Bahasa Cinta Untuk Anak.

 Beberapa hari terakhir ini, saya sempat baca berita yang cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Tentang pernyataan seorang YouTubers ...

 Beberapa hari terakhir ini, saya sempat baca berita yang cukup ramai diperbincangkan di media sosial. Tentang pernyataan seorang YouTubers perempuan yang menetap di Jerman, sepertinya dia dikenal juga sebagai penyanyi dan penulis buku. Dia menyatakan bahwa dia menganut child free

Apa, sih, Child Free? Mungkin garis besarnya adalah keinginan seseorang atau pasangan yang sudah menikah untuk tidak ingin memiliki anak.

Sebenarnya bebas-bebas aja dia mau punya anak atau tidak ada keinginan punya anak. Tapi, sebaiknya gak perlu lah diungkapkan di ranah publik. Apalagi dia seorang YouTubers terkenal dan sosok anak muda yang memiliki followers yang cukup banyak. Tidak menutup kemungkinan jika para followers-nya akan mengikiti pemikiran seperti dia. Dia beralasan bahwa dia tidak ingin merasa terbebani dengan keberadaan anak, dengan memikirkan bagaiman sekolah si anak, masa depan anak, dan sebagai ya. 

Dan yang lebih saya sesali lagi adalah dengan  jawaban dia saat ditanya jika suatu saat dia diberi kepercayaan untuk hamil dan memiliki anak, bagaimana? 

Dia menjawab, "Di kamus hidup gue, "tiba-tiba dikasih" is very unlikely. IMO lebih gampang ga punya anak dari pada punya anak. Karena banyak banget hal preventif yang bisa dilakukan untuk tidak punya,"

Wow, jawabannya sangat meyakinkan sekali. Dia lupa, kalau Maryam bisa punya anak tanpa ada suami. Dan itu atas kehendak Allah. Apalagi dia yang memiliki suami. Apa pun kehendakNya, kalau terjadi ya terjadilah. 

Buat saya, pernyataannya itu sangat menyedihkan bagi para pasangan yang belum dikaruniai anak cukup lama. Bahkan banyak dari mereka yang berusaha melakukan treatment demi buah hati hadir di keluarga kecil mereka. Ada juga yang sampai mengadopsi. 

Saya pribadi, kehadiran anak membuat suasana rumah jadi semakin hidup. Walau kadang anak suka bikin jengkel. Tapi sebenarnya kejengkelan orangtua terhadap anak itu karena kurang memahami keinginan si anak. Orangtua biasanya sering nge-bossy terhadap anak. Memerintah ini, melarang itu, dan membebani dengan sederet nasihat yang harus dipatuhi si anak. Hmm, ternyata berat juga ya jadi anak. Hehe. 

Sebenarnya ada komunikasi dengan anak, yang membuat si anak merasa diakui keberadaannya, bukan sekedar harus menuruti apa kata orangtuanya. 

Bahasa Cinta kepada anak. Biasanya orangtua atau anak merasa canggung untuk saling mengatakan langsung "I Love you". Ada hal lain yang orangtua tidak tahu bahasa cinta yang diinginkan anak. 

Menurut seorang konselor dan penulis The 5 Love Language, Gary Chapman menjelaskan; ada lima bahasa cinta yang bisa diungkapkan seorang anak, yaitu sentuhan fisik, hadiah, kata-kata positif, quality time, dan acts of service (memberikan bantuan).

Berikut sedikit penjelasan dari point-point di atas: 

~Sentuhan Fisik

Saat Bayi, bahasa cinta pertama kali yang didapat si anak adalah sentuhan fisik. Entah itu berupa pelukan, sentuhan halus, atau ciuman. Bahkan saat beranjak besar, sentuhan fisik masih diperlukan oleh anak. Saat anak ingin berangkat sekolah, beri dia pelukan atau sentuhan tangan dengan lembut. Anak saya yang usianya lima tahun, kerap kali meminta pelukan dari saya dan ayahnya. Minimal sehari satu pelukan. Dan itu memang memberi efek yang positif. Anak terlihat lebih ceria dan percaya diri. 

~Kata-kata Positif

Siapa sih yang gak suka dipuji? Kayaknya setiap orang suka sekali dipuji. Jangankan orang dewasa, anak-anak pun sangat suka dengan pujian. Nah, pujian ini bisa jadi merupakan bahasa cinta untuk si kecil. Apalagi saat pujian itu diutarakan kepada si kecil, rona wajahnya berubah ceria. 

~Pemberian Hadiah

Pemberian hadiah gak harus saat si anak berulang tahun. Ketika dia berhasil melakukan tugas ringan, gak ada salahnya kita berikan dia hadiah. Gak perlu hadiah dengan barang mewah dan mahal. Pergi ke taman bermain atau membuatkan makanan kesukaan kecil, bisa jadi pilihan hadiah. Anak pasti bahagia dan itu merupakan bahasa cinta untuknya.

~Quality Time

Bahasa cinta selanjutnya adalah Quality time. Anak akan merasa dicintai jika orangtua memberikan waktu luang untuk bermain bersamanya. Atau bisa juga dengan membaca buku cerita bersama. 

~Act of Service

Satu lagi bahasa cinta untuk anak adalah dengan perbuatan. Misal, membantu anak belajar. Bahkan anak merasa dicintai dengan meminta bantuan kepada orangtuanya, kemudian orangtua menanggapinya dengan baik.


Nah, itu beberapa bahasa cinta yang sering diungkapkan untuk dan kepada anak. Gampangkan? Jadi kayaknya tidak ada orangtua yang merasa terbebani dengan keberadaan anak atau sebaliknya anak merasa terbebani dengan sikap orangtua yang proteksi kepadanya. 

Jadi gimana? Childfree or not? Ya, itu sih terserah kamu aja.๐Ÿ˜‰


Tulisan ini merupakan kolaborasi dengan Bandung Hijab Blogger




You Might Also Like

0 komentar

Flickr Images