Kue Balok Legend

Assalamualaikum . Hallo, temen-temen, khususnya buat temen-temen yang doyan jajan dan makan. Kali ini saya mau bahas Best Food in Town. ...

Assalamualaikum.

Hallo, temen-temen, khususnya buat temen-temen yang doyan jajan dan makan.
Kali ini saya mau bahas Best Food in Town. Yang mana ini merupakan kolaborasi saya dan Bandung Hijab Blogger.




Hmm, ngomongin makanan terbaik/terenak di kota yang saya tempatin sekarang ini, yaitu Bandung, kayaknya banyak banget, ya. Eh, tapi makanan enak itu tergantung selera masing-masing, sih. Gak bisa dipukul rata. Mungkin buat saya enak, belum tentu buat teman-teman enak juga.

Kalau saya tanya teman-teman,
apa, sih, yang terlintas di pikiran kalian kalau berbicara tentang Bandung?
Yup, salah satunya ya  makanan atau tempat kuliner terbaru. Bandung itu boleh dibilang surganya makanan. Dan orang Bandung juga dikenal kreatif dalam menciptakan makanan baru. Contohnya; Cilok, Seblak, Cimol, Kue Balok Brownies, dan masih banyak lagi.
Oh iya, khas oleh-oleh Bandung juga banyak. Ada batagor, Brownies Panggang, Brownies Kukus, Bolu Susu, dan Kue Balok. Atau masih ada yang mau nambahin lagi untuk oleh-oleh Bandung? ๐Ÿ˜Š

Tapi kali ini saya mau ngomongin salah  satu makanan yang banyak dijual dan merupakan ikon makanan dari Bandung yang sempat ngehits saat kue ini menjadi dagangan Kang Komar, salah satu pemain di sinetron Preman Pensiun di televisi.
Iyes, Kue Balok.  Meskipun sebenarnya makanan ini konon bukan asli dari Bandung, tapi masyarakat sudah melabeli kalau kue ini berasal dari Bandung, Jawa Barat.
Lalu sebenarnya seperti apa dan dari mana, sih, asal Kue Balok itu?



ASAL MULA KUE BALOK
Konon, Kue Balok awal mulanya ada saat zaman penjajahan Belanda. Di mana juru  masak lokal yang bekerja untuk membuat ransum, menciptakan resep  kue yang teksturnya padat. Tujuannya adalah agar cepat kenyang meski cuma makan satu. Nah, kue padat itu lah yang disebut Kue Balok. Bahkan ada yang menyebut Kue Balok dengan Jibeuh, Hiji ge Seubeuh (makan satu juga kenyang) Hahaha.
Gak heran kalau dulu kue ini banyak diminati kalangan menengah ke bawah. Karena irit, cukup satu bisa mengganjal perut yang lapar.
Kue Balok juga dulu banyak diproduksi di daerah Garut. Setelah itu, baru masuk ke Kota Bandung. Nah, ternyata Kue Balok itu aslinya dari Garut. Hehehe.
Tapi sama aja lah ya, asal Garut atau Bandung, keduanya sama-sama ada di Jawa Barat. Hihihi.



Dulu waktu pertama kali mencoba, saya  kurang suka dengan Kue Balok. Ya, karena itu tadi, terlalu padat dan bikin kenyang.
Seiring berjalannya waktu dan para pencipta resep bereksperimen dengan resep asli yang dimodifikasi, maka sekarang ini banyak sekali macam-macam jenis Kue Balok. Dari rasa hingga teksturnya yang beraneka ragam.
Ada Kue Balok Brownies, Kue Balok Tiramisu, Greentea, Coklat, dan cara pemanggangannya yang betul-betul matang atau setengah matang.
Terus terang, saya lebih menyukai Kue Balok dengan pemanggangan yang setengah matang. Karena tidak terlalu padat dan lebih lembut ketika digigit. Dan ada sensasi lumernya untuk topping Tiramisu atau Greentea.
Mau tahu di mana bisa dapetin Kue Balok dengan rasa yang beraneka ragam dan dua macam cara pemanggangannya?
Yuk, lanjut bacanya, ya๐Ÿ˜Š


Kue Balok Kang Didin dengan rasa/topping  Kacang Coklat, Kismis,  Keju  matang



Kue Balok Kang Didin dengan rasa/topping  Kacang, Tiramisu,  Greentea Setengah matang



KUE BALOK KANG DIDIN
Kalau kamu tinggal di daerah dekat Bandara Hussein Sastranegara, pasti sering mendengar atau tidak asing lagi dengan Kue Balok Kang Didin. Kue Balok yang berdiri sejak tahun 50-an ini (wow, legend juga๐Ÿ˜ฑ), lokasinya tepat di JL. Abdurrachman Saleh No. 52 Kec. Cicendo, Bandung atau seberang bimbingan belajar Neutron.
Kalau dari tempat saya di daerah Sederhana,Sukajadi, sekitar 2,5km.


Nampak depan warung Kue Balok Kang Didin
(Foto dari Google search)

Suasana warung Kue Balok Kang Didin di bagian dalam
(Foto dari Google Search)



Suasana warung Kue Balok Kang Didin
(Foto dari Google Search)


Kue Balok Kang Didin buka selama 24 jam. Dan toppingannya pun beraneka ragam.
Ada keju, Coklat, Coklat Kacang, Kismis, Greentea, Tiramisu, Selai Nanas, Selai Blueberry, Selai Strawberry, dan original/polos.
Begitu juga cara pemanggangannya ada dua pilihan, matang atau setengah matang.
Saya membeli Kue Balok Kang Didin dengan menggunakan jasa ojek online. Karena saya selalu tidak sempat  untuk langsung ke tempatnya sekarang-sekarang ini.
Kalau melewati tempat/lapaknya, sih, udah sering banget.
Lapak Kue Balok Kang Didin yang terbilang sederhana ini ramai dikunjungi saat malam hari. Mungkin karena harganya yang terjangkau. Apalagi ditemani minuman hangat yang juga disediakan juga di sana. Seperti, Kopi Jahe Merah, Kopi Jos, Bandrek, Bajigur, dan minuman lainnya.
Untuk harga Kue Balok jika memesan melalui ojek  online, harga rata-rata Rp. 4.200/pcs. Sedangkan untuk yang polos/original harganya Rp. 3.000.
Tapi jika datang langsung, harga rata-rata Rp. 2.500- Rp.3.000.
Saya membeli beberapa Kue Balok dengan toppingan Greentea setengah matang, Tiramisu setengah matang, Kacang Coklat setengah matang, Kacang setengah matang, Kismis matang, Original matang, dan Keju matang.
Rasa yang paling saya suka diantara yang saya beli adalah Greentea. Apalagi saya pesan yang  dipanggang setengah matang. Duh, enak banget. Jadi kepengen beli lagi, deh, kapan-kapan. Hehehe.




PEMBUATAN KUE BALOK
Kalau sudah mencicipi Kue Balok, kemudian ditanya oleh orang yang belum mencicipinya, "Seperti apa, sih, rasanya?"
Kalau menurut saya, Kue Balok ini sama seperti kue bolu/cake pada umumnya. Bahan-bahannya juga tidak jauh beda hanya seputaran tepung, gula, margarin, dan telur. Hanya yang membedakannya, K
ue Balok ini tidak dipanggang menggunakan oven, melainkan menggunakan cetakan khusus yang menyerupai cetakan kue pukis, tapi ukurannya lebih besar. Cetakan ini diletakkan di atas api langsung dengan menggunakan media kompor atau arang.

Cara pemanggangan Kue Balok dengan cetakan khusus.
(Foto dari sini)

Bisa aja, sih mencoba membuat sendiri di rumah. Tapi ya harus punya cetakannya terlebih dahulu. Toh, kalau lihat bahan-bahan yang digunakan sepertinya mudah. Hehehe.


Nah, gimana,  Temen-temen? Mau mencicipi Kue Balok dengan cara membeli melalui ojek online, datang langsung, atau membuat sendiri? Mau dipanggang matang atau setengah matang? ๐Ÿ˜ Bebas, ya. Yang penting kalau membeli, jangan lupa bayar. Hahaha.
See you, Guys๐Ÿคฉ



Sampai ketemu di collab berikutnya bareng Bandung Hijab Blogger๐Ÿ˜˜

You Might Also Like

12 komentar

  1. Sejujurnya belom pernah nyicip kue balok yang beneran aslinya. Mungkin abis ni kita meluncur ke tkp ya nyari kue balok yg menggoda itu.. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  2. ku balokkk suka bangetttt....enak nihh..wajib nyoba nihhh

    ReplyDelete
  3. lengkap bgt teh aku baru tau juga nih sejarah kue balok, selama ini cuman menikmati aja haha

    ReplyDelete
  4. Duuuh kue baloknya bikin kabitaaa. Apalagi dimakan hangat2 pas musim hujan...

    ReplyDelete
  5. Setiap inget kue balok selalu inget Bandung...apalagi dulu jaman di Jatinangor suka banget jajan kue balok yang lumer-lumer gitu hmm yummy

    ReplyDelete
  6. Salah Satu mak favoriteeee.. Kalau angeut2 tuh Enak bangeut,, aku suka beli Daerah Kopo Emanuel.. Endesss

    ReplyDelete
  7. Waah perlu didatengin nih kue balok kang Didin. Apalagi 24jam. Menggiurkan sepertinya teh

    ReplyDelete
  8. Aku mah suka nya kalo setengah matang dan masih lumerrrr toppingnya..duh ngilerr

    ReplyDelete
  9. Aku juga suka beli kue balok itu kalo di garut yaampun setengah mateng udh paling mantap

    ReplyDelete
  10. Akupun dulu ga terlalu suka sama kue balok karena teksturnya yg padat. Ga cocok dibilang cemilan soalnya bikin kenyang :)) Tapi setelah coba kue balok lumer.. Duhh, skrg jadi suka banget sama kue ini. Apalagi makannya ditemenin teh tawar angettt hmmm~

    ReplyDelete
  11. Wah aku belom pernah coba nih kue balok kaya gini. Kayanya enak dimakan panas-panas sambil ngeteh ya.

    ReplyDelete
  12. Sering banged lewat sini, tapi malah enggak pernah makan d sana, sering ny d beliin...๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

    ReplyDelete

Flickr Images