Manisnya Hidup, Tak Semanis Martabak Coklat

Sabtu kemarin, yang juga long weekend , saya dan keluarga memilih di rumah saja. Gak tahan dengan segala kemacetan di luar sana. Apalag...



Sabtu kemarin, yang juga long weekend, saya dan keluarga memilih di rumah saja. Gak tahan dengan segala kemacetan di luar sana. Apalagi Bandung sudah beberapa hari ini tidak turun hujan. Macet, panas, ah itu bisa membuat emosional seseorang meningkat. Diam di rumah menjadi salah satu pilihan yang tepat, sepertinya.
Sambil santai di rumah, membuka chat grup WA (WhatsApp) teman-teman sekolah dulu. Upps, saya tertegun. Hari ini bahasannya membuat saya tercengang. Banyak kisah yang dimiliki teman-teman masa sekolah dulu. Teman yang saya anggap perfect di segala hal, memiliki kisah yang mengharukan dan mencengangkan. Memiliki predikat nomor satu di kelas, mudah bersosialisasi, cerdas, dan berkecukupan (itu yang saya nilai selama ini untuk teman yang saya anggap "sempurna").
Ternyata apa yang selama ini saya nilai, tidak semuanya benar. Dan semua yang teman saya dapat saat itu, tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan sendiri (iya lah, kalau membalikkan telapak tangan Presiden, susah. Harus melalui paspampres.  Itu pun kalau diijinkan). Halaah, apa sih? :D
Predikat yang mereka dapat sebagian besar adalah atas keinginan orang tua. Orang tua mana, sih, yang tidak mau anaknya menjadi sukses, berhasil, pintar, dan menjadi nomor satu? Tapi kadang orang tua lebih terlihat memaksakan kehendak anaknya. Dan itulah yang dirasakan beberapa teman saya. Dan imbasnya saat mereka besar sekarang. 

Pic by Google

Setiap anak memang kadang berbeda-beda dalam menanggapi sikap orang tuanya. Ada yang merasa itu sebuah kekangan, ada juga yang menganggap sebagai motivasi. Tapi orang tua suka lupa, kalau anak juga memiliki keinginannya sendiri dan mampu untuk menjadi dirinya sendiri. Orang tua hanya mengarahkan saja ke arah yang benar. Kesulitan ekonomi bisa menjadi salah satu pemicu orang tua untuk menjadikan anak-anaknya jauh lebih baik dari mereka, sehingga mereka membabi buta menginginkan  anak-anak mereka menjadi nomor satu. Gak semuanya, sih. Hanya sebagian saja. Kisah teman saya ini hanya sebagian cerita kehidupan anak-anak yang merasa bertanggung jawab atas keinginan orang tuanya. Sehingga ia merasa dirinya tidak sama dengan teman-teman lainnya. Dan harus selalu menjadi nomor satu.

Pic by Google

Setelah membaca kisah teman-teman saya, saya jadi merasa tersentil dengan pola pendidikan yang saya terapkan untuk anak saya. Saya bersyukur, diberi anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Meski dalam soal belajar, saya dan suami harus terus mengingatkan. Alhamdulillah, nilai yang diperoleh anak saya saat lulus SD begitu memuaskan buat saya. Sekarang dia baru saja masuk SMP. Tapi, apakah anak saya merasakan hal yang sama dengan teman-teman saya, yang memperoleh nilai yang bagus hanya untuk menyenangkan orang tuanya, sedangkan dia sendiri merasa tertekan? 
Entahlah. Sepertinya saya harus melonggarkan cara didikan saya pada anak saya. Saya tidak ingin mereka menyalahkan sikap orang tuanya saat besar nanti. Saya selalu tanamkan pada anak saya, "Keberhasilan kamu itu untuk kamu, bukan siapa-siapa, juga bukan untuk orang tua. Kalau pun orang tua bahagia melihat kamu berhasil, itu bonus untuk orang tua dari kamu.” 

 
Pic by Google


Sabtu semakin sore, chat di WA grup sekolah semakin panjang. Tiba-tiba saja saya butuh cemilan untuk menemani sore saya dengan obrolan teman-teman di grup. Saya melipir sebentar ke dapur, membuat camilan yang cepat dan praktis.



Martabak manis mini menjadi pilihan eksekusi saya sore ini. Kira-kira satu jam berlalu, martabak manis  mini siap untuk disajikan (resepnya di sini). Saya mencomot satu potong martabak dengan taburan susu kental, keju, dan meses, lalu mencicipinya. Manis. Untuk gigitan kedua, manis juga. Lama-lama terasa giung. Lalu saya menetralisirkannya dengan teh tawar hangat. Saat saya mengesap teh tawar tersebut, pas! Rasa manis martabak mini tadi terasa pas disantap bersama teh tawar hangat. 

Martabak Manis Mini
Mungkin begitu juga hidup. Bila terus merasakan manisnya hidup, akan terasa giung dan lama-lama enek. Pahitnya hidup itulah yang memberikan warna pada hidup kita hingga menjadi rasa yang sempurna. Jadi, jangan terkecoh dengan kehidupan orang lain yang kita anggap sempurna/manis, bisa jadi mereka pun pernah mengalami kesulitan/pahit dalam hidup mereka.  *comot maratabaknya satu lagi. :D

You Might Also Like

1 komentar

  1. Setuju Mak, hidup tak selalu manis. harus ada pahit asemnya biar warna warni. Tapi kalo ga manis tinggal tambahi gula xixixi *ups

    ReplyDelete

Flickr Images