan, itu karena memang benar-benar penting.
Tepat di lampu lalu lintas dan kebetulan lampu yang menyala adalah merah, mau tidak mau angkot yang saya tumpangi pun berhenti. Kesempatan bagi para pengamen merapat pada kendaraan yang berhenti. Mereka, para pengamen jalanan mulai melantunkan suaranya. Dari yang suaranya pas-pasan hingga suara yang merdu sekali. Bener loh, saya sering mendengar beberapa pengamen yang suaranya lebih merdu dari suara vokalis band yang pernah tersandung video porno itu (eh, kok malah membandingkannya dengan orang itu, hihi). Saya pikir, kenapa pengamen itu gak jadi penyanyi beneran aja yah, daripada dia d jalanan gak jelas. Eh, tapi gak semudah itu kayaknya untuk menjadi seorang penyanyi beneran. Ah, sudahlah...abaikan saja tentang pengamen bersuara merdu itu.
Tiba-tiba mata saya tertuju pada anak kecil yang kira-kira berusia 5 tahun. Dia bersandar pada pintu angkot yang saya tumpangi, yang sedang berhenti karena lampu merah menyala. Dia mengambil kesempatan itu untuk mengamen. Saya bertanya-tanya, baru seusia itu dan ia sudah dibebani untuk mencari uang? Kemana orang tuanya? Belum lagi pertanyaan dalam pikiran saya terjawab, anak kecil yang mengamen itu ( sebenarnya bukan mengamen, anak itu hanya bertepuk tangan dengan mengeluarkan suara yang lebih seperti suara gumaman) berteriak pada temannya diseberang jalan, yang usianya tidak jauh beda dengannya. Dia berteriak memanggil temannya sambil tangannya mengisyaratkan seperti sedang merokok. Astaghfirullah...ternyata maksudnya adalah anak itu berteriak pada temannya untuk meminta rokok. Refleks mata saya melotot pada anak itu yang sedang mengarah pada saya dan menengadahkan tangannya untuk meminta uang. Maaf, sedikitpun saya tidak simpati dan memberi anak itu uang. Saya tidak ingin jadi kebiasaan anak itu untuk terus menegadahkan tangannya untuk meminta-minta dan uang yang dia dapatkan digunakan untuk hal-hal yang tidak benar. Lalu salah siapakah ini, yang menjadikan anak sekecil itu berkeliaran di jalanan dan hidup seperti yang seharusnya tidak ia jalani? Mata saya kemudian lepas ke seberang jalan dari dalam angkot yang saya tumpangi. Disana duduk dipinggiran trotoar, bersandar pada dinding sebuah rumah sakit. Beberapa anak muda dan satu orang perempuan sedang bercengkrama. Dan diantara mereka ada pula anak bayi berusia sekitar satu tahun sesang dipangku oleh salah satu pemuda disitu. Entah itu anak siapa. Seorang ibu, yang duduk di sebelah saya di dalam angkot, memberi informasi yang mengejutkan pada saya. Bahwa anak bayi yang ada diantara pemuda dan satu orang perempuan itu adalah anak dari perempuan itu. Dan yang lebih mengejutkan, perempuan itu baru berusia 13 tahun. Lalu siapa bapak dari bayi itu? Astaghfirullah. Potret anak jalanan Indonesia, siapakah yang bertanggung jawab dalam hal ini? Pemerintah, orang tua anak-anak jalanan itu, atau kita? Setidaknya kita sebagai orang tua, atau yang kelak akan menjadi orang tua, seyogyanya bisa bertanggung jawab dalam mendidik dan mengasuh anak-anak kita. Jangan sampai mereka lepas terlantar di jalanan bahkan menjadi tulang punggung bagi keluarganya di usianya yang sangat dini. Biarkan mereka belajar dan bermain sesuai dengan usianya. Semoga anak-anak kita dijauhkan dari pergaulan dan hal-hal negatif yang membuat mereka harus kehilangan masa kanak-kanaknya.
Tanpa saya sadari lampu hijau mulai menyala. Angkot yang saya tumpangi melaju dan mata saya masih menatap anak-anak yang masih berkeliaran di jalanan. Pikiran saya menerawang ke anak-anak saya di rumah, mereka seumuran anak saya dan seharusnya mereka masih butuh kasih sayang kedua orang tuanya, bermain di tempat bermain, belajar, dan bermanja-manja dengan kedua orang tuanya. Tapi nyatanya mereka lebih akrab dengan dunia jalanan, dunia yang sangat keras untuk anak seusia mereka. Angkot yang saya tumpangi terus berjalan menjauh dan meleburkan tatapan saya pada anak-anak jalanan yang terlihat riang di tempat yang bukan seharusnya mereka berada. Miris.

You Might Also Like

3 komentar

  1. Masalah yang memang susah dicari penyelesaiannya karena ada yg benar2 tidak mampu, ada yg karena malas. Nice post mak :))

    ReplyDelete
  2. memang bingung dengan keadaan tersebut, antara memberi tapi bisa mengajarkan mereka untuk malas bekerja, dan tidak memberi tapi kasihan. akhirnya saya memutuskan untuk tidak memberi dalam bentuk uang, tapi jika saya membawa makanan saja. Biarlah terkadang saya dilihatin oleh orang2 karna saya tidak memberi... :(

    ReplyDelete
  3. terima kasih komentarnya Mak Lusiana dan Mak Riski. Ya, kadang kita dilema yah sama para pengemis dan anak2 yang mengamen gak jelas gitu. Mau ngasih, nanti malah jadi kebiasaan. Gak ngasih nanti dibilang gak kasihan. Lha, ortu mereka pun terlihat duduk2 asik di pinggiran trotoar membiarkan anaknya berkeliaran bebas d jalalanan. bwlum lagi berita yang lagi heboh tentang pemngemis yang kaya raya. hehe...jadi harus bagaimana yah? :)

    ReplyDelete

Flickr Images