Jalan-jalan ke Tahura

     Pagi itu, tepatnya di hari Minggu, hari ke sepuluh di bulan Januari 2016, akhir dari liburan anak sekolah setelah dua minggu berjalan....

     Pagi itu, tepatnya di hari Minggu, hari ke sepuluh di bulan Januari 2016, akhir dari liburan anak sekolah setelah dua minggu berjalan. Sekitar pukul 06.00, kami (saya, suami, dan si sulung) bergegas untuk bersiap-siap berangkat seperti yang sudah kami rencanakan semalam dan beberapa hari sebelumnya. Sedangkan si kecil, masih terlelap. Karena sudah janji semalam akan pergi, jadi saya bangunkan si kecil. Sayangnya, anak itu sepertinya masih ingin bercengkrama dengan bantal gulingnya. Rengekan pun terdengar. Ah, drama pagi dimulai. Kalau sudah begitu, saya serahkan pada suami. Karena si kecil hanya bisa dibujuk oleh ayahnya. (Hmm, ibu macam apa saya ini? Hahaha). Setelah melalui drama, dengan menggendong si kecil, membujuknya untuk cepat bangun, Alhamdulillah, akhirnya si kecil mau juga beranjak dari tempat tidurnya. Drama pertama pun terlewati. :D

Kami berencana akan mengunjungi Taman Hutan Raya (Tahura), Juanda. Lokasinya di Dago pakar, Bandung. Dari tempat kami tinggal (di daerah Sukajadi), cukup memakan waktu sekitar 30 menitan. Karena waktunya masih pagi, jadi belum banyak kendala di jalanan. Hanya saja kami harus menghindari jalan yang digunakan untuk area Car Free Day (sepanjang Jl.Merdeka-JL. Ir. H. juanda sebelum simpang Dago). Kami melewati Babakan Siliwangi, jalan Sangkuriang, Cisitu, dan keluar-keluar berada di Simpang Dago. Aman. Kemudian kami menyusuri jalan Ir. H. Juanda, melewati terminal Dago. Tidak jauh dari terminal Dago(sekitar 200 meter), kami belok ke kiri, dan di sekitar itulah Taman Hutan Raya berada. 

Tugu Taman Hutan Raya Juanda
Kami sampai di tujuan sekitar pukul 06.30. Area parkir masih cukup lengang. Untuk memasuki area Tahura, kami harus membayar tiket masuk sebesar Rp. 11.000/orang (dewasa/anak-anak), parkir motor sebesar Rp. 5000, dan parkir mobil sebesar Rp. 10.000 dengan waktu yang tidak ditentukan. Tetapi meskipun sudah membayar tiket parkir, masih ada saja tukang parkir gelap di area parkiran. Ya, sudah lah. Sudah tidak  aneh, begitulah karakter orang kita. Kita? Lu aja kali. Hehehe
Tujuan pertama yang akan kami kunjungi adalah Goa Jepang, yang berjarak 500m dari area parkir. Jalan yang ditempuh melewati hutan-hutan dan menurun. Jalanannya harus ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi ada juga ojek yang menawarkan ke tempat yang lebih jauh  (sekitar  1km) kepada para pengunjung. Misalnya ke Tebing Keraton atau Maribaya. Tapi kami tidak memutuskan ke sana. Karena jaraknya yang cukup jauh. Kalau pun ingin ke Maribaya, akan lebih baik jika kita masuknya melalui arah yang lain, Lembang.  (Lain waktu, saya akan mengunjungi Tebing Keraton dan Maribaya
 
Sebelum masuk ke dalam hutan, lihat dulu objek yang ada di Tahura


Alhamdulillah, cuaca hari itu cukup bersahabat. Gak kebayang kalau hujan turun saat kami berada di tengah-tengah  hutan. Tak ada tempat berteduh. Meski ada beberapa warung  di  satu titik tertentu di tengah perjalanan,  bukan di sepanjang jalan. Mungkin persiapan lain untuk menyusuri hutan ini perlu membawa payung atau jas hujan, agar tidak kerepotan saat hujan turun. Dan alas kaki yang digunakan sebaiknya menggunakan sepatu kets atau boot. Jangan wedges atau high heels, yah. Hihihi.

Memulai perjalanan memasuki hutan

Tidak terasa sekitar lima belas menit perjalanan dari area parkir, berhasil mengantarkan kami ke  pintu Goa Jepang. Sesaat kami diam di depan pintu Goa tersebut. Saat itu cuma kami berempat yang masih berada di sekitar itu. Paling hanya satu atau dua orang yang berpapasan di jalan. Jujur, saya takut untuk memasuki Goa. Membayangkan akan masuk ke arena rumah hantu yang didalamnya akan mengalami kejadian yang menakutkan. Hiiii.
Tapi suami mengomandoi untuk segera masuk ke dalamnya. Dengan berbekal senter yang penerangannya tidak cukup terang, kami berempat memasuki Goa Jepang tersebut. Gelap, tentu saja. Hanya samar-samar terlihat jalanan yang kami lewati. Anehnya si kecil tidak merasa takut, justru si sulung yang terus menempel dan memegangi tangan saya, padahal saya sendiri pun takut. Hahaha. Begitu masuk beberapa meter, ada persimpangan yang bisa kami pilih mau menuju ke mana. Lurus ke depan, belok ke kiri, atau belok ke kanan. Akhirnya kami pilih ke kiri, tadinya suami menyarankan lurus saja. Tapi si sulung meminta ke kiri. Akhirnya kami memilih jalan ke kiri. Berjalan beberapa langkah mengikuti jalan yang ada dan tiba-tiba kami sudah menemukan pintu keluar kembali. Jiaaahh, jadi masuk ke Goanya cuma numpang lewat dari pintu yang satu ke pintu yang di sebelahnya, yang jaraknya cuma 10 meter. Hahaha. Gak apa-apalah yang penting sudah merasakan sensasi gelap-gelapan dalam Goa walaupun cuma sebentar. 

Goa Jepang

Goa Belanda

Kemudian kami meneruskan kembali perjalanan. Sebenarnya tidak tahu juga tujuan kami mau ke mana. Pokoknya ikuti saja jalan yang ada. Dan akhirnya kami melewati sebuah warung makan yang lebih besar dan kumplit dari tempat warung lainnya yang sudah kami lewati tadi. Warung itu terletak tepat di area pintu masuk Goa Belanda. Kami pun memutuskan untuk masuk ke dalam Goa Belanda terlebih dahulu. Dengar dari cerita si sulung yang sudah pernah mengunjungi tempat ini (sekitar tiga tahun yang lalu bersama sekolahnya), katanya di dalam Goa Belanda masih  terdapat penjara, rel kereta, dan ruang  tidur. Wadoooh, makin horor, dong. Apalagi ada issue, suka ada penampakan noni-noni Belanda. Saya tadinya memilih mengurungkan niat untuk ikut masuk. Tapi begitu saya lihat cahaya di ujung Goa dari pintu masuknya, saya pun berani. Itu artinya jarak keluarnya tidak begitu jauh. Hihihi *dasar penakut. Kami pun masuk menyusuri lorong Goa. Dan jalan yang kami lewati itu adalah bekas rel, yang sebagian sudah ditutup/tertutup dengan tanah.  Dan di samping kiri kanan kami ada beberapa jalan untuk yang ingin menjelajahi Goa Belanda lebih jauh lagi. Jalan-jalan itulah yang akan mengantarkan ke ruang penjara, ruang tidur, dapur, dan lain-lain. Konon penjara tersebut digunakan Belanda untuk menahan tawanan perang. Bisa jadi ada yang pernah mati juga di dalam penjara itu. Hiiii. Tapi saya menyarankan lurus saja menuju cahaya di ujung sana. Cuma satu keingin saya saat itu, segera sampai ke pintu keluar Goa. Hehehe. Setelah sampai di cahaya ujung Goa tadi, ternyata itu adalah jalan lain untuk meneruskan perjalanan melewati hutan. Karena tidak tahu arahnya ke mana jika melewati jalan itu, kami pun kembali masuk ke Goa untuk kembali ke jalan masuk tadi. 

Warung si Bapak yang berkumis klimis :D Bale yang kami tempati ada di sebelah kanan warung


Lapar, capek, haus, tentu saja kami rasakan. Kami pun istirahat sebentar di warung dekat Goa Belanda tersebut dan memesan beberapa makanan dan minuman. Si sulung dan si kecil memilih jagung bakar(Rp. 7.000- Rp. 8.000) sebagai pengganjal perutnya. Sedangkan saya dan suami memilih ketan bakar(Rp. 7.000) dan bajigur(Rp. 6.000 – Rp. 12.000). Ada juga Colenak, Bandrek, dan Sosis Bakar. Setelah memesan dan mengetahui masing-masing harganya, kami duduk di bale-bale depan warung. Oh, iya. Perlu diingat jika ingin makan di tempat wisata sebaiknya tanyakan harganya  terlebih dahulu, agar tidak merasa tertipu dengan harga yang dinaikkan terlalu jauh. Kalau naiknya masih wajar, sih, ya gak apa-apa. :)

Beberapa menu makanan yang kami pesan
     
           Kami memilih makan dan duduk di bale yang disediakan pemilik warung di sebelah kanan warungnya, sambil melihat orang-orang yang lalu lalang menyusuri jalanan dalam Hutan. Dan yang lebih serunya lagi, banyak monyet-monyet yang berkeliaran dekat warung itu. Tidak Cuma satu atau dua ekor, tapi ada sekitar puluhan ekor monyet. Satu hiburan untuk si kecil, meski agak takut juga. Monyet-monyet itu makin banyak keluar dari dalam hutan, bergelantungan, dan berkelahi dengan sesama monyet lainnya. Dan ketika kami sedang asyik menikmati makanan yang kami pesan, tiba-tiba ada satu ekor monyet menghampiri bale kami. Saya kira mau apa, ternyata monyet itu  mengambil jagung bakar si kecil yang sudah dimakan si kecil sebagian, yang diletakkan di piring. Kami kaget dan tidak lama terdengarlah tangisan si kecil yang penuh drama, “Hwaaa, jagung Ifad.” Dan monyet itu tanpa merasa bersalah menikmati jagungnya sambil bertengger di atas pohon. Huh, dasar Monyet. Hahaha. Untuk meredakan tangis si kecil, akhirnya saya memesan satu jagung bakar lagi. Ternyata di warung itu juga menyediakan jagung mentah untuk dibeli pengunjung dan diberikan kepada monyet-monyet yang berada di situ. Suami pun membeli jagung mentah untuk monyet-monyet, agar tidak mencuri lagi makanan pengunjung. Kasihan, sepertinya monyet-monyet itu kelaparan, mereka berebutan dan makin banyak yang keluar dari dalam hutan setelah tahu ada yang memberikan mereka makan.

Tiga dari sekian banyak monyet yang berhasil difoto. Cute, yah? :D

           Kata bapak pemilik warung yang berkumis klimis, “Monyet-monyet di sini mah jinak, gak apa-apa.” Pernyataan itu sebenarnya ditujukan untuk si kecil yang tidak mau lagi duduk di bale, karena merasa takut jagungnya akan diambil lagi oleh si monyet. Hehehe. Jinak iya, kelaparan mungkin.
Waktu sudah menunjukkan delapan lewat, kami pun memutuskan untuk kembali ke tempat parkiran dan pulang. Nampak orang-orang semakin ramai mengunjungi Taman Hutan Raya. Tempat parkiran pun sudah penuh, hingga kami agak sulit untuk keluar dari area parkiran. 


Sebelum pulang, pose dulu di depan tugu Tahura :D
Memang waktu yang tepat ke Taman Hutan Raya adalah pagi sekali, udaranya masih segar, tidak terlalu ramai, dan dapat menikmati pemandangan dalam hutan lebih leluasa.
Kapan-kapan mungkin kami akan mengunjungi tempat ini kembali hanya sekedar untuk melepas kepenatatn oleh kegiatan sehari-hari dan merilekskan mata dengan pemandangan yang masih hijau.
Ada yang mau ikut? :)

You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images