SEKOLAH DI USIA DINI? PERLU GAK, YAH?

Duh, bingung. Kenapa bingung? Sebenarnya gak harus dibikin bingung sih. Apa sebab? Begini loh, anak saya yang kedua sekarang usianya sudah l...

Duh, bingung. Kenapa bingung? Sebenarnya gak harus dibikin bingung sih. Apa sebab? Begini loh, anak saya yang kedua sekarang usianya sudah lebih dari 3 tahun, dan 3 bulan lagi akan memasuki usia 4 tahun. Tapi saya belum menyekolahkan anak saya, entah itu PAUD, playgroup, taman bermain, atau apalah yang berbau- bau sekolah. Sebenarnya gak masalah sih, tapi kalau di sekitar kita, yang anak-anaknya usia 3 tahun sudah disekolahkan, apalagi banyak yang menyarankan pada saya, "Udah sekolahin aja anaknya biar cepat pintar." Huft...Cepat pintar? Emang kalau di rumah aja, belajar sama emaknya, gak bisa pintar yah? Et, dah.....pemikiran darimana itu. :). Hmm, agak gerah juga dengarnya.
Ok...ok...ini pengalaman saya. Dulu, waktu anak pertama saya, saya ambisius untuk mengajari anak baca tulis sejak dini. Usia 3 tahun sudah disekolahkan di playgroup, 6 tahun masuk SD dengan dibekali bisa menulis dan membaca. Jujur, dengan sedikit paksaan, karena syarat masuk SD saat itu harus bisa baca dan tulis walaupun tidak sampai dimasukkan sekolah calistung. Apakah anak itu cepat pintar atau lebih pintar dari eman-temannya yang lain? Tidak juga. Tapi memang untuk urusan bersosialisasi, anak saya yang pertama jagonya. Waktu kecil ia tidak pernah mengalami syndrom lingkungan baru. Bahkan ketika masuk playgroup pun gak ada acara tangis-tangisan minta ditunggu bundanya di dalam kelas. Ya , Alhamdulillah. Tapi bukan berarti, tujuan menyekolahkan anak lebih dini, untuk mencekoki anak belajar membaca dan berhitung secara paksa. Jangan, deh. Kalau untuk bersosialisasi sih oke-oke aja.
Dan untuk anak yang kedua, perasaan ambisius itu memudar. Saya bebaskan dia bermain dan maunya apa dengan sesekali menyelipkan huruf dan angka untuk dikenalkan pada si kecil. Di usianya sekarang yang sudah memasuki usia hampir 4 tahun, saya tidak memaksanya untuk menyekolahkan di playgroup. Toh, dia terlihat nyaman di rumah, bermain, menyanyi, menulis di kertas apapun yang mau dia tulis. Saya ajarkan bagaimana caranya memegang bolpoin. Saya kenalkan ia satu huruf A. Tapi dia belum sempurna melakukannya. Malah ia menggambar sesuatu yang membuat saya surprise dibuatnya, gambar orang. Dengan bulatan dan dua titik membentuk mata, garis dibawah bulatan besar sebagai badannya. WOW...buat Saya itu amaze banget. Dan suatu kali dia ingin bermain pentul korek apI karena dia melihatnya di dapur. Kemudian saya berikan tanpa bungkusnya. Dia sejajarkan pentul itu. Lalu Saya kepikiran untuk mengenalkan huruf dengan pentul itu. Saya bentuk tiga pentul korek api seperti huruf A dan memberitahu ia bahwa itu huruf A. Dia pun mengangguk-angguk dan mengikutinya meskipun belum sempurna. Saya pikir dia akan lupa dengan yang saya ajarkan itu. Hingga suatu hari dia bermain dengan beberapa pensil. Disejajarkan pensil itu. Saya menemaninya tanpa memperhatikannya. Tiba-tiba ia berteriak, " Bunda...ini huruf A, coba lihat!" aku menoleh dengan malas-malasan dan mengira pasti bukan benar-benar huruf A. Ketika Saya memperhatikannya, ternyata benar ia membentuk pensil-pensil itu menjadi seperti huruf A. Dan bukan satu yang ia buat tapi 3 huruf A. Saya pun langsung memujinya, "Wah, ade hebat." Dia pun senyum-senyum sambil berkata, "Hebat kan?"
Saya makin yakin untuk tidak terburu-buru mengajarkan ia calistung. Meskipun saya dan suami berniat menyekolahkannya ke TK saat ia sudah masuk usia 4 tahun. Tapi tetap saya tidak akan memaksakannya dulu untuk bisa membaca, saya biarkan ia mengeksplore dirinya sendiri. Toh, lambat laun anak itu akan bisa dengan sendirinya tanpa paksaan. Sebagai orang tua, tetap saya akan membimbingnya. Seperti halnya dulu saat anak belum bisa berjalan dan berbicara. Tidak mungkin orang tua memaksakan anaknya untuk berjalan dan berbicara jika memang belum waktunya, akan terasa aneh bukan? Begitupun dengan membaca, bila sudah waktunya ia pun akan bisa dengan sendirinya, dengan pelan-pelan melatihnya. Benar gak sih? Atau ibu-ibu/mak-mak punya saran lain? ***

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images