Resto Yang Menjual View

Tempat wisata memang sudah banyak di Bandung. Gak heran kalau tiap weekend atau hari libur banyak pengunjung luar kota yang datang ke Bandun...

Tempat wisata memang sudah banyak di Bandung. Gak heran kalau tiap weekend atau hari libur banyak pengunjung luar kota yang datang ke Bandung. Terutama untuk wisata kulinernya, apapun jenis makanannya, kalau yang ada di Bandung semua suka. Tapi rata-rata, sebenarnya makanan yang disajikan hanya itu-itu saja. Makanan khas bandungan. Hehe. Seperti karedok, lotek, peuyeum, gorengan, cilok, cireng, dan seblak. Makanan seperti itu sudah banyak dan tidak aneh lagi kan? Tapi dengan kekreatifan Urang Bandung, meski makanannya itu-itu saja, tetap saja tempat makan yang mereka punya selalu ramai. Kok bisa?

Hiasan Bambu di lahan parkir Dusun Bambu-By Google



Pemandangan jalan setapak menuju area masuk Dusun Bambu

Menuju area tempat makan Dusun Bambu melalui jalan setapak

Tempat makan alternatif, Sarang Burung(atas) dan Perahu (bawah)


MENJUAL VIEW
 Yup,salah satu tempat makan sekaligus menjual view  adalah Dusun Bambu. Tanggal 14 Oktober 2015 kemarin, saya dan keluarga sengaja ke sana. Kakak perempuan saya yang dari Tangerang kepengen makan di sana katanya. Oke, akhirnya kami bersepuluh (kali ini menggunakan dua kendaraan :D) mengunjungi Dusun Bambu. Sampai disana  disambut dengan hiasan bambu dan pohon bambu yang ditanam di sepanjang area parkiran. Karena itulah tujuan dinamakannya Dusun Bambu. Sebelum memasuki ke tempat utama Dusun Bumbu (yang waktu bukanya dari jam 10.00-22.00), kami harus membeli tiket terlebih dulu. Harga tiket Rp. 15.000/orang (dari usia 3tahun ke atas). Lumayan juga, yah, tiket masuknya. Setelah memasuki area Dusun Bambu, di situ banyak macam-macam penjual makanan. Dari otak-otak, seblak, takoyaki, sampai segala macam jenis minuman. Ternyata selain di tempat itu, ada tangga menuju ke atas, pilihan tempat makanan yang lain. Akhirnya, kami memilih ke atas. Gak salah, deh, kami memilih makan di lantai atasnya, karena pemandangannya keren banget. Sambil makan kami bisa lihat sebagian area Dusun Bambu. Bahkan di depan kami, dibawahnya terhampar danau. Di danau itu disewakan perahu sampan dan perahu mesin berbentuk bulat  yang bisa untuk tempat makan sambil mengarungi danau. Untuk menumpang perahu mesin dikenakan biaya 20.000/orang. *glek, lumayan, yah.  Sayangnya, saya gak ikut naik perahu mesin itu. Hanya kakak perempuan saya, keponakan, dan dua anak saya yang menaikinya tapi bukan untuk makan di situ. Selain bisa makan di perahu mesin tersebut, ada lagi tempat untuk makan yang unik. Namanya Sarang Burung. Iya, bentuknya seperti sarang burung dan bisa dimasuki oleh beberapa orang di dalamnya. Unik memang. Tapi tempat itu selalu penuh. Mungkin karena tempatnya yg jarang ada di tempat lain, jadi semua kepingin mencoba makan di dalam sarang burung itu. Dan lagi-lagi saya juga tidak dapat bagian makan di situ.

MENU MAKANANNYA
Menu makanan yang disajikan biasa saja seperti rumah makan Sunda lainnya. Ya, di sini, tempat makan yang kami pilih menunya adalah menu Sunda. Ada Nasi bakar, bebek goreng, ayam bakar, karedok, lotek, peuyeum rangrang(dinamakan peuyeum rangrang, karena nama restonya Burangrang), pisang goreng karamel, dan ada juga salad buah yang dicampur dengan mayoinase. Untuk rasa boleh dibilang standar. Malah saya lebih penasaran dengan Peuyeum Rangrangnya. Jadi peuyeum itu dikukus dulu, kemudian dibungkus dengan kulit lumpia, lalu digoreng. Dan penyajiannya diberikan topping meises, keju, dan es krim. Simple, sih. Tapi ya itu, penampilannya yang bikin mahal. :)
Saat itu kebetulan hari libur, pengunjungnya ramai sekali. Untuk menunggu menu yang kami pesan,  cukup lama. Untung saja minuman teh tawar yang disajikan lebih dulu bersama dengan pocinya yang lucu, bisa sedikit menghibur kami yang sudah tidak sabar untuk makan siang. Kira-kira 15-30menit kami menunggu, makanan pun datang. Saya memesan nasi bakar komplit (ada ayam bakarnya, tempe, tahu, lalapan, sambal, dan kerupuk). Kami pun langsung menyantap pesanan kami masing-masing. Sudah lapar, euy. ;)


Salad Buah Dengan Mayonaise dan tambahan Nachos

Nasi Bakar Komplit

Macam-macam lalapan dan sambalnya

Dapur Burangrang Dusun Bambu

Tempat makan lantai bagian atas
Ngeteh dulu dengan teh tawar hangat
Peuyeum Rangrang

LUAS DUSUN BAMBU
Area parkiran di Dusun Bambu cukup luas. Lokasi yang berada di JL. KolonelMasturi 11, cisitu Lembang yang memiliki luas 15 hektar dengan luas bangunan 5.100 meter persegi itu mampu menampung banyak kendaraan roda empat maupun roda dua. Dan untuk kendaraan roda empat dikenakan biaya parkir sebesar Rp. 15.000. Tapi sayangnya, karena musim kemarau, tempatnya terlihat gersang, apalagi itu daerah terbuka dan berdebu karen tanahnya kering. Dari area parkiran menuju ke dalam area Dusun Bambu, ada dua pilihan untuk pengunjung. Boleh menaiki kendaraan khusus mengantar ke tempat yang ingin dituju atau berjalan kaki melewati pematang sawah dan jembatan bambu. Saya memilih berjalan kaki melewati pematang sawah. Seharusnya melewati pematang sawah lebih menyenangkan karena bisa sambil melihat pemandangan hamparan sawah yang hijau. Tapi sayangnya, hal itu tidak didapati. Sawahnya kering. Pohon-pohon di sekitarnya pun terlihat kering. Jembatan bambu yang kami lewati sudah hampir reyot. Untungnya Mama saya memilih untuk naik kendaraan. Untuk orang yang sudah berumur, agak riskan melewati pematang sawah itu. Kata kakak saya, dulu awal-awal Dusun Bambu ada (tepatnya 17 Januari 2014), tempatnya tidak seperti ini, masih bagus, asri, dan ada air mengalir seperti di pegunungan. Tapi sekarang jadi terlihat gersang. Entah karena musim kemarau atau memang perawatannya yang kurang. Entahlah.
Seharusnya untuk lebih menarik perhatian pengunjung atau wisatawan luar kota maupun dalam kota, keindahan tempat dan kebersihannya harus dipertahankan. Jangan hanya di awal saja bagus, selanjutnya malah tidak memuaskan. Sayang kan, lahan yang luas, nanti malah terabaikan karena kurangnya perawatan dan menjadi sepi pengunjung, bahkan bisa jadi tak akan ada lagi pengunjung.

Tapi, untuk yang mau cari tempat wisata di Bandung, Dusun Bambu masih bisa menjadi pilihan tempat yang oke, kok. Tapi, jangan lupa, jaga kebersihan di setiap tempat wisata yang kita kunjungi, yah.  ;)




You Might Also Like

14 komentar

  1. Salad buahnya bikin ngeces. hehehe... udah lama ga bikin salad buah, tapi enakan yang udah jadi aja kali, ya *meni males*

    ReplyDelete
  2. kayaknya lagi ngehits banget ya emang dusun bambu ini, saya pun belum lama ini ke sana, hehehe

    ReplyDelete
  3. Efi, salad buahnya enak. Cobain geura ;)

    ReplyDelete
  4. Iya, mbak pratiwi. Pemandangannya emang oke banget.

    ReplyDelete
  5. Mbak isti, iya masih ngehits ni dusun bambu. Saya aja yg tinggal di Bnadung baru kali ini ke sana. Hehe

    ReplyDelete
  6. segeeer matanya bisa kalap makan :D

    ReplyDelete
  7. Aduh, eta peuyeum rangrang meni hoyong, iiiih... *ngences* Noted ah, tempatnya. :)

    ReplyDelete
  8. Nah ini. Saya belum pernah ke sana. Padahal gak jauh dari rumah.au ah main ke sana....
    Makasih infonya.

    ReplyDelete
  9. emang sekarang mah andelan pisan menjual suasana teh. padahal harga makanannya biasa aja, tapi jadi mahal karena tempatnya yang gak biasa.

    ReplyDelete
  10. Tian, liat pemandangannya jadi pengen ngahuap wae nyak? :v

    ReplyDelete
  11. Teh beta, peuyeum rangrang mah bikin aja. Tapi kalau mau jalan-jalan, mangga weh ke sana. Hehe

    ReplyDelete
  12. Madam Vivera, hayuk geura ke sana. Asik buat pepotoan. Hehe

    ReplyDelete
  13. Bener, Lu. Makanan biasa jadi mihil harganya gara2 tempat doang. :D

    ReplyDelete

Flickr Images