Koki Koki Cilik, Kompetisi Yang Diwarnai Persahabatan

  Picture by google             Beberapa waktu yang lalu, si tengah mengajak saya untuk nonton film Koki-Koki Cilik . Tadinya saya me...

 
Picture by google
   
        Beberapa waktu yang lalu, si tengah mengajak saya untuk nonton film Koki-Koki Cilik. Tadinya saya meminta dia untuk nonton film Kulari Ke Pantai. Ternyata selain si tengah ingin nonton Koki-Koki Cilik, film Kulari Ke Pantai belum tayang di bioskop yang kami datangi. Akhirnya kami nonton film pilihan si tengah.


Si Tengah Dan Si Kecil yang siap menonton Koki Koki Cilik


        Durasi film Koki Koki Cilik berjalan sekitar dua jam dengan mengajak si kecil juga untuk pertama kalinya. Saya pikir ya mumpung filmnya pure tentang anak-anak, jadi berharap gak ada yang julid atau nyinyir karena bawa anak usia 1,5tahun ke bioskop. Hehe. Tapi akhirnya dia malah tertidur di dalam.๐Ÿ˜
        Hmm, ngebayangin nonton film anak-anak kayak gini bakal ngebosenin buat saya. Ternyata, enggak juga tuh.
Ceritanya cukup seru, apalagi banyak menampilkan berbagai kegiatan masak-masak (ya iyalah judulnya aja  Koki Koki Cilik๐Ÿ˜)  dan juga sedikit tips memasak dari Chef Rama. Upps, Chef Rama? *kemudian saya tersipu malu.
Itu chef kok cool banget ya, mau lah saya diajarin masak sama dia. #eh ๐Ÿ˜

Chef Rama sedang mengajarkan memasak kepada Bima (jangan galfok sama gondrong ya, ya๐Ÿ˜‚)
Picture by google


        Secara keseluruhan cerita film ini cukup masuk akal. Eh, gak juga ding, saya agak terkesima dengan biaya untuk ikutan Cooking Camp tersebut, yaitu sebesar sepuluh juta rupiah.  Wajar kali ya, karena Cooking Camp merupakan kegiatan belajar memasak di sebuah tempat perkemahan yang luas milik Pak Malik, pensiunan chef yang juga pencetus acara tersebut. Pak Malik tinggal bersama cucunya, Key. Di sana juga para peserta mendapat fasilitas yang tercukupi, seperti makan, kemah, bahan-bahan untuk memasak, dan lain-lain.

Suasana di Cooking Camp milik Pak Malik
Picture by google


------------------------------------------------------------------------

        Cerita film ini diawali dengan Bima, anak usia 10 tahun, yang memiliki obsesi untuk mengikuti Cooking Camp, sedangkan dia dari kalangan keluarga menengah ke bawah. Ibunya hanya seorang penjahit rumahan yang tinggal di kawasan pasar. Untuk itu dia berusaha mengumpulkan biaya Cooking Camp dengan menabung selama bertahun-tahun,
Singkat cerita, setelah Bima berhasil menabung dan memperoleh hasil sebesar biaya ikutan Cooking Camp, ternyata harganya naik. Masih ada kekurangan yang jumlahnya gak sedikit buat Bima dan ibunya.
        Lalu bagaimana nasib Bima? Apakah Bima masih bisa mengikuti kegiatan tersebut?
Alhamdulillah,  pedagang-pedagang di Pasar, tempat biasa Bima belanja sayuran yang juga tetangganya, mau membantunya. Mereka patungan untuk menutupi kekurangan biaya ikutan kegiatan  tersebut.
Alhasil, Bima pun jadi bisa ikut kegiatan Cooking Camp dan menjadi jalan untuk memenuhi janji pada bapaknya yang sudah meninggal, yang pernah berprofesi sebagai Tukang Masak (koki), untuk membuka kembali  rumah makan milik bapaknya. ๐Ÿ˜Š

Bima dan ibunya di film Koki Koki Cilik
Picture by google


        Setelah di perkemahan,  tenyata tidak seindah yang Bima bayangkan. Mereka yang kebanyakan dari keluarga berada menganggap remeh kepada Bima.
Pembullyan pun terjadi. Karena akhir dari kegiatan tersebut adalah kompetisi, di mana akan memilih siapa yang akan menjadi juara tahun ini, maka para pesertanya pun berambisi untuk menjadi pemenang.
Sebelumnya mereka dilatih cara memasak selama beberapa minggu sebagai modal untuk menjadi pemenang.
Tapi meski ada yang tidak menyukai Bima, masih  ada beberapa peserta yang mau berteman bahkan bersahabat dengannya, seperi; Kevin, Alva, Niki, dan Melly.

Bima, Alva, Niki, Melly, dan Kevin, kompetisi yang diwarnai persahabatan.
Picture by google


        Sedangkan Audrey, salah satu peserta Cooking Camp yang menjadi juara bertahan, sangat berambisi untuk menjadi juara lagi. Karena gelarnya saat ini sangat menentukan pertemuan dia dengan papanya di Belanda. "Kalau tidak juara, jangan harap bisa bertemu papa kamu." Begitu penuturan mamanya. Sadis, ya?
Penekanan itulah yang membuat Audrey harus menjadi juara bercampur kesal dengan mamanya. Karena  untuk memenangkan kompetisi ini bukan keinginan dari dirinya sendiri, tapi karena ambisi mamanya. Dan hal itu membuat dia lebih suka menyendiri dibanding berkumpul dengan teman-temannya yang lain. Bima yang supel, berusaha mendekati Audrey untuk bisa menjadi temannya. Akhirnya Audrey pun mau bercerita banyak pada Bima tentang keinginan dia yang sebenarnya dan memasak bukan passionnya.

Audrey dan mamanya di film Koki Koki Cilik


        Sedangkan Bima, memenangkan kompetisi adalah untuk bekal dia  memenuhi janji  pada bapaknya. Sayangnya, pengetahuan Bima tentang memasak tidak sebanyak Audrey. Seperti satu kejadian, saat Pak Malik dan Chef Grant memberi tantangan pada semua peserta untuk membuat Sushi. Bima kebingungan, karena selama ini dia tidak tahu bagaimana rupa Sushi. Akhirnya yang dia buat adalah Lemper. (Wakakak, pas lihat kejadian ini saya jadi inget Mak Nchie๐Ÿ˜‚)
Karena itulah Bima meminta Rama, salah satu  pekerja sebagai pencuci piring di Cooking Camp yang sering terlihat menyendiri dan pemurung, untuk mengajarinya memasak. Kebetulan Bima pernah melihat Rama memasak dengan cekatan di rumahnya di pelosok area Cooking Camp.
Pantas saja, ternyata dulu Rama ini adalah seorang Chef restoran ternama, kemudian dipecat karena suatu kejadian yang bukan karena perbuatannya hingga membuat dia harus berurusan dengan hukum.

Bima dan Audrey, dua peserta yang tersisa untuk masuk babak final.
Picture by google


        Konflik pun terlihat, ada hubungan antara Rama dan Dian (eh, gue?๐Ÿ˜‚), mamanya Audrey. Hubungan mereka kurang baik dan berkaitan dengan pemecatannya dulu di sebuah restoran. Karenanya Rama ingin membalas dendam dengan mengajari Bima memasak agar menjadi pemenang di kompetisi ini, bukan Audrey.
        Film ini juga diselingi dengan kelucuan-kelucuan ulah anak-anak. Seperti saat Bima dan beberapa temannya mengambil diam-diam domba maskot Cooking Camp di kediaman Chef Grant. Dan kelakuan Chef Grant yang konyol saat mencicipi hasil masakan Bima dengan lahap, yang awalnya dianggap remeh oleh Chef Grant. Juga kelakuan Melly, salah satu peserta Cooking Camp dengan gaya centilnya, yang bikin film ini jadi penuh tawa. Dan keluguan Niki yang diam-diam menaruh perhatian pada Bima. Ada Kevin yang mulutnya tidak pernah berhenti mengunyah. Dan Alva yang tidak pernah jauh dari Kevin.

Kevin Dan domba maskot Cooking Camp
Picture by google


        Selain itu, film ini juga memiliki pesan yang bermanfaat bagi anak-anak, seperti perkataan Audrey saat ditanya Pak Malik visi dari kegiatan Cooking Camp, "Menang kalah tidak masalah, yang penting fare."
Atau saat Bima merasa sedih kehilangan buku resep bapaknya yang diambil oleh Oliver yang kurang menyukainya. Buku itu selalu dibawa Bima untuk dijadikan contekan resep saat memasak. Ketika Bima merasa tidak Ada harapan lagi dengan hilangnya buku itu,  Rama menasehatinya, "Memasak jangan bergantung pada buku resep apa pun, tapi dengan hati. Karena hasil masakan hanya bisa dirasakan dengan lidah kita, bukan karena buku."
Juga ungkapan Kevin, salah satu peserta Cooking Camp, yang bikin tergelitik, "Gak apa-apa gak bisa masak, yang penting bisa makan." ๐Ÿ˜ Ada benarnya juga sih. Bayangin kalau kita bisa masak, tapi gak bisa makannya. Percuma kan ya? Hihi
Terlihat juga kekompakan teman-teman Bima yang mendukungnya untuk menjadi juara, salah satunya dengan cara mentransfer energi dengan menyentuh punggung dan menekannya kuat-kuat (cara anak-anak aja ini sih๐Ÿ˜),  tujuannya agar Bima menjadi semangat.
          Di akhir cerita film ini tersirat, kemenangan bukanlah segalanya, yang lebih penting adalah sebuah persahabatan. Dan itu yang ditunjukkan Audrey pada Bima.
------------------------------------------------------------------------
        Menurut saya film ini bagus untuk ditonton anak-anak, hiburannya dapet, pengetahuan (terutama memasak) juga dapet.
Oh iya, soundtrack film ini yang berjudul "Oh, Senangnya" juga asyik didengar, si tengah dan si kecil suka banget.

        Gimana, mau nonton filmnya juga? Yuk deh, buruan sebelum habis masa tayangnya di bioskop. ๐Ÿ˜Š

Para pemain dan kru film Koki Koki Cilik
Picture by google


Para Pemain di Film Koki Koki Cilik:
Farras Fatik (Bima)
Chloe Xaviera (Audrey)
Alifa Lubis (Melly)
Marcello Mahesa (Kevin)
Ali Fikri (Alva)
Patrick Miligan (Oliver)
Cole Gribble (Ben)
Clay Gribble (Jody)
Romaria Magdalena (Key)
Clarice Cutie (Niki)
Aura Kasih (Dian/Mama Audrey)
Morgan Oey (Rama)
Agus Ringgo (Chef Grant)
Fanny Fabriana (Aini/Ibu Bima)
Adi Kurdi (Pak Malik)







You Might Also Like

31 komentar

  1. mau nonton ini sama Neng Marwah belum terlaksana saja hahah, nunggu dvd nya saja deh

    ReplyDelete
  2. Seneng ih Bioskop semarak sama film Indonesia, apalagi film anak... Saya belum sempet nonton tapi ngedenger cerita keponakan katanya seru!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya seru. Anakku aja sampe ngulang2 lihat postingan IGnya๐Ÿ˜

      Delete
  3. Wah bisa nih ngajakin Azril, dia hobi masak, walau cowok juga. Tapi sejujurnya aku belum pernah ngajakin anak-anak nonton bioskop, wuhehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iih, Azril keren suka masak. Nonton film ini pasti suka deh๐Ÿ˜Š

      Delete
  4. Ini yg iklannya "Gapapa nggak bisa masak, yg penting bisa makan" itu yaa. Akram sampe hafal banget dan pwngin nonton

    ReplyDelete
  5. Yeaa skrg mulai banyak lg film anak yg berkualitas. Pgn nonton ini sm kulari ke pantai. Tp punya bayi jd blm bisa nonton ke bioskop hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, aku pun setelah anak usia 1,5th baru bisa ke bioskop lagi, itu juga harus film yg ramah anak2๐Ÿ˜

      Delete
  6. Hiihi...lucu yaa...
    Kisahnya menarik dan inspiratif.

    Kepingin juga ajakin anak-anak nonton.

    ReplyDelete
  7. Salah satu film anak yang wajib ditonton ini. Bagus banget. Seneng deh tahun ini udah 2 film anak yang keren dan anak-anak banget. Semoga ke depannya semakin banyak. Miris kalo liat anak-anak nontonnya film orang gede. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Teh. Kalau bisa jangan pas liburan aja baru muncul film anak2.

      Delete
  8. Aku selalu merasa terintimidasi kalau nonton acara chef2an, apalagi kalau pesertanya anak2. Soalnya skill mereka kayak ada di alam khayal bagi aku yang cuman bisa numis dan goreng telor inihh... hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Gak apa2, Teh. Kan bisa belajar dg nonton film masak๐Ÿ˜

      Delete
  9. Banyak nilai positif ya di film ini, jadi pengen nonton bareng anak-anak, hehehe itu biaya camp memasaknya lumayan juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Teh. Untung biaya nonton bioskopnya gak segitu ya๐Ÿ˜‚

      Delete
  10. Setuju bgt sm kevin, hihihi... Pgn nonton ih, kemarin jav nonton berdua aja sama ayahnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya, Kevin mewakili emak2 yang doyan makan.
      Loh, kenapa gak ikutan nonton, Teh? ๐Ÿ˜

      Delete
  11. Waah pengen nonton. Jarang ada film Indonesia tentang memasak, apalagi anak2. ๐Ÿค— jadi barometer buat anak2 yg hobi masak juga. nilai nilai filmnya juga keren abiss.. ๐Ÿค—

    ReplyDelete
  12. Aduh harus nonton nih
    Kemarin banyak yang bilang bagus
    Ditambah reference mbak Dian, tambah mupeng deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Ambu. Tapi kayaknya sekarang udah gak tayang lagi di bioskop๐Ÿ˜

      Delete
  13. Wah ada list untuk anak² nonton ke bioskop. Belum pernah ngajak anak² nonton film Anak Indonesia di bioskop ��

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak.ini film maksudnya untuk ngisi waktu liburan sekolah kemarin. hihi

      Delete
  14. Seneng banget ya teh sekarang udah makin banyak film anak-anak Indonesia yang bagus-bagus. Aku jadi inget dulu nonton petualangan Sherina ๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  15. Wah, padahal pengen banget nonton ini bareng Fathir tapi gak sempet huhuhu.

    Padahal mama-nya Fathir pengen lihat Morgan tuh hehehe

    ReplyDelete
  16. Baca reviewnya jadi nyesel belom nonton ini. Padahal waktu itu ada nobar sama komunitas dan udah mau fix ikut, hiks belom rezeki. Nanti deh nunggu ada di tv, hehehe *kelamaan.

    ReplyDelete
  17. Soalnya masih sepaket sama bayi hehe...

    ReplyDelete
  18. Sayang saya belum sempat nonton. Semoga akan ada film anak yg bagus lagi kelak.

    ReplyDelete

Flickr Images