Ayam Bakakak

Beberapa hari yang lalu, saat ke pasar, saya melewati tukang ayam potong di pinggir jalan. Seorang ibu muda yang biasa membuka dagangan...



Beberapa hari yang lalu, saat ke pasar, saya melewati tukang ayam potong di pinggir jalan. Seorang ibu muda yang biasa membuka dagangannya di situ, sebelum Pasar Sederhana. Letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Mungkin sekitar 50 meter.
Biasanya saya tidak pernah membeli ayam di ibu itu. Tapi karena kebetulan saya melihat ada satu ekor ayam utuh yang imut-imut, hehe, saya jadi ada ide untuk membuat sesuatu. Saya lupa jenis ayam apa itu. Bukan ayam kampung, tapi sejenis ayam pejantan. Dagingnya tidak alot, lebih lembut. Mungkin ayam muda, tapi saya tidak tahu sebutannya apa.
Belilah saya satu ekor ayam utuh yang kecil itu. Setelah ditimbang, ternyata beratnya sekitar 500gr. Harga perkilonya Rp. 36.000. Sebenarnya, apa sih, yang mau saya masak dengan ayam mungil itu? Yup, saya mau mencoba membuat Ayam Bakakak. Dan ini pertama kalinya saya akan membuat Ayam Bakakak.
Nama Ayam Bakakak berasal dari Bahasa  Sunda. Jadi, ayam utuh yang belum dipotong-potong, dibelah melebar bagian dadanya tanpa terputus. Hingga badan si ayam terbuka alias calangap alias bakakak. Hehe, mungkin itu yang menginspirasi namanya menjadi Ayam Bakakak. Ayam Bakakak biasanya dihidangkan untuk acara-acara tertentu. Kalau  orang tua saya (yang berasal dari Tangerang, juga masih ada tanah sundanya) biasanya menghidangkan Ayam Bakakak saat acara khitanan. Dijadikan sebagai simbol untuk anak yang dikhitan. Entah apa hubungannya. Hanya tradisi saja, begitu ibu saya bilang. Ada juga yang menghidangkan Ayam Bakakak untuk acara pernikahan. Jadi ayam yang masih utuh itu dipegang di bagian paha masing-masing ayam oleh kedua mempelai, kemudian mereka menariknya berbarengan. Siapa yang mendapat potongan paling besar, dia lah yang akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar di rumah tangganya. Apa hubungannya potongan ayam dengan pendapatan seseorang? Hehe, cuma mitos.
Dan sekarang, saya ingin membuat Ayam Bakakak bukan karena ada acara besar ataupun ada yang dikhitan (mungkin nanti saat anak kedua saya dikhitan, saya akan membuatkannya). Kali ini saya cuma kepingin membuat saja. Ingin mencoba untuk menu makan siang. Resep ini saya dapat dari searching di Mbah Google. Ternyata cara membuatnya sama saja seperti membuat ayam bakar biasa. Berikut resep yang saya pakai untuk membuat Ayam Bakakak Bakar. 

Resep Ayam Bakakak Bakar
Bahan A:
1 ekor (600gr, saya pakai yang seekornya 500gr) ayam kecil/pejantan/kampung, dibelah dua melebar tidak putus
2 siung bawang putih, haluskan
4cm kunyit dibakar, haluskan
1 ½ sendok teh garam (boleh dikurangi)

Bahan B:
2 sendok makan kecap manis
1 sendok makan gula merah yang sudah disisir

Bahan C (haluskan):
4 buah cabe merah besar
9 butir bawang merah
2 siung bawang putih
2 cm jahe
½ sendok teh ketumbar
5 butir kemiri, disangrai

3 sendok makan minyak sayur
400ml Air


Cara memasak:
  1. Campur bahan A dengan cara melumuri ayamnya hingga rata, diamkan selama 15menit.
  2. Panaskan minyak, tumis bahan C (yang sudah dihaluskan) sampai harum.
  3. Tuang air, didihkan.
  4. Masukkan bahan A. Masak sampai meresap.
  5. Kemudian panggang ayam sambil diolesi sisa bumbu sampai kering.

Hasil setelah dipanggang

*Noted: Untuk pemanggangan bisa menggunakan arang, panggangan gas, panggangan listrik, atau diatas wajan anti lengket.

Yeaayy, akhirnya jadi juga Ayam Bakakak-nya. *hepi :D

Mudah kan? Ok, deh. Selamat mencoba, yah.  ;)

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images