Antara Anak, Games, dan Orang tua

Tekhnologi adalah penunjang masa depan dan dibuat untuk membantu memecahkan masalah setiap orang. Tetapi pengasuhan orang tua tetap tidak d...

Tekhnologi adalah penunjang masa depan dan dibuat untuk membantu memecahkan masalah setiap orang. Tetapi pengasuhan orang tua tetap tidak dapat dipindah tangankan terhadap canggihnya teknologi.

 
Seminar Parenting, "Kiat-kiat Memahami dan Meindungi Anak Dari Bahaya Di Balik Kecanduan Games".


Sebagai orang tua, hal tersulit yang dilakukan saat ini adalah menjaga anak-anak kita. Perilaku dan karakter anak bisa terpengaruh dari berbagai  lingkungan. Dari televisi, internet, bahkan games. Alih-alih hidup di tekhnologi serba canggih, tapi justru itu yang bisa merusak anak-anak kita. Kenapa bisa begitu? Tapi tidak semua pemikiran tentang hal di atas itu benar. Televisi, internet, dan games bisa juga memiliki nilai positifnya. Kuncinya ada di tangan orang tua.
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 14 Januari 2016, Kakatu (yang dipelopori oleh Kang Mumu) dan Ibu Elly Risman mengadakan seminar parenting tentang kiat-kiat memahami dan melindungi anak dari "Bahaya Dibalik Kecanduan Games". Judul seminarnya menarik. Apalagi saya memiliki dua orang anak laki-laki yang tertarik dengan dunia per-games-an. Dan belum lama ini juga anak saya mendapatkan fasilitas untuk menyalurkan kesenangan mereka bermain games.
Banyak orang tua memilih memberikan fasilitas games berupa Play Station, tab, handphone, X-Box, dan lain-lain di rumah. Tujuannya agar si anak merasa tenang dan tidak keluyuran ke mana-mana. Ternyata semua itu tidak selamanya benar. Di acara seminar bersama Kakatu dan Ibu Elly Risman ini, kami para orang tua seakan-akan diperintahkan untuk membuka mata, bahwa ini loh dunia per-gamers-an, dan ini loh hasil dari keantengan anak bermain games.

KAKATU
Acara seminar parenting, yang diadakan di Auditorium lantai 2 Gedung FK UNPAD(JL. Eyckman No. 38-Bandung), dibuka oleh beberapa undangan terhormat, salah satunya Ibu Wakil Walikota Bandung, Ibu Siti Muntamah Oded. Kemudian acara dilanjutkan dengan pengenalan tentang Kakatu oleh Muhammad Nur Awaludin atau yang lebih dikenal dengan Kang Mumu. Kang Mumu dengan dibtu co-founder lainnya, Rizky Adam Kurniawan,  menjelaskan bahwa Kakatu adalah aplikasi untuk menghindarkan anak dari kecanduan gadget dan konten tidak baik di dalamnya. Kakatu memiliki tiga pilihan dalam programnya:
-Blok Situs: Pilih situs yang boleh diakses anak agar terhindar dari situs pornografi dan kekerasan.
-Blok Aplikasi: Pilih aplikasi atau games yang boleh digunakan anak sesuai umurnya.
-Batasi waktu: Batasi lama waktu penggunaan gadget anak dengan bijak.
Lalu apa sebenarnya tujuan Kang Mumu dan kawan-kawannya membuat aplikasi semacam Kakatu? Sudah separah apakah kedekatan seorang anak dengan games? Cerita dari Kang Mumu dan Ibu Elly Risman yang akan membuka mata orang tua untuk permasalahan ini. Yuk, lanjut. ;)

Aplikasi KAKATU


KANG MUMU
Adalah Muhamad Nur Awaludin, yang biasa dipanggil Kang Mumu, salah satu founder Kakatu, dan masih berusia 24 tahun. Sejak kecil Kang Mumu dikenal anak yang baik. Pernah menjuarai MTQ se-Kecamatan. Tapi di usia saat ia kelas 4 SD, ia mulai kenal dengan games. Tidak ada yang salah memang dengan apa yang dilakukan Mumu kecil saat ia mulai mengenal games. Anak saya yang sekarang berusia 5 tahun saja sudah mengenal games. Lalu apa yang dikhawatirkan? Saat itu Mumu kecil merasa kesepian, tidak ada perhatian dan kedekatan dengan kakak dan orang tuanya.  Hal yang membuat ia merasa dihargai, dibutuhkan, dan diterima, dia temukan di dunia game, bukan di dunia nyata. Apalagi orang tuanya saat itu membiarkannya. Hingga SMP dan SMA kegemarannya bermain games semakin kuat, ia kecanduan. Mencuri, berbohong, berjudi, dan pornografi (konten ponografi yang mulai terpapar dari gambar-gambar dalam games) menjadi cikal bakal dari kecanduannya bermain games. Separah itu kah? Itulah yang dipaparkan Kang Mumu selama perjalanannya yang tak bisa lepas dengan games.  Hingga ia sempat mogok sekolah selama 2 tahun. Seperti halnya orang tua sekarang, yang memfasilitasi anak game untuk tetap tenang di rumah.
Dan inilah mitos yang jadi pemikiran orang tua:
● Daripada anak mabuk, stress, main gak jelas, mending main game aja di rumah
● Cuma main game aja, kok.
● Di rumah ini, kok, jadi bisa diawasi setiap saat
● Mana bisa anak lepas dari gadget
● Bener kan anteng kalau dikasih game?
Ya, memang tidak semua game bisa merusak otak anak. Ada beberapa game yang membuat anak kecanduan dan juga bisa merusak otak anak akibat kekerasan dan pornografi yang terdapat pada games tersebut. Sebaiknya, hindari game seperti ini untuk anak-anak: DOTA 2, GTA (Grand Theft Auto), Clash of Kings, dan lain-lain yang sejenis itu.
Akhir cerita dari Kang Mumu, kemudian dia sadar dan harus melepaskan kecanduannya terhadap games. Mungkin gambaran orang yang kecanduan games sama dengan orang yang kecanduan rokok. Ada kemauan untuk berhenti, tapi sulit untuk dilakukan.Tapi Kang Mumu berhasil melepas kecanduannya dan mulai berpikir. Apalagi sekarang ia sudah menikah dan jika suatu saat ia memiliki anak, ia tidak ingin anak-anaknya mengalami hal yang sama seperti dia. Dan ia berani mengungkapkan kehidupannya yang kelam akibat game demi untuk pelajaran kepada orang tua yang membiarkan anaknya asyik bermain game. Oleh karena itu, ia dan kawan-kawannya juga berinisiatif membuat aplikasi semacam Kakaktu. 

 
Kang Mumu dan kawan-kawan dari Kakatu



IBU ELLY RISMAN
Siapa yang tak kenal dengan Ibu Elly Risman? Seorang Psikologi, pakar parenting, yang setiap acara seminarnya membuat orang tua terbelalak dan terbengong-bengong dengan apa yang disampaikannya. Seperti hari itu juga. Setelah mendengar cerita dari Kang Mumu yang sudah membuat kami kaget, ditambah dengan cerita Ibu Elly yang membuat kami ingin segera memeluk anak-anak kami.
Orang tua tidak bisa mengingkari pergaulan anak-anak sekarang yang semakin berani. Dari  masalah kekerasan hingga pornografi. Pengaruhnya pasti orang tua akan menyalahkan gadget, televisi, dan internet. Teknologi saat ini memang semakin canggih, tapi bukan berarti anak  dijauh kan dari tekhnologi tersebut. Salah satu akibat dari seorang anak yang mengalami kecanduan games hingga mengakses konten pornografi adalah anak-anak yang mengalami kesepian, merasa jauh dari orang tuanya atau orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri hingga tidak tahu apa yang dibutuhkan anak. Seperti halnya yang dialami Kang Mumu, yang menjerumuskan dirinya pada game untuk mengisi kesendiriannya. Ibu Elly menggunakan istilah BLAST untuk anak-anak yang mudah menjadi sasaran empuk para pebisnis games dan konten-konten pornografi. 

 
Ibu Elly Risman
BLAST merupakan singkatan dari Boring, Lonely, Angry, Stress, Tired. Jangan sampai anak-anak kita mengalami BLAST. Merasa bosan atau jenuh, kesepian, marah, stress, dan lelah. Bisa dibayangkan ketika anak merasa lelah dan stress dengan tugas dan kegiatan di sekolahnya, kemudian dia merasa sendiri karena orang tua sibuk atau tidak menyempatkan diri berkomunikasi dengan baik pada anak, si anak pun bingung harus marah pada siapa.
Dari situlah anak mencari pelarian. Akibat dari BLAST bisa mengakibatkan anak lari pada hal-hal yang negative, seperti: pacaran, seks suka sama suka, pornografi, narkoba, LGBT, masturbasi, dll.
Bu Elly mengisahkan beberapa anak yang datang padanya dan menceritakan bahwa anak usia 12 tahun-bahkan ada yang lebih muda dari itu-sudah pernah melakukan masturbasi. Hal itu disebabkan oleh gambar-gambar pornografi yang anak itu lihat dari konten-konten game yang mereka mainkan. Miris dengernya. Saya jadi teringat dua  anak laki-laki saya. Ternyata semua itu akibat salah dalam pola pengasuhan orang tua. Kekeliruan dalam komunikasi yang menyebabkan anak menjadi merasa tidak berharga di hadapan orang tuanya. Orang tua tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadget, games, dan televisi, karena anak-anak kita hidup dalam tekhnologi yang serba canggih dan mudah, sulit untuk menjauhkan semua itu dari anak-anak.  Sebenarnya games juga memiliki sisi negative dan positifnya. Jadi peran orang tua lah yang sangat menentukan perilaku anak agar tidak terjerumus dalam hal-hal yang negatif. 


KUNCINYA bagi orang tua
  • Keluarga adalah kontrol pertama dan terpenting dalam semua aktifitas anak
  • You are the Best Therapist
  • Ingat SHS, Semua Harus Seimbang! Games memang menyenangkan, tapi olahraga juga penting, membaca LEBIH penting lagi
  • Games hanya salah satu komponen kecil dalam pengasuhan anak



Yuk, untuk para orang tua. Seperti yang disarankan dan selalu diucapkan Bu Elly saat seminar kemarin,  ucapkan pada anak kita, “Kau lah anakku, kau lah buah hatiku”. Agar kita merasa memiliki anak-anak kita dan siap untuk melindungi mereka.

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images