Anak UN, Emak Rempong

Memiliki seorang anak yang beranjak ABG dan akan memulai masuk Sekolah Menengah Pertama, bikin saya banyak mengalami ketegangan. Berawal dar...

Memiliki seorang anak yang beranjak ABG dan akan memulai masuk Sekolah Menengah Pertama, bikin saya banyak mengalami ketegangan. Berawal dari si anak yang akan mengikuti UN Ujian Nasional). Persiapan yang gak puguh, bingung harus bagaimana. Meski tahu, yang penting anak harus belajar sebelum-sebelumnya dan menjaga si anak agart tetap tenang  saat hari H-nya. Tapi kalau emaknya gak tenang, gimana anaknya mau ditenangin? :D
"Gimana, Mas, udah siap?" pertanyaan yang sering saya ajukan pada anak sulung saya menjelang UN.
"Tenang aja, sih, Bun. Alif  yang mau ujian, kok, bunda yang stress." Hiks, bener juga apa yang dikatakan si sulung. Ya, abis bagaimana. Bermacam-macam prediksi berkeliaran di pikiran. Bagaimana kalau pas ujian si anak sakit? Bagaimana kalau ada kesalahan teknis dalam lembar jawaban, sobek atau kotor atau apalah? Ah, emak yang lebay.

Dan tanpa sadar, sudah berkali-kali saya mengingatkan hal yang sama pada anak sulung saya.
"Hati-hati, jangan salah menulis nama di kolom tanggal lahir, tanda tangan jangan pakai alas lembar jawaban, pensil dan penghapus disiapkan." Dan bla, bla, bla yang bikin si anak(mungkin) jadi ikutan stress kayak emaknya.
"Iyaaa, Bun." jawab si anak yang udah mulai kesel sama sikap emaknya. Oke, saya coba tenang. Kasihan juga kalau saya menunjukkan kekhawatiran, justru malah bikin si anak jadi ikutan tegang dan stress.
Alhamdulillah, UN terlewati tanggal 18-20 Mei 2015, dilanjut US(Ujian Sekolah) tanggal 21-23 Mei 2015. Semua terlewati dengan lancar. Anak saya sehat saat ujian berlangsung dan bisa dikerjakan dengan baik.
Apakah kekhawatiran saya sudah selesai sampai di situ? Belooom, sodara-sodara. Bagaimana dengan hasilnya?
"Kira-kira, bagimana hasilnya, Mas?" tanya saya pada si sulung.
"Ya gak tau atuh, Bun. Liat aja ntar pas pengumuman."Hadeuuuh, ya iya lah pas pengumuman. tapi emang salah saya juga, ngapain nanya ke anaknya, dia pun belum tahu hasilnya. Xixixi.
Penantian menunggu hasil UN lumayan lama. Hampir satu bulan. Tepatnya tanggal 26 Juni 2015 diumumkan. Dan selama penantian itu, lagi-lagi saya bikin ulah, mengobrak abrik perasaan si anak. :D
"Bagaimana kalau nilai kamu kecil dan gak masuk sekolah negeri favorit?" pertanyaan konyol dari seorang emak.
"Buuun, Alif gak bodoh-bodoh amat kali. Lagian Alif nilainya di kelas bukan yang paling jelek." Hehehe, bener juga. Emaknya sok tau. Padahal yang lebih tahu kemampuan si anak, ya si anak itu sendiri. Kalau dia merasa optimis bisa, kenapa emaknya malah gak percaya. Ih, bukannya memotivasi, malah nakut-nakutin si anak. #plak (gampar pipi sendiri)-jangan ditiru. :p
Dan, waktu yang dinanti tiba. Hari ini, tepatnya tanggal 26 Juni 2015, hasil UN akan diumumkan. Saya makin stress, susah tidur, gak bisa makan dari Subuh sampai Maghrib (ya iya lah, kan puasa, Buuuu) :v :v
Oke, mumpung bulan puasa dan untuk meminimalisir ketegangan, saya gencarkan doa saya. Pasrah, apapun hasilnya, yang penting sudah berusaha dan berdoa.
Duh, siang ini...hasilnya akan diumumkan. Memuaskan atau tidakkah? Entahlah, yang pasti kepala berbie, eh kepala saya makin pening. Mudah-mudahan hasilnya terbaik untuk anak saya.
*Tunggu cerita selanjutnya besok. Moga kabar gembira yang kami dapati. Aamiin.

You Might Also Like

4 komentar

  1. Welcome to the club, DAY. Wkwkwk. Dulu waktu Afif SD nggak begitu deg-degan, tapi pas tahun ini rada galau :D

    Semoga hasilnya terbaik :)

    ReplyDelete
  2. Wah aku bakalan gini juga 6 tahun mendatang yah :D

    ReplyDelete
  3. uhuy... password baru? hehehe...
    iya welcome to the club Dian, dan itu gak akan berakhir sampai anak kita lulus PT. Dengan sistem pendidikan masakini, ortu harus deg2an terus uy!

    ReplyDelete
  4. Hihihi emaknya rempong anaknya woles. Aku masih lama nih bertegang ria kayak kalian. :)

    ReplyDelete

Flickr Images