WISATA KE KOTA TANGERANG

                                     Kenal dengan Kota Tangerang, kan? Itu, loh tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Hehe...si...



                                     Kenal dengan Kota Tangerang, kan? Itu, loh tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Hehe...siapa saya? Gak penting dimana saya lahir dan dibesarka kali, yah? Hihi. Kalau ada yang belum tahu dimana letak Kota Tangerang, coba deh buka google map nya. :D. Ada gak? Terdeteksi, gak? duh, kasihan banget. 
Oke, oke...Kalau belum pada tahu, akan saya ceritakan sedikit tentang Kota Tangerang. Kota Tangerang itu terletak dibagian perbatasan barat dan Selatan Jakarta. Meski saya sekarang berdomisili di Bandung, tapi saya sering mengunjungi ke sana, karena masih ada orang tua dan saudara-saudara saya yang tinggal di Tangerang.           

                        
                                    Satu tempat yang saya tuju jika ke Tangerang selain ke rumah orang tua saya adalah, mencicipi kulinernya. Tempat kuliner yang tidak pernah bosan saya kunjungi adalah daerah Pasar Lama. Pasar Lama terletak di Jalan Kisamaun. Kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah orang tua saya.
                                     Kemarin (Desember 2014),saat liburan sekolah anak saya, selama seminggu saya dan anak-anak memilih berlibur ke rumah orang tua saya, di Tangerang. Banyak berubah dari keadaan Kota Tangerang dahulu dan sekarang. Wajah Tangerang sekarang lebih hidup, banyak tempat yang bisa dikunjungi. Beda dari jaman sebelum tahun 2000an.
                                     Sejak sekitar tahun 2000-an, Tangerang semakin dikenal dengan daerah pecinannya. Daerah Pecinan terletak di kawasan Pasar Lama. Kebudayaan-kebudayaan Tionghoa, seperti pertunjukan Barongsai dan Perlombaan Perahu Naga (Perayaan Pecun) di sepanjang Sungai Cisadane. Perayaan Pecun secara rutin di laksanakan oleh Pemerintah Daerah Tangerang setiap tanggal 5, tahun ke 5, penanggalan Imlek. Perayaan Pecun menjadi ketertarikan sendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Tangerang.
                                     Ketika kita memasuki kawasan Pasar Lama, di sepanjang jalan tersebut banyak penjual berbagai makanan. Ada beberapa makanan yang menjadi makanan khasTangerang. Seperti Laksa, Kue Ape, Asinan Bedeng, Asinan Lanjin, Kue Rangi, Es Podeng, Ketoprak, dan Opak ketan yang diolesi gula caramel. 
                     Salah satu jajanan yang ada di kawasan Pasar Lama. Kue Ape dan Pancong
                                                  (kalau di Bandung namanya Bandros)

                                    

                                JL. Cilame, Pasar Lama, tempat menuju Kelenteng Boen Tek Bio
                                                               dan Benteng Heritage
                                     Jalanan sepanjang Pasar Lama itu tidak pernah sepi, banyak mobil parkir hingga menutupi setengah jalan. Anehnya hal itu dibiarkan, malah sudah menjadi cirri khas kawasan itu.
                                     Jika kita memasuki bagian dalam Pasar Lama,tepatnya di Jl. Cilame, terdapat Kelenteng yang bernama Boen Tek Bio, Kelenteng tersebut diperkirakan berdiri sejak tahun 1684. Dan kali ini saya berkesempatan berkunjung ke Kelenteng Boen Tek Bio. Kelenteng Boen Tek Bio di dominasi dengan warna merah, di bagian dalamnya terdapat bermacam-macam altar tempat masing-masing dewa bersemayam. Altar yang paling besar ditempati oleh Dewi Kuan Im. Saat memasuki Kelenteng, kita akan disambut dengan pintu sebelah kiri yang bertuliskan “Pintu Kebenaran” di bagian atasnya. Dan saat keluar melewati pintu sebelah kanan yang di bagian atas bertuliskan “Pintu Kesusilaan”. Sayangnya saya lupa menanyakan arti dari tulisan itu di setiap pintunya. 
                            Altar terbesar Dewa Kuan Im, di dalam Kelenteng Boen Tek Bio

                           Pintu Kebenaran/Pintu Masuk ke dalam Kelenteng Boen Tek Bio


                                 Pintu Kesusilaan/Pintu Keluar dari Kelenteng Boen Tek Bio


                                                Tampak depan Kelenteng Boen Tek Bio



                                 Tak jauh dari Kelenteng, tepat di belakangnya, dan harus memasuki kawasan pasar lebih dalam, ada sebuah museum yang didalamnya terdapak perna-pernik dan sejarah tentang kebudayaan Tionghoa hingga masuk ke Kota Tangerang. Museum itu bernama Benteng Heritage. Benteng Heritage buka dari hari Selasa-Minggu, pukul 10.00-15.00. Untuk masuk ke dalam Museum, pengunjung perlu merogoh saku sebesar Rp. 20.000/orang dewasa dan Rp. 10.000/anak. Museum atau Benteng Heritage terdapat dua lantai. Sayangnya, di dalam museum, pengunjung dilarang mengambil gambar/foto.
                                    Di dalam Benteng Heritage terdapat tulisan tentang kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho, seorang Laksamana muslim keturunan Tionghoa yang menjelajahi Asia dan Afrika dengan menggunakan kapal besarnya. Konon kapal milik Laksamana jauh lebih besar dibandingkan kapal milik Colombus (penemu Benua Amerika).  Selain itu terdapat pernak pernik peninggalan kerjaan Tionghoa pada jamannya, seperti sepatu perempuan yang memiliki ukuran kaki yang sangat kecil. Ukuran sepatu itu seukuran dengan kaki bayi yang baru lahir, namun sebenarnya sepatu-sepatu itu milik perempuan-perempuan dewasa bangsawan China jaman dulu. Konon katanya, kecantikan dari perempuan-perempuan Tionghoa saat itu dilihat dari ukuran kakinya. Semakin kecil ukuran kakinya, semakin menarik/cantik perempuan itu. Lucu, yah? Kebayang dong bagaimana cara jalan perempuan itu dengan telapak kaki yang kecil menumpu betis orang dewasa (jadi inget Nyonya Puff yang di Spongebob :D). Makanya jaman dulu, para bangsawan perempuan jika keluar rumah selalu ditandu oleh para pengawalnya. Pernah liat kan di film-film China dengan setting jaman dulu? 
                                     Selain sepatu, masih banyak barang-barang peninggalan pada jaman kerajaan Tionghoa dulu, diantaranya; baju pengantin, permainan kartu mahyong, catur, kursi, dan barang-barang lainnya. 
                                                            Benteng Heritage/Museum



                                     Selepas mengunjungi Benteng Heritage, saya langsung menyerbu kuliner yang tadi berada di sepanjang jalan Kisamaun, kawasan Pasar Lama. Ketoprak, Es Podeng, Otak-otak dan Kue Ape yang jadi sasaran jajanan saya kali ini. 

                                                                        Ketoprak

                                                                        Otak-otak
                                     Karena waktu sudah siang dan saya membawa dua krucils, ditambah cuaca yang cukup panas, saya memutuskan membawa pulang makanan yang saya beli, tidak makan ditempat. Meski saat itu jam makan siang,banyak pengunjung yang memilih makan di tempat.
                                     Akhirnya saya memutuskan pulang dengan menumpang becak. Ya, di Tangerang Becak masih menjadi alternative kendaraan umum yang dipakai untuk kemana-mana. Dari kawasan Pasar Lama tidak jauh menuju kediaman orang tua saya. Dengan menumpang Becak, kita hanya perlu membayar sekitar Rp. 5000 – Rp. 7000 dan bisa duduk tenang tanpa kepanasan, diantar pula sampai depan rumah. Asyiik, kan. Becak…Becak…Ayo bawa saya. ;)
                                    

You Might Also Like

3 komentar

  1. Yuan

    Ga ngicip ke bantal apotik ledo?
    Pempek nya juga endesss tapi malem

    ReplyDelete
  2. Iya, Mak Dy...kue bantal alias odading bukan? Itu mah di bandung ge aya. Hehe...
    Pempeknya blm nyoba, blm pernah ngerasain wisata malam di daerah pasar lama. Kapan2, deh kalau ke sana lagi. :)

    ReplyDelete
  3. Hahaha itu mah kedemenan gw ya
    Kue bantal

    Bawang Goreng situ Enak
    Yg pas di gang deket tukang melon

    ReplyDelete

Flickr Images