Bincang ASI Dan Postpartum Blues Bersama Orami

       Saya mau sedikit bercerita tentang kehamilan saat mengandung ketiga anak saya. Kalau dilihat dan dirasakan, kehamilan dari setiap an...

       Saya mau sedikit bercerita tentang kehamilan saat mengandung ketiga anak saya. Kalau dilihat dan dirasakan, kehamilan dari setiap anak yang dikandung memiliki cerita dan keadaan yang berbeda-beda. Seperti saat ngidam, kondisi psikis ibunya, dan kebiasaan yang dilakukan saat hamil.
       Pada saat kehamilan pertama, kondisi fisik saya mungkin lebih kuat, karena usia yang terbilang masih muda dan pas untuk usia kehamilan perempuan pada umumnya, 24 tahun. Tapi tidak dengan keadaan psikisnya. Anak pertama, belum ada pengalaman apa pun, kemudian mengalami perubahan kondisi dan suasana yang berbeda. Boleh dibilang baby blues menyerang diri saya saat itu. Eh, tapi apa bener baby blues?
       Belum lagi yang membuat saya bingung saat itu, bayi yang selalu sering menangis, ketika disusui (ASI) diam, begitu ditaruh di tempat tidur, dia nangis lagi. Hingga sepanjang hari bayi menempel pada saya dan saya sulit untuk melakukan apa pun. Sampai saya berpikir, apa ASInya kurang? Dan berbagai pikiran yang ada dalam kepala saya yang membuat saya semakin gak karuan. Apalagi masa pemulihan pasca melahirkan secara secar yang belum pulih betul.
       Lalu apa  yang harus saya lakukan saat itu?
Moms, sebenarnya  apa yang terjadi pada saya bukan sesuatu hal yang aneh. Setiap perempuan pasca melahirkan (apalagi anak pertama) akan mengalami hal itu.        Kebingungan saat menyusui, menghadapi anak yang terus menerus menangis, perasaan bersalah jika terjadi sesuatu pada anak, dan hal lainnya.
Dan keadaan itu yang dinamakan baby blues atau lebih parahnya lagi Post Partum Desperated (PPD). Ups, serem ya kalau udah ngomongin Depresi.
       Itulah yang saya alami saat melahirkan anak yang pertama. Berbeda saat saya melahirkan anak kedua. Saya lebih rileks menghadapinya. Mungkin karena saya sudah berpengalaman dalam menangani anak yang pertama. Jadi tahu poin-poin apa yang harus dan tidak saya lakukan. Dan dalam diri saya pun sudah saya tanamkan sejak hamil, bahwa saya harus tenang menghadapi apa pun keadaan setelah melahirkan nanti. Boleh dikatakan, persiapan secara psikis lebih matang. Lalu bagaimana dengan anak ketiga? Kehamilan anak ketiga, psikis saya sudah benar-benar matang, tapi tidak dengan fisik. Kehamilan yang ketiga ini usia saya termasuk rawan melahirkan, apalagi sudah tiga kali mengalami operasi besar (secar). Dan saya sempat mengalami infeksi pada jahitan bekas operasi.
       Tetapi yang namanya hormon perempuan setelah melahirkan itu gak bisa bohong, sama halnya saat PMS (pra menstruasi), ditahan-tahan, akan muncul juga sisi monster dan melownya. πŸ˜‚
Lebih parahnya lagi, kebanyakan perempuan pasca melahirkan tidak menyadari jika dirinya mengalami PPD. Jadi sebaiknya Perempuan hamil dan akan melahirkan harus tahu fase-fase pasca melahirkan karena hal itu bisa mempengaruhi keluarnya ASI untuk bayi.  Misalnya dengan mengikuti seminar tentang kehamilan dan melahirkan. Dan sebaiknya acara seperti itu tidak hanya diikuti oleh calon ibu, tetapi diikuti calon bapak juga.


       Seperti acara yang diadakan Orami pada tanggal 24 Februari yang lalu. Acara itu mengusung tema "A-Z ASI dan Postpartum Blues." Tema yang menarik untuk saya, mengingat diri saya baru saja melahirkan anak ketiga setahunan yang lalu.
Acara tersebut banyak dihadiri oleh mamah-mamah muda yang baru saja memiliki bayi satu dan ada juga yang baru akan memiliki bayi (sedang hamil besar). Hiks, saya berasa "senior" diantara mamah-mamah itu. 😁

Peserta yang hadir. Gak cuma mamah-mamah, papah-papahnya juga ada😊

       Dan, serunya lagi, acara ini juga dihadiri oleh papah-papah muda. #eh 😁
Iya, sebagian perempuan yang hadir ditemani oleh suaminya.
Nah, gitu dong. Sebagai bapak/suami perlu tahu juga bagaimana mengatasi saat kehamilan dan pasca melahirkan si ibu.

Ria Stefiani, Marketing RS Limijati, Bandung


       Di awal acara, dibuka dengan sambutan dari Ria Stefiani, selaku marketing RS Limijati Bandung. Ya, karena acara tersebut diadakan di RS tersebut. Kemudian dilanjutkan oleh manajer Orami, Ivi, selaku penyelenggara acara. Dan berikutnya dari para sponsor.

Ivi, Manajer Orami, bersama MC


       Acara ini semakin riuh dan seru karena MC (yang saya lupa namanya 😁) membawakannya dengan sangat enerjik.
Gak usah menunggu lama, acara utama pun digelar.
dr. Frecillia Regina, SpA segera mendatangi MC begitu namanya dipanggil untuk menyampaikan ulasan tentang "A-Z ASI".
dr. Frecillia menyampaikannya bikin saya melek mata dan telinga. Gak bikin ngantuk. Beliau mulai dengan pembahasan tentang menyusui. Saya susun aja ya poin-poinnya.

dr. Frecillia Regina, SpA, yang menerangkan tentang ASI dari A-Z


MENYUSUI
Sebelumnya calon ibu, bapak, dan anggota keluarga lainnya harus tahu persiapan apa yang perlu diketahui untuk menunjang masa menyusui si ibu lancar. Bukan persiapan harus minum rebusan air daun katuk, booster-booster ASI, atau tablet penunjang agar ASI keluar deras. Ternyata bukan itu.
Persiapannya adalah pengetahuan tentang ASI. Yaitu:

-Keuntungan Menyusui
Dari sisi bayi, menyusui ASI secara langsung dapat membuat antibodi ke depannya lebih baik. Bayi tidak mudah sakit. Begitu pun untuk ibunya, bisa melindungi ibu dari kanker payudara dan serviks. Sedangkan keuntungan untuk keluarga jadi lebih irit (ini penting banget 😁), tidak perlu menambah biaya dan waktu untuk membeli dan membuatkan susu formula saat bayi nangis atau lapar. Dengan ASI, kelak si bayi akan menjadi generasi yang lebih baik.

-Kerugian Susu Formula
Ternyata dari dr. Frecillia saya baru tahu, kalau susu formula itu sama saja dengan obat, yang kalau penggunaannya tidak sesuai dosis akan terjadi efek samping. Terdengar ekstrim sih, tapi bukan obat keras seperti yang kita bayangkan. Jadi maksudnya, susu formula hanya boleh digunakan saat-saat darurat saja. Misal, saat si ibu bayi sedang dirawat dan sulit untuk menyusui bayinya. Atau bayi mengalami dehidrasi yang cukup parah, sehingga butuh tambahan cairan. Tapi jika ibunya sehat-sehat saja dan bayi merasa cukup dengan ASI, susu formula sebaiknya dihindarkan.
Susu formula juga bisa menyebabkan alergi pada sebagian bayi, infeksi pada pencernaan, konstipasi (BAB keras), obesitas, kanker, dan kerugian botol susu yang menyebabkan perkembangan rahangnya kurang baik.
Seperti yang dikatakan dr.Frecillia, kebanyakan anak-anak yang terkena kanker, riwayat bayinya tidak menyusu ASI tetapi mengkonsumsi Susu Formula.  *Wallahu a'lam bish-shawabi
Ada baiknya kita mencegah dari pada mengobati. Betul? 😊

-Bantuan Keluarga
Bantuan keluarga sangat penting sekali. Untuk suami/bapak, harus siap siaga menjadi bapak ASI. Dukung istri untuk tetap semangat memberi ASI pada bayinya. Selain suami, dukungan keluarga terdekat juga perlu, seperti kakek nenek si bayi. Jangan menciutkan semangat ibu yang ingin memberi ASI eksklusif pada bayinya dengan menyuport memberikan susu formula hanya karena bayi menangis terus. Bisa jadi bayi menangis terus karena penyebab lain. Misal karena popoknya basah.
Dan jika si ibu sudah mulai bekerja, dukungan lingkungan kerja juga penting. Dengan memberikan waktu kepada ibu  untuk memompa ASI selama tiga jam sekali. Hal itu juga untuk menghindari pembengkakan pada payudara ibu.

-Memilih Rumah Sakit
Nah, ini yang penting. Ketika orang tua bayi sudah semangat ingin memberikan ASI eklusif, tapi dari pihak Rumah Sakit malah menyodorkan susu formula kepada bayi dan menjauhkan/memisahkan ibu dengan bayinya. Jadi penting sekali untuk mencari Rumah Sakit yang mendukung IMD, yang begitu lahir si bayi langsung diletakkan di dada si ibu dan biarkan si bayi mencari sendiri puting susu ibu. Dan memberikan fasilitas rawat gabung antara ibu dan bayi, sehingga ibu bisa belajar memahami bayi. Kapan dan apa sebab bayi menangis, merasa lapar, dan sebagainya.

Fiuhhh, apakah cukup info tentang menyusui antara ibu dan bayi? Ternyata belum. Selain memberikan info tentang kenyamanan menyusui untuk ibu dan bayi, dr. Frecilia juga memberikan informasi bagaimana caranya menyapih yang baik dengan penuh cinta. Karena bayi gak selamanya harus menyusui pada ibunya. 

Saat menyapih, bagaimana agar bayi/anak tidak terus menerus ketergantungan menyusui pada ibunya?


       Agar bayi/anak tidak merasa dijauhkan dari puting ibunya, sebaiknya masa menyapih mulai dikenalkan pada saat bayi sudah mulai makan. Jadi, tidak melulu saat bayi menangis ibunya menyodorkan putingnya (maaf, terkesan vulgar😁). Alihkan perhatian pada makanan lain. Berikan ASI pada saat bayi sudah waktunya bobo saja. Jadi saat 2 tahun, bayi sudah benar-benar siap lepas dari ASI dan ibu bayi pun siap melepas bayi tanpa harus ada drama. 😁

Ibu Muchlisa, Dra. Psi

       Selesai sudah masalah tentang ASI.
Kali ini dilanjutkan dengan tema: Postpartum Blues, Pengaruh Kelahiran Bayi dalam Keluarga. Tema ini disampaikan oleh Ibu Muchlisa Dra. Psi.

Hal ini ada hubungannya dengan masalah hormon pada ibu setelah melahirkan.
Jadi perlu kesiapan dalam menyambut kehadiran anggotakeluarga baru.
Seperti persiapan:
-Fisik
-Psikologis
-Ekonomi

Peran keluarga besar pun sangat penting. Khususnya dalam proses:
-Persiapan
-Pengasuhan

Kepribadian dan hubungan dalam keluarga juga perlu diperhatikan, misal:
-Bagaimana hubungan antara suami dan istri
-Kemampuan ibu dalam mengatasi tekanan/perubahan yang dialami
-Kepribadian calon ibu dan ayah

       Jika semua yang tertulis di atas tidak diperhatikan, kemungkinan ibu terkena baby blues atau Postpartum Blues lebih besar. Terkadang persiapan yang tadi disebutkan sudah terpenuhi pun mayoritas ibu mengalami Postpartum Blues itu pasti.
Jika ibu sudah terlanjur mengalaminya, usahakan keluarga medekatinya. Usahakan ibu mengeluarkan/menceritakan apa yang membuatnya depresi. Lebih bahaya jika si ibu memendamnya dan membiarkan depresinya menjalar hingga semakin parah dan sulit untuk ditolong. Dan yang lebih mengerikan, si ibu akan berhalusinasi melakukan hal-hal yang menyakiti diri dan bayinya.

       Ah, saya jadi ingat dengan apa yang saya alami setelah melahirkan anak pertama. Saya tidak tahu apakah saya mengalami baby blues atau tidak. Yang pasti saya waktu itu merasa hopeless saat bayi saya menangis terus dan merasa air susu saya tidak cukup. Kemudian si bayi juga tidak mau minum susu formula. Penolakannya dengan memuntahkan kembali susu formula yang sudah diminumnya. Memang ada baiknya, ketika ibu mengalami hal seperti itu, ada seseorang yang benar-benar mau mendengarkan keluh kesahnya dan tanggapi dengan cukup menjadi pendengarnya saja dulu, bukan menjudge-nya dengan ini itu. Kemudian baru berikan solusinya.
       Di akhir penjelasannya, Ibu Muchlisah memberikan sebuah terapi kecil untuk menghilangkan perasaan buruk dalam diri kita. Caranya dengan mengambil kertas kosong, kemudian kertas itu kita tulis apa pun yang membuat perasaan kita tertekan dan mengusik. Misal penyebab kita kesal, benci, marah, dsb. Kalau sudah ditulis, kemudian kertas itu kita sobek-sobek, lalu buang ke tempat sampah. Niscaya perasaan buruk yang kita tulis tadi hilang bersamaan dengan kertas yg terbuang. Begitu katanya😁cobain, deh.

       Alhamdulillah, acara tentang ASI dan Postpartum Blues selesai dengan lancar. Diakhiri dengan acara tanya jawab.
Kesimpulannya, apabila ibu/bapak yang sedang menunggu kehadiran seorang bayi dan baru memiliki bayi, kemudian ingin bertanya masalah seputar itu, sebaiknya langsung tanyakan kepada ahlinya langsung. Agar informasi yang diperoleh tidak simpang siur.

Sesi tanya jawab 

       Di paling akhir acara, ada pembagian hadiah dari sponsor untuk peserta yang beruntung dan sesi foto bersama seluruh peserta. Setelah itu acara selesai, ditutup dengan makan siang. 😊

Foto bersama seluruh peserta


       Demikianlah informasi yang saya dapatkan dari acara Orami dengan tema A-Z ASI dan Postpartum Blues. Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat untuk mamah-mamah muda dan papah-papah muda yang  akan dan baru memiliki bayi. πŸ˜‰




You Might Also Like

7 komentar

  1. Ulasannya lengkap dan informatif. Saya jadi belajar banyak...

    ReplyDelete
  2. Aku rada bingung pas ikut acara ini karena belum punya pengalaman yang related hihihi tapi ilmunya nampol banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Simpen ilmunya, Efi. Siapa tau nanti bermanfaat. Hehe

      Delete
  3. Wah, telat aku baca tulisan ini. Dulu waktu melahirkan anak keempat, aku sering kebingungan asi yang sedikit. Stres banget. Semoga banyak busui yang baca tulisan ini. Supaya tercerahkan. :)

    ReplyDelete
  4. Iya benr banget nih, dulu aku suka gituh kalo ada apa2 yang bikin kesel suka di tulis, trus di buang deh..
    Kalo sekarang pun gitu, nulis2 di draft yg bikin pikasebelen, udah lama baru dimasukkin trash hahaa..beres deh..

    ReplyDelete
  5. Jadi ingat masa-masa menyusui anak2 ku... Pengalaman sih anak2 yg full ASI memamg lebih sehat dan pinter hehe..

    ReplyDelete

Flickr Images